Dua Tokoh Penakluk Kisah Nestapa Dibalik Megahnya Jembatan Kali Brasa

“Kami tidak hanya bangga, senang dan bahagia dengan adanya jembatan megah di Kali Brasa ini. Perjuangan rahasia dibalik  jembatan ini tidak hanya sekedar penghubung ruas jalan Dekai-Kenyam. Penghubung antara Kabupaten Yahukimo dengan Kabupaten Nduga, Lembah Balim dan melancarkan arus barang serta manusia. Jembatan ini yang menghentikan tetesan air mata duka dari tahun ke tahun sejak nenek moyang hingga setahun yang lalu.  Kami tidak pernah lagi menyaksikan ratusan warga teriak sambil menangis menyusuri bibir sungai ini mencari keluarga atau anak yang hilang terhanyut arus Kali Brasa. Kali Brasa ini sudah menelan 80-an jiwa manusia yang diketahui hanyut. Mereka yang menyebrang sendirian, entah berapa banyak,” tutur Philip dari Kampung Kurupun, Distrik Kurupun yang sudah menetap di Dekai dan menemani media ini melihat dari dekat serta menelusuri kisah nestapa yang terjadi di Jembatan Kali Brasa, Sabtu, 30 Juni 2018 lalu.

 

SABTU siang, 30 Juni 2018 lalu, hujan gerimis disertai mendung menghiasi wajah Kota Dekai-Yahukimo. Meski, cuaca kurang bersahabat tidak mengurangi niat saya menyaksikan kebenaran informasi dua hari sebelumnya. Dari berbagai informasi yang dihimpun disebutkan, Jembatan Kali Brasa menyimpan sejumlah kisah nestapa 80-an jiwa manusia hanyut. Manusia hanyut  akibat derasnya arus Kali Brasa. Kisah nestapa yang merenggut jiwa manusia itu kerap terjadi.  Ketika, warga sedang menyebrang, tiba-tiba banjir tiba menyapu bersih apa saja, termasuk warga yang sedang melintasi sungai. Walau kadang, warga menyebrang cuaca terang benderang. Namun, di hulu sungai Brasa atau gunung hujan lebat pasti menelan korban. Tentu saja, warga tidak akan pernah tahu maut kapan menjemput dan berjaga-jaga dikala menyebrang.

Kini, warga sudah bisa bernafas lega. Mereka tidak akan was-was lagi menyebrang. Bahkan, mereka menyebrang tanpa dihantui ketakutan yang mencekam diterjang banjir. Warga yang berjalan kaki dan mengendarai motor serta mobil leluasa melintasi kisah masa lalu itu. Jembatan Kali Brasa sudah dibangun megah sejak 2017 lalu. “Kaka, Jembatan Kali Brasa sudah dibangun dari setahun lalu. Mobil dan motor sudah lancar melintasi jembatan ini. Bahkan, kami sangat senang sudah tidak ada lagi peristiwa orang hilang akibat terhanyut arus Kali Brasa. Kalau, kaka tidak percaya. Kita bisa kesana, besok,” tutur Philip meyakinkan, di Kantor Infokom Kabupaten Yahukimo, Jum,at (29/6/2018) sore.

Philip mengakui kalau sebelum Jembatan Kali Berasa dibangun. Mereka biasa menyebrang selalu harus bersama-sama mengantisipasi kalau terjadi banjir dan ada yang terhanyut arus. Maka ada warga lain yang membawa berita duka kepada keluarga. Kebiasaan itu sudah mentradisi. “Kami kalau pulang kampung atau warga sekitar kali ini selalu jalan bersama atau bergrombol. Jadi, sebelumnya tidak ada warga yang jalan sendiri. Kalaupun ada yang jalan sendiri, itu karena terpaksa. Maka, mereka yang jalan sendiri ini kalau terjadi apa apa. Itulah yang saya bilang ada yang hanyut tidak diketahui,” tuturnya polos.

Strategi Menyebrang


Kisah isolasi transportasi di pedalaman Papua memang selalu menyuguhkan drama penderitaan, itupun sejauh bisa direkam dan dipublikasikan kepada publik. Maka, yang luput dari mata jurnalis menerima apa adanya kondisi yang ada. Miris memang! Sebagaimana, kisah nestapa sebelum Jembatan Kali Brasa dibangun. Warga menaklukan arus kali ini selalu dengan berbagai strategi, siasat jitu dan sarana prasarana. Philip menyebutkan, strategi pertama, ketika warga membawa barang atau Sembako. Mereka merentangkan kedua tangan keatas sambil memegang barang atau memikul dengan kepala melintasi kali. Warga memikul beban dengan kepala, apabila, permukaan air sebatas leher. Jika permukaan air sampai kepala, warga melintas dengan merentangkan kedua tangan sambil memegang barang yang dibawa.

