Melirik Serpian Keceriaan Warga Momuna Menikmati Rumah Mungil Ditengah Alam Belantara

“Saya sempat melirik sembari menikmati senandung jangkrik merekam serpian kegembiraan dan keceriaan warga suku Momuna, di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo.  Dari jarak 20 meter, saya sempat terdiam sejenak. Sebelum, saya bersua dan bercakap-cakap dengan mereka. Ada warga yang hilir mudik seraya menatap rumah mungil melintasi lorong  jalan diantara rumah mungil itu. Anak-anak mereka pula ada yang bermain bola.  Suasana itu  sangat mengasyikan. Namun, entalah! Apakah mereka benar-benar menyambut dengan sukacita rumah bantuan itu atau nanti ada sesuatu yang hilang dari kebiasaan mereka?” Mari kita ikuti petikan suara mereka dan komentar dari satu dua sumber yang direkam media ini.”

SENJA, Jum’at (29/6/2018) lalu, batin saya bergelora dan pikiran berkecamuk menyaksikan jejak-jejak serpian keceriaan dan harapan warga suku Momuna di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo. Karena, jejak kehidupan sosial mereka tidak pernah tercatat dalam sejarah. Kecuali, saya mengetahui kisah mereka dari catatan para wisatawan yang mengisahkan tentang warga suku Momuna sebelumnya berumah di atas pohon. Kini, mereka diupayakan Pemerintah daerah dan Pusat memiliki rumah, rumah  bantuan. Warga Momuna adalah bagian dari 14 suku yang mendiami Kabupaten Yahukimo. Mereka pemilik hak ulayat tanah dalam pusat Ibu Kota Dekai-Kabupaten Yahukimo.

Petualangan saya memandang keceriaan warga Momuna baru saja dimulai dan belum mencapai akhir. Betapa, saya terkejut ketika salah satu warga mengakui kalau rumah mungil itu diperuntukan khusus bagi warga Momuna. Itu berarti, warga 13 suku lain dari berbagai pedalaman Yahukimo yang menetap di Dekai tidak memiliki hak menikmati rumah bantuan itu.

“Rumah-rumah ini khusus bagi kami dari suku Momuna. Yang bilang itu Bupati Yahukimo, Abock Busup, MA. Bupati bilang ini sebagai simbol dan bentuk penghargaan dari pemerintah terhadap keiklasan warga suku Momuna melepaskan sejumlah areal tanah adat warga suku Momuna untuk membangun pusat Ibu Kota Dekai. Yang saya tahu seperti itu. Dan rumah-rumah ini bantuan dari Presiden. Tetapi, Bupati Yahukimo yang mengatur, siapa yang berhak menempati rumah-rumah ini,” kata salah satu pemuda asal suku Momuna  yang mengaku bernama Agus kepada media ini, Jum’at (29/6/2018) lalu.

Dia mengaku senang dan bangga terhadap pemerintah daerah dan Pusat. “Saya dan warga yang lain sangat senang. Pemerintah bisa membantu menyediakan kami fasilitas tempat berlindung. Rumahnya dibangun sangat bagus dan pemerintah membangun rumah-rumah ini tidak jauh dari kebiasaan kami sehari-hari, dibangun tanpa membongkar hutan. Jadi, kami keluar rumah langsung masuk hutan. Kecuali, kami harus membiasakan diri membuang kotoran dan mandi dalam satu ruang yang sudah tersedia kamar mandi dan WC,” kata Agus polos menjawab pertanyaan media ini.

