Mimpi Memerangi Isolasi Darat, Laut dan Udara Merebut Peluang Ekonomi

“Saya bermimpi disuatu saat anak laki-laki dan perempuan kulit hitam di Kabupaten Yahukimo dan kabupaten-kabupaten pegunungan tengah akan bergandengan tangan. Mereka sigap dan kreatif memanfaatkan peluang ekonomi yang sedang dikerjakan saat ini. Seraya menanti pintu dan jendela transportasi darat, laut dan udara terbuka di Kabupaten Yahukimo,” kata Bupati Kabupaten Yahukimo, Abok Busup, MA dalam diskusi dan wawancara dengan media ini kurang lebih tiga kali pertemuan . Dalam wawancara sebelumnya, akhir Agustus 2018 dan terakhir, saya merekam  sari apa yang sedang dikerjakan dan mimpi yang ingin dicapainya tersaji dalam rekaman idenya dan hasil wawancara, di Bandara Nop Goliat Dekai, Yahukimo,  Senin (29/10/2018) sore. Hasil  wawancara di batas akhir pengerjaan pembangunan ruas jalan sekitar 35 kilo meter dari arah pusat Kota Dekai, Yahukimo dan sisanya 37 kilo meter lagi tembus menuju perencanaan pembangunan dermaga modern di Pepera, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat dalam rangka membuka isolasi transportasi laut. Mimpinya, warga Kabupaten Yahukimo bisa menikmati harga BBM satu harga, harga Sembako murah dan bahan bangunan terjangkau,  Rabu (31/10/2018) siang.

Ruas Jalan Kampung Wenjis – Pemda Yahukimo sedang mengerjakan ruas jalan dari arah Kota Yahukimo menuju di tempat rencana pembangunan dermaga modern di Pepera, Distrik Kolofbrasa, Kab. Asmat sebagaimana tampak ruas jalan yang sudah dikerjakan di Kampung Wenjis. (Foto : BINPA/Jef)
Bupati Yahukimo – Bupati Yahukimo , Abok Busup, MA. sedang memberikan keterangan pers kepada media mengenai pengembangan Bandar Udara Nop Goliat Dekai, Yahukimo dalam rangkat merebut peluang ekonomi, dilandasan pacu Bandar Udara sebaaimana tampak dalam gambar. (Foto : BINPA/Jef)

 

SAYA merasa benar-benar sangat beruntung memiliki kesempatan dari hasil diskusi dan wawancara dengan Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA.  Bahkan, Saya merasa tersanjung ketika diajak bersama tiga rekan wartawan media cetak dan TV oleh Bupati Yahukimo yang didampingi Kepala Bapeda, Kepala Dinas PU dan Kepala Bandar Udara Kabupaten Yahukimo melihat dari dekat progress perpanjangan pembangunan Bandar Udara Nop Goliat Dekai Yahukimo. Diketahui Bandar Udara ini sudah diresmikan oleh Presiden RI sepanjang 2.250 meter persegi dan lebar 40 meter persegi beberapa waktu lalu. Presiden pun kala itu memerintahkan Kementrian Perhubungan segera memperpanjang Bandar Udara Nop Goliat sampai  2.600 meter persegi.

Selain itu, diajak melihat dari dekat pula pembangunan ruas jalan dari arah pusat Kota Dekai menuju Yalimo, Kabupaten Nduga dan hendak melauncing pembangunan ruas jalan menuju Distrik Kurupun, Kabupaten Yahukimo dalam upaya membuka isolasi transportasi darat akhir Agustus 2018 lalu.

Pantau Ruas Jalan – Rombongan Bupati Yahukimo , Abok Busup, MA. sedang memantau kemajuan ruas jalan menuju titik rencana pembangunan dermaga permanen di Pepera, Disktrik Kolofbrasa, Kab. Asmat, sebagaimana tampak dalam gambar Kepala Bappeda Yahukimo sedang mengamati ruas jalan sekitar Kampung Wenjis. (Foto : BINPA/Del)

Bekas kaki dari perjuangan itu semua tidak terekam media cetak dan disorot lensa TV. Sosok pekerja keras ini biasa saja, tampil sederhana, senyumannya yang ramah sangat khas, bahkan irit dalam bicara.  Ternyata dibalik itu, dia kaya dalam karya yang nyata. Dia pula sedang berjuang membuka pintu dan jendela isolasi darat, udara dan lalut di Kabupaten Yahukimo. Dia mengakui kalau perjuangan memperpanjang Bandar Udara Nop Goliat Dekai Yahukimo dari 2.250 meter persegi hingga 2.600 meter persegi dan lebar  40 meter persegi patungan dengan pemerintah pusat. Pemerintah pusat melalui anggaran APBN mengerjakan landasan pacu sesuai instruksi Presiden. Pemerintah Daerah melalui APBD Kabupaten menyelesaikan fasilitas Bandara, terutama ruas jalan masuk dan keluar Bandar Udara Nop Goliat Dekai.

“Saya ingin memadukan mimpi saya  dan mimpi Presiden Jokowi berniat mensejahterakan masyarakat pegunungan tengah. Saya merasa terpacu mewujudkan mimpi itu dengan patungan dana APBN dan APBD Kabupaten Yahukimo menyelesaikan berbagai infrastruktur Bandar Udara Nop Goliat Dekai, Yahukimo. Saya yakin sekali akhir Nopember ini landasan pacu Bandar Udara Nop Goliat Dekai bisa diresmikan dan pesawat boeing bisa mendarat.  Selama ini, pesawat yang mendarat melayani warga Yahukimo, jenis ATR dari Maskapai Penerbangan Trigana Air dan Wings Air. Saya berharap Presiden Jokowi kembali datang meresmikan hasil perpanjangan  Bandar Udara ini menjadi Bandar Udara Transit ke pegunungan Tengah,” kata kekasih dari Ny. Dessy Giay ini dihadapan  wartawan, di titik start landasan pacu Bandar Udara Nop Goliat Dekai Yahukimo, Senin (29/10/2018) sore.

Ruas Jalan Aspal – Ruas jalan aspal di Kampung Moruku. (Foto : BINPA/Del)

Menurutnya, apabila Bandar Udara Nop Goliat Dekai sesuai konsep dan strategi pemerintah daerah diizinkan dan diresmikan menjadi Bandar Udara Transit untuk pegunungan tengah. “Saya sangat bersyukur. Karena itu mimpi dan target yang ingin kami capai dalam merebut peluang pertumbuhan ekonomi dalam bidang bisnis industri jasa menjadi nyata. Hanya, saya harus akui. Saya juga sedang gelisah memikirkan bagaimana mempersiapkan warga setempat menangkap peluang industri jasa dari keberadaan Bandar Udara ini. Walau, saya sedang mendorong Dinas Perhubungan Udara segera mempersiapkan warga setempat disekolahkan di Balai Latihan Kerja. Supaya mereka terampil merebut peluang ekonomi dari kehadiran Bandar Udara ini,” kata ayah dari satu putri dan dua putra ini meyakinkan.

Terlepas dari itu, dia mengaku sedang mengintegrasikan pengembangan Bandar Udara Nop Goliat Dekai sejalan dengan membuka isolasi transportasi darat dan laut. “Saya yakini!  Apabila tiga sektor ini terwujud. Bukan hanya harapan warga Yahukimo yang mendapat peluang ekonomi. Warga pegunungan tengah pun bisa ikut menikmati rembesannya. Maka, kami sedang mengejar membuka ruas jalan menuju titik perencanaan pembangunan Dermaga modern di Pepera, Distrik Kolofbrasa Kabupaten Asmat. Ruas jalan sudah terhubung dari Pusat Kota Dekai menuju Pepera sepanjang 35 kilo meter. Pengerjaan ruas jalan itu dibiayai APBD secara bertahap setiap tahun. Anggaran APBD 2018 dikerjakan sepanjang delapan kilo meter. Saya berharap sisa pengerjaan ruas jalan tersebut sepanjang 37 kilo meter lagi sampai Pepera bisa patungan dengan Propinsi dan Pusat. Sehingga, mimpi ini terwujud,” paparnya ketika memantau progres pengerjaan ruas jalan menuju Pepera, di Kampung Wenjis, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat, Rabu (31/10/2018) siang.

Dia menilai simpul-simpul integrasi transportasi darat, laut dan udara ini kalau terwujud. Biaya pembangunan  infrastruktur bisa ditekan, harga Sembako bisa murah, giliran terakhir pertumbuhan ekonomi dan peluang memanfaatkan industri jasa bisa diprediksi. Strategi mendorong warga setempat ikut menikmati peluang tersebut pun bisa disiasati. Walau upaya seperti ini, organisasi perangkat daerah seharusnya mulai peka dan menangkap serta menterjemahkan konsep  ini dengan memulai mempersiapkan warga setempat dengan program nyata. Ia mencontohkan, warga setempat dipersiapkan dengan program life skill, warga setempat dikirim mengikuti berbagai ketrampilan di Balai latihan kerja. “Itu harapan saya, sebelum warga dari luar atau kaum urban melibas semua peluang tersebut. Tapi, saya menyadari ini membutuhkan SDM yang cerdas di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) membumikan ide-ide ini,” katanya.

Ketika ditanyai soal dukungan pemerintah Propinsi dan Pusat, dia mengakui lebih memilih memulai dulu baru ditawarkan kepada pemerintah Propinsi dan pemerintah Pusat. “Saya lebih cendrung kita mulai dulu dan menunjukan hasil. Dari hasil itu dan muara akhirnya tepat sasaran. Saya yakin Pemerintah Propinsi dan Pusat pasti dukung dan bisa menggelontorkan dana besar. Jadi, kita harus bisa memastikan dari apa yang kita perjuangkan dampak kongkritnya menguntungkan masyarakat banyak, itu pasti didukung penuh,” katanya dengan penuh keyakinan seraya berkata: “Makanya hari ini saya cek progres ruas jalan menuju pelabuhan Pepera ini seberapa jauh lagi sudah tembus. Hasil kerja saat ini, saya berusah lobi ke Propinsi dan pusat supaya sisa 37 kilo meter sampai di Pepera bisa ditanggulangi dengan anggaran APBN dan APBD Propinsi Papua. Kita harus bisa menunjukan apa yang sudah kita lakukan dan sisanya diharapkan Propinsi dan Pusat bisa atasi, ini siasat ibarat mengail di kolam yang dalam mendapat ikan yang besar.”

Dari hasil rekaman media ini di lapangan, upaya mewujudkan pembangunan Dermaga modern di Pepera, Distrik Kolofbrasa Kabupaten Asmat yang diawali secara bertahap pembangunannya dari beberapa tahun lalu. Ruas jalan yang sudah beraspal dari arah kota Dekai menuju Pepera diperkirakan sepanjang 15 kilo meter. Panjang ruas jalan tanpa aspal dari titik simpang ruas jalan aspal sudah sampai di Kampung Patipi dan Kampung Wenjis diperkirakan sepanjang 30 kilo meter lebih, itu berarti yang sudah dikerjakan totalnya 45 kilo meter. Diperkirakan tembus sampai Pepera masih 37 kilo meter dan membutuhkan biaya sekitar ratusan miliar menurut perkiraan Bupati Yahukimo.

“Saya kalau dapat dukungan dari Propinsi dan Pusat sebesar 100 miliar saja tahun anggaran 2019 ditambah dari APBD Kabupaten Yahukimo. Saya yakin tahun anggaran 2019 jalan sudah sampai di Pepera,” katanya.

Bupati Yahukimo – Bupati Yahukimo , Abok Busup, MA. sedang memberikan keterangan pers kepada media mengenai progres pengembangan ruas jalan menuju titik rencana pembangunan dermaga di Pepera, Distrik Kolofbrasa, sebagaimanan tampak dalam gambar batas terakhir ruas jalan yang sudah di kerjakan. (Foto : BINPA/Del)

Dari dimensi lain, menurut Abok Busup, keuntungan ruas jalan sampai di Pepera dan fasilitas dermaga dibuat serta kapal bisa berlabuh disitu. Kendala alam seperti surut dan keringnya Sungai Brasa bisa dijinakan.

“Keuntungan ekonominya sangat besar. Kapal pengangkut barang, bahan bangunan dan Sembako bertonase di atas 2.500 ton bisa berlabuh. Begitupun dengan kapal pengangkut BBM bisa mengangkut BBM lebih dari 2.500 ton. Maka masalah klasik diantara Bulan Oktober hingga Nopember setiap tahun Sungai Brasa kering dan surut sudah bisa teratasi. Warga Kabupaten Yahukimo bisa menikmati harga murah dan terjangkau. Bahkan pintu dan jendela transportasi laut teratasi dampaknya bisa sampai pegunungan tengah. Kedepan kalau jalan darat dari Yahukimo tembus sampai Kabupaten Pegunungan Bintang. Warga Pegunungan Bintang dan Kabupaten Nduga tidak tergantung lagi dengan jembatan udara mengangkut Sembako, bahan bangunan dan kebutuhan sandang serta papan,” ujarnya.

Memang! Diujung tongkat jabatan semestinya berlomba dalam kreativitas menjinakan alam demi warga bisa bersukaria. Supaya, mereka tidak bercucuran air mata siang dalam malam menanti ratu adil menikmati sebutir beras bisa terhindar dari kelaparan. Mereka bisa menikmati setetes minyak tanah menyinari kegelapan malam. Semoga!!! (Fidelis S. Jeminta).

 

Tinggalkan Balasan