Hulu Kali Brasa – Secara alami kali Brasa ketika hujan dan banjir, warga masyarakat tidak bisa menyebrang, sebagaimana tampak dalam gambar (Foto : Binpa/Del)

“Strategi menyebrang seperti itu, kami sudah alami berkali-kali sebelum jembatan ini dibangun,” katanya sambil memperagakan cara menyebrang memikul sebuah batu dengan merentangkan kedua tangan ke atas menggenggam batu.

Dia mengisahkan, strategi kedua menyebrang menggunakan tali atau rotan. Strategi ini digunakan, apabila, warga sudah memperhitungkan sama sekali tidak bisa menyebrang dengan tehnik pertama. Persoalannya, siasat ini membutuhkan waktu lama. Karena, warga mesti mencari tali atau rotan terlebih dahulu. Kedua sarana tersebut tersedia. Lalu, salah satu warga yang bisa berenang membawa ujung tali atau rotan kesebelah sungai. Dia mengikat tali atau rotan pada sebuah pohon dengan kuat. Setelah itu, warga yang berada di seberang sungai perlahan-lahan menyeberangkan barang atau orang satu persatu.

“Jadi, tali atau rotan yang dipakai harus bisa memastikan kuat dan tidak putus. Apabila, tali atau rotan putus. Ya, kita hanya bisa meratap dan menerima kenyataan. Syukur kejadian seperti itu, kami tidak pernah dengar dan alami,” tuturnya.

Pola menggunakan rakit, menurut Philip bukan solusi yang tepat. Dia beralasan menggunakan rakit sangat berbahaya. “Kami sudah pernah mencoba dengan menggunakan rakit tidak menolong. Karena, banjir besar tiba. Pohon besar-besar yang dibawa banjir tidak bisa dihindari, itu sangat berbahaya. Lalu, batu-batu besar dalam kali menjadi hambatan terbesar. Satu-satunya, solusi yang tepat dengan strategi membentangkan tali atau rotan, itu saja yang bisa. Kalau, kita sudah tidak bisa dengan metode pertama,” tuturnya menjawab pertanyaan media ini mengapa tidak menggunakan rakit.

Tokoh Penakluk Kali Brasa


Dari data berbagai sumber, tokoh penakluk dibalik megahnya Jembatan Kali Brasa menyebutkan, salah satu warga yang menemani media ini, Philip, staf Dinas PU Kabupaten Yahukimo dan  Staf Bappeda Kabupaten Yahukimo yang enggan menyebutkan jati diri mereka. Mereka mengaku ada dua tokoh yang menghapus air mata duka warga Yahukimo.

“Satu itu, bupati Yahukimo saat ini, Abock Busup, MA dan kedua, Presiden RI, H. Ir. Joko Widodo. Yang kami tahu itu, ketika Bupati Yahukimo dua hari setelah dilantik. Dia meminta Bappeda yang pertama sekali segera merencanakan pembangunan Jembatan Kali Brasa dan ruas jalan kesana. Waktu itu, saya mendengar sendiri permintaan bupati. Dia bilang. Dia mau menebus dan menghapus air mata setiap warga yang keluarganya dan anak mereka hilang tertelan arus Kali Brasa. Nanti saya berusaha bertemu Presiden dan membisik ke telinganya soal ini. Saya sangat yakin pasti Presiden menjawab,” tutur staff Bappeda Kabupaten Yahukimo dan Staff Dinas PU Kabupaten Yahukimo sambil meminta nama mereka dirahasiakan, di tempat terpisah, Jum’at (29/6/2018) siang.

Papan Nama Jembatan Kali Brasa (Foto : Binpa/Del)

Menurut pengakuan staff Bappeda dan PU Kabupaten Yahukimo, permintaan Bupati itu ditindaklanjuti dengan membuat proposal perencanaan pembangunan ruas jalan dan Jembatan Kali Brasa. “Hanya saja, kami tidak tahu perjuangan selanjutnya seperti apa. Kecuali, kami bangga proposal terjawab pembangunan ruas jalan dan jembatan terjadi, itu yang kami tahu,” kata mereka mengenang.

Sedangkan, salah satu warga yang mengaku dirinya bagian yang sangat kental menghantar Bupati Abock Busup, MA menjadi Bupati Kabupaten Yahukimo, Philip menyebutkan, terjawabnya pembangunan Jembatan Kali Brasa tidak terlepas dari perjuangan Bupati Yahukimo saat ini dan yang mengeksekusi upaya Bupati Yahukimo, Presiden RI Joko Widodo.

