Diujung Sungai Brasa Kering, Cahaya Harapan BBM Satu Harga Redup

“Seminggu terakhir, warga di Kabupaten Yahukimo merasa amat panjang menanti Lembaga Penyalur (LP) BBM satu harga bisa menstabilkan harga BBM, sebagaimana niat baik Presiden RI Joko Widodo menetapkan  solar seharga Rp 5.150 perliter dan premium Rp 6.450 perliter. Realita saat ini, di Yahukimo  harga premium melonjak seharga Rp 100.000 perliter. Setelah penantian itu ditelusuri, terhambat diujung Sungai Brasa Kering. Cita-cita Presiden RI, Joko Widodo pun menciptakan keadilan harga BBM di Papua, khususnya di Yahukimo  diterpa hadangan alam, Sungai kering. Bagaimana kisahnya ikuti petikan hasil survey dan wawancara media ini.”

Bupati Yahukimo – Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA. sedang memberikan keterangan kepada pers tentang kondisi Sungai Brasa yang kering. akibat kondisi itu kapal-kapal pengangkut BBM dan barang tidak bisa dilalui, sebagaimana tampak dalam gambar kapal-kapal pada kandas, di dermaga Pelabuhan Rayat, Logpon, Kabupaten Yahukimo, Selasa (30/10/2018) (Foto : BINPA/Del).

SENIN, (30/10/2018) sore cuaca sangat bersehabat di Yahukimo. Media ini sambil menikmati udara segar Kota Yahukimo bersama Kontributor TV ONE, Harian Pagi Papua dan Para-Para TV yang sedang berada di Yahukimo hendak meliput acara perdamaian perang suku, Selasa (30/10/2018). Sebagaimana biasa, para jurnalis bila tiba di suatu daerah baru, pasti ingin tahu banyak hal dan merekam apa saja yang menarik  sebagai referensi bahan berita.

Memuluskan niat itu, kami bersepakat patungan menyewa mobil rental. Sialnya! Mobil rental yang disewa, seret premium dan terpaksa menuju pengecer membeli premium. Sebab kebiasaan SPBU di Kabupaten Yahukimo sudah menjadi tradisi menurut warga setempat. SPBU melayani pembelian solar dan premium dilayni dari pukul 08.00 pagi sampai 11.00 Wit, praktis hanya tiga jam sehari. Selebihnya, pengguna mobil dan motor membeli premium dan solar pada para pengecer BBM.

“Aneh bin ajaib! Saya sangat terkejut! Harga satu liter premium dalam kemasan botol aqua besar yang diperkirakan tidak sampai satu liter juga  Rp 100.000,- Harga dalam kemasan jerigen lima liter RP 500.000,- Akhirnya, saya hanya memutuskan hanya membeli satu liter seharga Rp 100.000. Saya meminta saran teman-teman dan semua sepakat mobil rental dikembalikan. Sobat…,! Kita harus kembalikan mobil ini,” kata Kontributor TV ONE, Jefry Rajawane.

Ketika dikonfirmasi situasi itu sama Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA membenarkan harga premium di Kabupaten Yahukimo seminggu terakhir harga perliter premium Rp. 100.000,- “Apa yang dirasakan rekan-rekan wartawan memang realitanya seperti itu. Tetapi, harga seperti itu bersifat musiman. Itu hanya karena kondisi alam, Sungai Brasa sedang kering. Kalau Sungai Brasa banjir, kapal pengangkut BBM dan kapal barang bisa lalu lalang dan pasti harga BBM bisa stabil lagi. Karena, satu-satunya, urat nadi bagi Pertamina mensuplai BBM dengan kapal laut ke Kabupaten Yahukimo melalui sungai,” katanya dalam keterangan pers di Kediamananya, di Yahukimo, Senin (29/10/2018) malam.

Menurutnya, kebijakan Presiden RI, Joko Widodo menetapkan BBM satu harga bagi Papua dan Papua Barat sudah dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Papua. Selain, kebijakan itu menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari sudut dimensi ekonomi sangat membantu warga masyarakat setempat bisa menikmati harga Sembilan Bahan Pokok (Sembako) murah. Biaya transportasi darat, laut dan udara bila bepergian kemana-mana semua terjangkau. Biaya mendatangkan bahan bangunan membangun infrastruktur, seperti semen, besi beton, paku, seng dan alat pertukangan bisa ditekan.