Ketika dikonfirmasi kebenaran pernyataan Agus kepada Bupati Yahukimo, Abock Busup, MA membenarkan hal itu. “Itu benar! Perumahan bantuan yang sama ada beberapa lokasi. Itu perumahan bantuan dari Kementrian PUPR tahun anggaran 2018. Kalau saya tidak salah nanti cek lagi ya di bagian Perumahan dan Pemukiman. Jumlahnya sekitar 50 unit yang dibangun di Distrik Dekai serta yang lain tersebar di beberapa Distrik pedalaman Yahukimo. Besar dan type yang sama. Rumah-rumah bantuan di Distrik dekai khusus bagi warga Momuna. Saya sudah sampaikan kepada instansi terkait soal lokasi pembangunan rumah bantuan itu dan designnya tidak boleh jauh dari kebiasaan warga setempat. Supaya warga merasa tidak asing. Mereka perlahan-lahan bisa belajar menyesuaikan kenyamanan menempati rumah-rumah itu dibanding dengan rumah tradisional yang mereka bangun sendiri,” kata Abock berapi-api, di Kediamannya, Senin (1/7/2018) lalu.

Menurut salah satu tokoh intelektual muda yang juga salah satu Kepala Bidang di Dinas Perhubungan Kabupaten Yahukimo, Markus Bayage, S.Sos menilai pekerjaan rumah bagi instansi terkait mesti duduk satu meja lagi dengan warga suku Momuna mensosialisasikan soal perawatan, kebersihan dan merawat rumah sehat.

“Saya akui perjuangan bupati luar biasa untuk mendapatkan perumahan bantuan itu. Kontraktor yang mengerjakan juga benar-benar kerja sesuai keinginan pemerintah setempat. Saya perlu akui soal itu. Hanya, PR besarnya, instansi terkait mesti menyediakan waktu sosialisasi dari hati ke hati dengan warga setempat. Supaya, mereka tidak merasa asing tinggal dalam rumah seperti itu. Terus terang desaign rumahnya sangat bagus. Sayangnya nanti! Kalau warga tidak mendapat sosialisasi merawat rumah supaya nyaman dan merasa sehat untuk ditempati, ya mereka bisa jual lagi sama orang lain atau ditinggal. Lalu, mereka tinggal di gubuk-gubuk lagi, jadi itu yang perlu diantisipasi dan perlu sosialisasi. Karena, masalah seperti itu yang kerap kita lupa,” katanya kepada media ini di kediamannya, Senin (1/7/2018) sore.

Rumah Bantuan Pusat – Warga suku Momuna, Distrik Dekai, Kab. Yahukimo tertawa ceria menikmati rumah bantuan Pemerintah Pusat yang sudah selesai dibangun dan menanti pembagian rumah kepada warga yang mendapat bantuan tersebut. (Foto : Binpa/Del)

Dari pengamatan media ini, design lokasi pembangunan perumahan itu dibangun ditengah hutan belantara. Warga masih bisa menikmati kicauan burung. Semua serba dekat dengan sumber mata air dari pegunungan. Jarak dari ruas jalan Dekai-Kenyam sebelum masuk lokasi pemukiman sekitar 50 meter persegi. Dan Jarak dari pusat Ibu Kota Dekai sekitar tujuh kilo meter. Warga sangat mudah berakses ke Ibu Kota untuk mendapat pelayanan  dari pemerintah dalam hal pelayanan pendidikan dan kesehatan. Mereka mudah beraktivitas, seperti ke Pasar menjual hasil buruan dan memasarkan hasil pertanian.

Menjawab media ini, Bupati Yahukimo menyampaikan pembagian rumah bantuan  tersebut sedang menunggu semua fasilitas  lain, seperti penerangan sudah berjalan baru dibagikan kepada warga yang berhak menempati perumahan tersebut. “Saya belum mendapat informasi dari instansi yang menangani itu, terutama soal penerangan. Nanti kalau penerangan sudah tersedia semua baru dibagi kepada warga yang berhak mendapatkan rumah tersebut,” katanya.

Dia mengajak warga yang nanti belum bisa kebagian dan pemerintah belum bisa penuhi bersabar. “Saya harap khusus warga yang belum bisa dapat bantuan yang sama bersabar sedikit. Saya tetap berjuang. Supaya, mereka yang tidak kebagian bisa mendapat giliran bantuan berikutnya,” katanya sambil meminta: “Maaf ya! Saya ada tamu lain lagi yang sedang menunggu.” (Fidelis Sergius Jeminta)

Tinggalkan Balasan