“Saya tahu soal ini. Karena, saya mendapat hadiah melihat Jakarta dari hasil perjuangan saya mensukseskan pa Bupati Yahukimo menjadi bupati. Bupati minta saya ikut ke Jakarta sebagai hadiah atas perjuangan saya. Saya mendengar bupati bilang. Beliau ingin bertemu Presiden meminta membangunkan Jembatan Kali Brasa sama ruas jalannya. Saya senang sekali mendengar itu. Hanya, ketika kami sampai di Jakarta, besoknya. Saya tidak ikut bupati bertemu Presiden. Saya tertidur. Habis, saya dan beberapa teman yang ikut bersama ke Jakarta kala itu. Kami sibuk ceritera sampai subuh. Maklum! Kami baru pertama kali melihat Jakarta. Jadi, itu kisah awal dari pembangunan Jembatan Kali Brasa,” tuturnya polos.

Ketika dikonfirmasi soal ini sama Bupati Kabupaten Yahukimo, Abock Busup, MA mengaku itu murni komitmen dari Presiden RI, Joko Widodo. “Betul bahwa kami bersama dari beberapa instansi teknis ada andil soal itu. Tetapi, Presiden Joko Widodo yang mengeksekusi hingga ada ruas jalan dan segera menjawab keluhan kami dengan adanya Jembatan Kali Brasa itu. Bagi saya apa yang kita perjuangkan dan kerjakan sebaiknya masyarakat yang menilai dan menceriterakannya. Itu prinsip saya,” katanya merendah kepada media ini, di Kediamannya, Senin (1/7/2018) pagi.

Jembatan Penghapus Air Mata


Warga Kabupaten Yahukimo dan nara sumber media ini, Philip meminta nama beken Jembatan megah Kali Brasa (Jembatan Ruas Dekai-Kenyam) lebih tepat diberi nama “Jembatan Penghapus Air Mata”. “Kaka, Kementrian PUPR atau kontraktor yang membangun Jembatan Kali Brasa ini salah kasih nama. Seharusnya menurut saya yang lebih tepat nama jembatan ini “Jembatan penghapus Air Mata”. Saya beralasan begini. Setelah, jembatan ini ada. Warga kami baru berhenti air mata mereka akibat keluarganya hilang tertelan arus Kali Brasa ini. Kami sering sekali menyebrang dengan kedua tangan merentang ke atas memegang barang yang dibawa. Supaya kisah duka dan penderitaan kami sebelumnya tidak termakan waktu. Seharusnya, nama Jembatan ini diabadikan dengan nama “Jembatan Penghapus Air Mata” itu yang tepat,” tuturnya sambil menunjuk tempat dia menyusuri sungai sambil menangis melihat saudari perempuannya hanyut tertelan arus sungai Brasa lima tahun silam: “Saya sudah merasakan menangis sepanjang bibir sungai ini mencari saudari perempuan saya. Hingga, saya berceritera ini. Kami tidak pernah menemukan jenazahnya.”

Warga Gembira – Warga Yahukimo setelah jembatan kali Brasa dibangun sangat gembira, sebagaimana tampak dalam gambar. (Foto : Binpa/Del)

 

 

Letak Jembatan Kali Brasa ini berada dibagian barat daya Pusat Ibu Kota Dekai-Yahukimo. Dari pusat Ibu Kota Yahukimo jaraknya kurang lebih 27 kilo meter arah barat daya kota Yahukimo. Kondisi jalan beraspal dengan lebar sekitar enam meter persegi.  Kita bisa menggunakan sepeda motor dan mobil.

Panjang bentangan jembatan sesuai yang tertera pada tembok berlogo PU sepanjang 30 meter persegi dan lebar delapan meter persegi serta selesai dibangun 2017 lalu. Tampak, kondisi jembatan itu sangat kokoh, megah dari paduan berbahan baku besi beton.

Warga Gembira – Warga Yahukimo setelah jembatan kali Brasa dibangun sangat gembira, sebagaimana tampak dalam gambar. (Foto : Binpa/Del)

Jembatan ini sekaligus menjadi urat nadi menghubungkan ruas jalan Dekai-Kenyam, Kabupaten Nduga dan poros ruas jalan menuju Lembah Baliem. Menurut pengakuan warga setempat manfaat jembatan itu tidak hanya sekedar menghubungkan ruas jalan trans Yahukimo-Nduga dan Lembah Baliem. Keberadaan jembatan tersebut selain melancarkan arus barang dan orang. Sekaligus, jembatan tersebut sebagai tempat wahana rekreasi dan wisata. “Semua warga kota Yahukimo yang memiliki kendaraan roda dua dan empat sekarang setiap minggu berekreasi di tempat ini. Kami selalu datang mandi dan memancing ikan dan udang disini,” katanya seraya berterima kasih kepada Presiden RI Joko Widodo dan Bupati Yahukimo, Abock Busup, MA: “Terima kasih Bapak Presiden dan Bupati Yahukimo.” (Fidelis Sergius Jeminta)


 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan