Negosiasi Pintas Palang Jalan Minta Dermaga Tambatan Perahu

“Tiada basa-basi, jujur dan polos. Bapak…! Kami semua warga Kampung Wenjis yang palang jalan. Bapak boleh marah, itu wajar.  Namun, dibalik, kami melakukan jalan pintas memalang jalan ini tersimpan seberkas harapan di atas bahu bapak bupati. Kami berharap memiliki Dermaga Tambatan Perahu. Itu saja permintaan kami. Bapak setuju. Kami buka palang,” kata salah satu warga dari empat warga Wenjis,  Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat, Markus Cinamor bertelanjang dada saat berdialog dengan Bupati Kabupaten Yahukimo, Abok Busup, MA, di ruas jalan  Sungai Brasa, Kampung Wenjis, Rabu (31/10/2018).”

Palang Jalan – Warga Kampung Wenjis, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat meminta dermaga Tambatan Perahu dengan Bupati Kabupaten Yahukimo, Abok Busup, MA. dengan cara memalang jalan di ruas jalan Kampung Wenjis, Rabu (31/10/2018). (Foto : BINPA/Del).

PERJALANAN dinas Bupati Kabupaten Yahukimo, Abok Busup, MA yang didampingi Kepala Bapeda Kabupaten Yahukimo dan Kepala Dinas PU Kabupaten Yahukimo, Rabu (31/10/2018) sempat terhenti. Perjalanan itu dalam rangka memantau progress pembangunan ruas jalan dari Pusat Ibu Kota Kabupaten Yahukimo, Dekai menuju titik rencana pembangunan Dermaga Pepera, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat. Ketika, rombongan bupati tiba di ruas jalan depan Kampung Wenjis, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat, kayu besar melintang di jalan dan mobil terpaksa berhenti, tak bisa dilalui.

Tampak, Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA turun dari mobil dan menyapa ramah Warga Kampung Wenjis, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat.  “Bapa, bapa ini pohon tumbang sendiri atau ada yang sengaja potong memalang jalan. Kalau pohon tumbang sendiri. Mari kita ramai-ramai potong, supaya mobil bisa lewat. Saya mau pantau kemajuan pengerjaan jalan ini,” tanyanya seraya meminta warga mengambil parang memotong pohon.

Adalah salah satu warga dari empat warga Kampung Wenjis, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat, Markus Cinamor didampingi Agus Batuseng dan Yohanes Cinamor mengaku berterus terang. Warga memilih sengaja memalang jalan dengan pohon besar. “Pa bupati minta maaf! Kami harus jujur. Kami yang potong untuk memalang jalan ini. Terus terang, pa bupati. Jalan sudah ada menuju tepi Sungai Brasa di depan kampung kami ini. Tapi, dermaga tambatan kapal dan perahu belum ada. Jadi, kami palang jalan dengan maksud, kami mendapatkan Dermaga Tambatan Kapal dan Perahu, itu saja permintaan kami,” ujarnya ketika berdialog dengan Bupati Yahukimo.

Mendengar keluhan itu, Bupati Yahukimo menyetujui permintaan warga tersebut. “Ya, ya, bisa! Saya sudah dengar dan sangat setuju semua niat baik warga. Hanya, saya minta memberikan saya kesempatan sebelum saya penuhi permintaan bapak-bapak. Saya komunikasi dulu dengan bupati Asmat. Saya mengambil keputusan harus sepengetahuan bupati Asmat. Bagaimana setuju?” tanya bupati disahut Markus Cinamor: “Bisa pa bupati, kami setuju.”

Cinamor meminta rekannya Yohanes Cinamor segera mengambil parang. “Eh, tolong kamu segera memanggil warga disebelah sungai segera dayung perahu membawa parang kesini. Pa bupati sabar pa. Kami segera membuka palang jalan ini dengan memotong pohonya. Pa bupati sekali lagi minta maaf, itu saja tadi permintaan kami. Pa bupati tolong buatkan kami Dermaga Tambatan Kapal dan Perahu,” tuturnya.

Dari data yang dihimpun media ini, yang perlu diktehaui, ada beberapa kampung warga Asmat lebih dekat pelayanan kepada mereka dari pemerintahan Kabupaten Yahukimo dari pada pemerintahan Kabupaten Asmat. Perbatasan dibagian Timur antara Asmat dan Yahukimo, ada tiga kampung yang hanya dibatasi Sungai Brasa,  yaitu  Kampung Wenjis, Kampung Patipi, dan Kampung Momunu, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat. Perbatasan bagian barat daya tercatat Kampung Suru-Suru dan Obio, Distrik Suru-Suru, Kabupaten Asmat. Di Kampung Suru-Suru dan Obio ada dua administrasi pemerintahan, yaitu Pemerintahan Asmat dan Pemerintahan Kabupaten Yahukimo. Dua kampung yang hanya dibatasi Bandar Udara perintis terdapat dua Kantor Distrik, Yaitu Kantor Distrik pemerintahan Asmat dan Kantor Distrik Pemerintahan Yahukimo, kedua pemerintahan distrik itu melayani warga yang sama.

Menurut pengakuan Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA dalam wawancara dengan pers mengakui kalau pelayanan terhadap warga yang berada diperbatasan antara Asmat dan Yahukimo tidak bisa dipisah-pisahkan dengan alasan batas geografis pemerintahan.

“Saya dan bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos sudah sepakat bahwa warga yang berada diantara Asmat dan Yahukimo itu warga Papua. Maka, kami dua sudah sepakat bersama-sama berusaha mensejahterakan mereka. Kami tidak boleh melihat itu warga Asmat atau warga Yahukimo saja. Jadi, kami melayani mereka sebagai anak sesama Papua. Makanya, pemerintah Yahukimo harus siap menampung dan menjawab permintaan warga Asmat yang minta Dermaga Tambatan Kapal dan Perahu itu. Saya dan mereka khan sama-sama anak Papua, begitu. Hanya, saya perlu koordinasi baik denganh bupati Asmat,” katanya ramah disambut tepuk tangan meriah warga Asmat.

Aneh! Ketika rombongan bupati balik dari batas terakhir pengerjaan jalan menuju Pepera, warga Kampung Patipi, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat giliran melakukan pemalangan jalan dimana warga Kampung Wenjis memalang jalan di tempat yang sama. “Ah, ada apa lagi! Tadi, semua sudah sepakat, kok jalan dipalang lagi. Eh…, ini apa maksudnya?” tanya bupati.

Tampak, lelaki setengah baya asal Kampung Patipi mendekati bupati Yahukimo sambil berkata: “Pa bupati yang  palang tadi waktu bapak kesana,  warga Kampung Wenjis. Ini giliran warga kami dari Kampung Patipi. Kami juga berterima kasih pemerintah Kabupaten Yahukimo sudah membuat jalan sampai tepi Sungai Brasa di Kampung Patipi. Pa bupati jalan sudah ada, terima kasih. Kami palang jalan ini dengan maksud meminta bupati membuatkan kami juga Dermaga Tambatan Kapal dan Perahu di Kampung Patipi. Supaya, pengusaha kapal bisa menurunkan barang dan Sembako di Kampung Patipi,” ujarnya disambut Bupati Yahukimo dengan tertawa terbahak-bahak aksi yang dilakukan warganya.

Dia menyapa warga Kampung Patipi dan Kampung Wenjis, Distrik Kolofbrasa, Kabupaten Asmat itu sambil menepuk bahu mereka dan meminta palang jalan dibuka. “Saya tadi sudah sampaikan, kamu semua harus dengar baik-baik. Saya terima dan setuju aspirasi yang disampaikan. Nanti, saya koordinasi dulu dengan bupati Asmat. Supaya niat bapa bapa berjalan mulus. Jadi, tolong  palang dibuka dan beberapa utusan dari warga Kampung Wenjis dan Kampung Patipi naik mobil saya. Kita lihat bersama kondisi tempat di Kampung Patipi memungkinkan atau tidak membuat Dermaga Tambatan Kapal dan perahu disana. Lalu, kita bicara di kediaman, bagaimana setuju!” kata bupati Yahukimo disahut warga :”Setuju!”

Terlihat empat orang utusan dari kedua kampung tersebut menumpang mobil Bupati Kabupaten Yahukomo bersama-sama sebelum menuju ke Kediaman Bupati Yahukimo terlebih dahulu meninjau dan melihat dari dekat warga Kampung Patipi dari sebrang Sungai Brasa. “Bapa, bapa…! Saya sudah lihat kondisi kampung ya. Lalu, saya sudah pantau juga jalan sudah sampai di tepi Sungai Brasa. Itu artinya, permintaan bapa-bapa sangat memungkinkan. Tetapi, saya harus koordinasi baik dengan bupati Asmat, begitu ya,” ujar Abok Busup disahut utusan warga Kampung Patipi dengan mengangguk-anggukan kepalanya. (Fidelis Sergius Jeminta)

Tinggalkan Balasan