“Makanya kami sangat bersyukur dengan keputusan Presiden menetapkan harga BBM satu harga di Papua, khususnya Yahukimo. Saya memandang kondisi BBM sedikit melonjak saat ini lebih pada faktor alam. Siapa yang bisa menjinakan alam,  hanya Tuhan Allah. Hanya, saya sedikit kesal. Pertamina sudah mengetahui gejala alam di Kabupaten Yahukimo dari tahun ke tahun. Setiap kali memasuki bulan Okotober sampai akhir Nopember setiap tahun, Sungai Brasa pasti kering. Mereka seharusnya bisa membaca siklus alam, Sungai Brasa ini. Maka, mereka harus menampung pasokan BBM sebelum bulan Oktober sampai Nopember sudah tersedia cukup. Saya kira kalau disiasati seperti itu kelangkaan BBM dan harga BBM ditingkat pengecer tidak terjadi. Ingat! Masalah BBM ini merembet kemana-mana,” katanya.

Bupati Yahukimo – Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA. sedang foto bersama dengan buruh pelabuhan rakayat di Logpon, setelah Bupati mendengar keluhan buruh tidak bisa melakukan bongkar muat karna kapal-kapal tidak ada yang berlabuh menurunkan BBM dan sembako di Logpon, Selasa(30/10/2018) (Foto : BINPA/Del).

Abok Busup berjanji mengantar para wartawan melihat dari dekat kondisi Sungai Brasa yang sedang surut di Pelabuhan Rakyat, Logpon. “Besok ya. Nanti sesudah acara perdamaian perang suku selesai. Kita kesana. Saya sebenarnya hanya terhalang kesibukan mengatasi perang suku ini untuk meninjau langsung kondisi surutnya Sungai Brasa selama ini. Karena, saya mau cek sendiri kondisi di lapangan seperti apa,” ujarnya.

Usai inisiasi perdamaian perang suku, Selasa (30/10/2018) sore, rombongan Bupati Yahukimo bersama wartawan menggunakan dua mobil menuju ke Pelabuhan Rakyat, Logpon, di Moruku, Kabupaten Yahukimo. Rombongan meluncur dari Pusat Ibu Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo menuju ke arah Timur laut, di Logpon, diperkirakan 15 kilo meter jauhnya.

Rombongan Bupati Yahukimo dan wartawan disambut meriah para Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Rakyat, Logpon, Kabupaten Yahukimo. Tampak, beberapa kapal kayu dan kapal perintis berlabuh di atas lumpur kering di bibir Sungai Brasa. Kekeringan Sungai Brasa diperkirakan dari bekas permukaan ketinggian air di darat sampai kedalam permukaan Sungai Brasa yang berwarna kecoklatan kira-kira lima meter.

Menurut Bupati Yahukimo sambil menunjuk bekas permukaan ketinggian air sungai bisa dilewati kapal-kapal pengangkut BBM dan kapal-kapal barang seharusnya sampai pada bekas permukaan air yang kering. “Kapal bisa berlabuh sampai disini. Kalau ketinggian air Sungai Brasi ini sampai batas ini. Jadi, kondisi surut sedalam lima meter seperti ini. Kapal-kapal tidak bisa merapat sampai disini. Jadi, kami berharap ada hujan besar di gunung dan banjir besar. Maka, otomatis kapal-kapal bisa bersandar di Logpon ini,” katanya sambil menunjuk bekas ketinggian air yang bisa dilalui kapal.

Dia menuturkan, jalur Sungai Brasa itu satu-satunya urat nadi kapal-kapal pengangkut BBM dan kapal barang bisa keluar masuk merapat membawa Sembako dan seluruh kebutuhan bahan baku infrastruktur membangun di Kabupaten Yahukimo. “Saya berharap hujan turun sepanjang hari di gunung. Sebab, hanya dengan adanya hujan baru kapal-kapal bisa lewat dan merapat di Logpon. Jika itu terjadi harga BBM dan Sembako bisa stabil seperti biasa,” tuturnya.

Dari informasi salah satu TKBM, Markus Cinamar mengaku kapal pengangkut BMM Pertamina dan 10 buah kapal barang sedang berlabuh di Pepera, arah Timur laut Yahukimo. “Kapal angkut BBM dan 10 kapal barang sedang berlabuh di Pepera sana. Kemarin, saya diajak membantu orang PLN mengambil solar di kapal pengangkut BBM dengan speadboad untuk kebutuhan PLN. Jadi, orang PLN mengambil BBM beberapa drum disana untuk kebutuhan PLN. Supaya listrik tetap menyala di Kabupaten Yahukimo,” tuturnya jujur. (Fidelis Sergius Jeminta)

Tinggalkan Balasan