Bertekad Damai, Anak Panah Dipatah Seraya Bersumpah di atas Kitab Suci

Patah Panah

 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka yang memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya,  karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai,  mereka akan disebut anak-anak Allah. (Matius 5:1-12a).”

Upacara Bersumpah diatas Kitab Suci – Upacara perdamaian secara Kristiani dengan cara meletakan tangan diatas Kitab Suci sebagai simbol mengakhiri perang suku, di Kabupaten Yahukimo, Selasa (30/10/2018),(Foto : BINPA/Del).
Upacara Patah Anak Panah – Upacara perdamaian secara adat dengan cara mematahkan anak panah dan busur sebagai simbol mengakhiri perang suku, di Kabupaten Yahukimo, Selasa (30/10/2018),(Foto : BINPA/Del).

SAYA sangat terkejut dari tidur yang lelap Selasa pagi (30/10/2018) di Wisma Sava Agape, Dekai Kabupaten Yahukimo. Hujan deras membasahi kota dan disertai kilat menggelegar. Kilat itu bagai bom yang sedang mengguncang Wisma tersebut. Saya merasa hanya saya yang terkejut dan ketakutan. Ternyata, pelayan Wisma Sava Agape yang mengaku bernama Philip asal Toraja pun merasakan hal yang sama.

Dia menyapa sambil menenangkan saya. “Biasa pa tidak usah kuatir, tenang saja. Disini, kalau hujan lebat selalu disertai kilat dan petir, itu sudah biasa,” ujarnya. Bagi saya, apanya yang biasa bagi orang baru dengan kondisi kilat dan petir bak bom mengguncang Wisma. “Saya membuka pintu dan mata liar  menyaksikan apa yang sedang terjadi di luar Wisma. Saya mendapati, suasana diluar Wisma masih sunyi dan lengang. Kabut menutup jarak pandang antara Wisma dan rumah-rumah yang lain. Lalu, saya memutuskan masuk ke Kamar sambil berbaring membaca buku menanti fajar pagi.”

Pada pertengahan September 2018 lalu, saya berada di Yahukimo meneliti soal pendulangan emas illegal di wilayah itu. Senin, 29 Oktober 2018, saya bersama Kontributor TV ONE, Para-Para TV dan Wartawan Harian Pagi Papua diundang Pemerintah Kabupaten Yahukimo meliput prosesi integrasi perdamaian secara adat dan bersumpah diatas Kitab Suci secara kristiani. Karena, ada peristiwa memilukan seminggu sebelumnya. Dua kelompok suku, yaitu suku Ngalik dan Suku Kimiyal dari 12 suku yang mendiami Kabupaten Yahukimo terjadi perang suku hanya berawal dari kecelakaan lalulintas.  Akibat peristiwa itu, tujuh orang tewas dan belasan lainnya luka-luka. Suasana kota mencekam. Aktivitas ekonomi mandek. Proses belajar mengajar dan aktivitas pemerintahan macet.

Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA. bekerja keras bersama aparat keamanan dan tokoh-tokoh gereja serta tokoh masyarakat mencari solusi. Mereka bersepakat konflik perang suku segera diakhiri. Proses dialog dan mendekati Kepala suku kedua belah pihak yang sedang bertikaipun menerima berbagai saran positif dari pemerintah dan tokoh-tokoh gereja dengan pendekatan rekonsiliasi dan segera melakukan perdamaian secara adat dan kristiani. Kepala suku Ngalik, Leo Giban mengaku bersama warganya tidak mau lagi terulang peristiwa serupa. “Saya atas nama warga suku Ngalik sudah sepakat perang suku segera diakhiri dengan upacara perdamaian sesuai tradisi nenek moyang kami,” katanya kepada media ini sesudah upacara perdamaian berlangsung di Dekai Kabupaten Yahukimo, Selasa (30/10/2018).

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Bupati Yahukimo dan tokoh-tokoh gereja cepat mengatasi peristiwa itu. “Saya berterima kasih kepada bupati dan tokoh gereja sudah menfasilitasi acara perdamaian ini. Sehingga, diantara kami tidak saling curiga dan takut mencari makan,” katanya.

Pengakuan yang sama, Kepala Suku Kimiyal, Nopius Jalak mewakili warga suku Kimiyal menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, tokoh gereja dan kepala suku Ngalik sama-sama menyadari dampak dari perang suku tidak bisa berbuat apa apa. “Saya meyakini dengan upacara perdamaian hari ini sudah terwujud perdamaian di Kabupaten Yahukimo,” katanya singkat di tempat yang sama.

Isyarat alam ikut merestui ungkapan batin bersepakat hidup berdamai antara satu sama lain mulai tersingkap sejak pagi. Hujan dan kilat menggelegar seolah-olah membangunkan semua suku yang bertikai segera bangun mempersiapkan batin untuk berdamai. Bagaimana tidak!  Kabut gelap dan tebal sekitar pukul 06.15 Wit yang sedang menghiasi langit Kota Dekai Yahukimo perlahan-lahan sirna. Kondisi itu berbeda dari biasanya. Ketika, saya kali pertama dan kedua mengunjungi pusat kota Kabupaten Yahukimo. Kondisi seperti itu pasti hujan sepanjang hari. Realitanya suasana berbeda, 30 menit kemudian, kabut, hujan dan kilat berhenti. Cuaca cerah dan langit terang benderang mengiringi kaki sang fajar dari ufuk Timur menyapa alam dan seluruh warga masyarakat Kabupaten Yahukimo. Suasana alama itu terasa damai, warga hilir mudik dengan aktivitas masing-masing. Walau sehari sebelumnya suasana agak lengang akibat perang suku. Warga dua suku, yaitu suku Ngalik dan Suku Kimiyal yang bertikai (perang suku) sibuk mempersiapkan tradisi adat “Bakar Batu” merajut perdamaian. Alam seolah-olah member isyarat, niat baik dari dua suku dan 10 suku yang lain, pemerintah dan tokoh-tokoh gereja harus berjalan mulus tanpa rintangan hujan.

Bakar Batu – Warga Suku Kimiyal sedang sibuk mempersiapkan upacara perdamaian dengan inisiasi Bakar Batu untuk makan bersama dengan warga suku yang pernah bertikai sebagai lambang perdamianan. (Foto : BINPA/Del).

Ketika media ini mendatangi dan mewawancarai Kepala Suku Ngalik, Nopius Jalak di tempat bakar batu berlangsung. Mereka super sibuk mempersiapkan acara itu. Kondisi itu  menyingkapkan sebuah ekspresi yang memancarkan niat yang tulus.  Terlihat dari wajah mama mama, anak-anak, pemuda sibuk dengan tugasnya masing-masing. Pancaran niat seia sekata mengakhiri kebiasaan darah ganti darah atau kepala ganti kepala dalam perang suku tidak boleh terjadi lagi. Ekspresi yang memperlihatkan, mereka harus melupakan segala harta benda dan rumah yang dibakar akibat pertikaian. Hanya satu tekad, perdamaian mesti diraih dalam kesetiaan mengikrarkan sumpah setia dengan patah panah dan bersumpah diatas Kitab Suci sebagai penuntun hidup damai dalam Iman kepada Yesus Kristus.

Saya semakin takjub dan bekerja keras merekam seluruh dinamika itu. Tampak, tiga jam kemudian, sekitar pukul 11.30 Wit, Kepala Suku Ngalik, Leo Giban bersama-sama warganya dan Kepala Suku Kimiyal, Nopius Jalak bersama warganya pula berbondong-bondong menuju tempat prosesi perdamaian di Tribun Utama Kantor Bupati Yahukimo, di Dekai. Mereka  disambut dengan lagu-lagu rohani dari warga jemaat. Suasana itu mengisyaratkan perang suku mesti diakhiri dan perdamaian harus disemai serta dirawat sepanjang abad.

Dari rekaman media ini, terlihat jelas di Tribun Utama Halaman Kantor Bupati Kabupaten Yahukimo, Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA dan Wakil Bupati, Julianus Heluka, Ketua DPRD Yahukimo, Marin Mirin yang menginisiasi perdamaian itu didampingi Kapolres Yahukimo, Kombes Pol. Angling, Perwira Penghubung Kodim Jayawijaya, Mayor TNI, Ivan P.S  bersama tokoh-tokoh gereja yang ikut berperan menjadikan Kabupaten Yahukimo sebagai “Kabupaten yang Damai Sejahtera.” Tampak, Ketua I Sinode Kingmi Propinsi Papua, Pdt. Erson Wenda, S.Th, Wakil Presiden Gidi, Pdt. Usman Kobak, S.Th, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Kabupaten Yahukimo, Pdt. Mathias Matuan, S.Th, dan Pdt. Marthen Pasuru serta Kepala-Kepala Dinas dari Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Yahukimo ikut larut dalam pujian-pujian sebelum memasuki detik-detik prosesi perdamaian dan pernyataan sikap menjadikan Kabupaten Yahukimo sebagai “Kabupaten Damai Sejahtera.”

Meski terik mentari sekitar pukul 13.15 siang menyengat kulit, detik-detik memasuki prosesi perdamaian itu semakin semarak hingga bulu kuduk merinding ketika Pdt. Marten Pasuru mengajak jemaat mendendangkan lagu “Kasih dari Yesus, Kasih Surgawi” menggema. Anehnya! Ketika lagu, Kasih dari Yesus, kasih Surgawi didendangkan  tiga buah burung berbulu coklat  terbang  mengitari tempat acara perdamaian berlangsung hingga lagu selesai dinyanyikan.

“Kasih Yesus selalu mengalir dan tak pernah berhenti mengalirkan rahmat perdamaian bagi kita semua. Maka, pantas dan layak, niat dan ketulusan semua warga dari 12 suku di Kabupaten Yahukimo, terutama dua suku yang bertikai. Mari, kita akhiri disini sambil menyambut damai sejahtera Allah bertahta di Kabupaten Yahukimo,” pintanya dalam doa pembukaan ibadah perdamaian.

Bagai gayung disambut dalam renungannya, Wakil Presiden Gidi, Pdt. Usman Kobak mengajak warga 12 suku di Kabupaten Yahukimo, terutama kedua suku yang sempat perang suku memeteraikan hidup dengan  Firman Tuhan (Matius 5:1-12a). “Saya minta kita semua akhiri detik ini juga perang suku. Kita tinggal sedikit saja, bahkan mau punah. Mari kita meteraikan hidup dengan Firman Tuhan. Mengapa? Karena, 50 tahun lalu nenek moyang kita sudah mematahkan panah dan menerima Injil Tuhan. Dengar baik-baik Firman Tuhan ini dan camkam serta praktekan dalam hidup kita sehari-hari,” ajaknya dalam renungannya.

Kobak mengingatkan, setiap kali muncul pertengkaran dan perselisihan dibawa dalam doa dan membaca Fiman Tuhan. “Ingat! Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka yang memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya,  karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai,  mereka akan disebut anak-anak Allah. (Matius 5:1-12a).”

Tak Boleh Ada Tetesan Darah

Kepala Suku Kimiyal – Kepala Suku Kimiyal, Nopius Jalak sedang menandatangani Pernyataan sikap Kabupaten Yahukimo sebagai Kabupaten yang damai sejahtera. (foto : BINPA/Del).

Dia mengajak Kepala Suku, Tokoh Gereja, Pihak Keamanan dan pemerintah daerah merawat perdamaian. Semua stakeholder seia sekata menjauhkan diri dari roh-roh iblis sambil memohon kekuatan Tuhan dalam doa. Supaya, diantara warga masyarakat tidak merawat kebencian, pertengkaran dan apalagi saling membunuh satu sama lain.

“Hentikan perang suku dan mulai saat ini akhiri itu semua seraya memupuk perdamaian yang abadi dalam doa dan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Hanya dengan penyerahan diri total kepada Tuhan. Kita bisa merawat perdamaian dan memupuk persaudaraan sejati dalam Tuhan. Dan Ingat! Kita semua sudah sepakat sebentar secara adat kita patahkan lagi panah dan bersumpah di atas kita suci. Kalau kita lakukan lagi. Maka terkutuklah kita semua. Di atas tanah ini tidak boleh terjadi tetesan darah manusia dari 12 suku di Kabupaten Yahukimo,” ajaknya.

Usai renungan, tampak Kepala Suku Ngalik, Leo Giban dari tenda sebelah barat mewakili warga suku Ngalik dan Kepala Suku Kimiyal, Nopius Jalak dari deretan tempat duduk sebelah Timur melangkah bersamaan mendekati tempat prosesi patah panah. Dan Bupati Yahukimo, Wakil Bupati, Ketua DPRD Yahukimo, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Kabupaten Yahukimo, Wakil Presiden Gidi dan Wakil Ketua I Sinode Kingmi Propinsi Papua, Kapolres dan Pabung Kodim Jayawijaya untuk Kabupaten Yahukimo mendampingi kedua kepala suku Ngalik dan Kimiyal membacakan pernyataan sikap secara bergiliran mengakhiri perang suku dihadapan seluruh perwakilan 12 suku yang mendiami Kabupaten Yahukimo.

Kepala Suku Ngalik – Kepala Suku Ngalik, Leo Giban sedang menandatangani pernyataan sikap Kabupaten Yahukimo sebagai Kabupaten yang damai sejahtera. (foto : BINPA/Del).

Usai kedua kepala suku membacakan pernyataan sikap dilakukan inisiasi perdamaian secara adat yang ditandai dengan menyerahkan anak panah dan busur serta uang dalam amplop  kepada Wakil Presiden Gidi Papua dan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Kabupaten Yahukimo. Ketua Persekutuan Gereja-Gereja dan Wakil Presiden Gidi secara bersamaan mematahkan panah dan busur, lalu dibakar sebagai lambang mengakhiri perang suku dan mulai merawat perdamaian.

Setelah, anak panah dan busur dibakar, Wakil Presiden Gidi, Usman Kobak dan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Kabupaten Yahukimo mempersilahkan kedua kepala suku, Kepala Suku Ngalik dan Kimiyal bersumpah mewakili warga masing-masing sambil meletakan tangan kanan di atas Kitab Suci mengakhiri perang suku. Lalu, Wakil Presiden Gidi mengajak semua yang hadir mendoakan kedua kepala suku itu.

Setelah prosesi bersumpah di atas Kitab Suci, acara perdamaian itu dilanjutkan dengan agenda 12 suku di Kabupaten Yahukimo menandatangani pernyataan sikap menjadikan Kabupaten Yahukimo “Kabupaten Damai Sejahtera dan 30 Oktober 2018 sebagai hari lahirnya sejarah baru dalam peradaban di Kabupaten Yahukimo sebagai hari libur khusus untuk beribadah merawat perdamaian di Kabupaten Yahukimo.”  “Mari kita sambut hari perdamaian hari ini dan menyambut hari berhentinya perang suku,” teriak Kobak disambut tepuk tangan meriah.

Dalam sesi penandatangan pernyataan sikap merawat perdamaian itu diawali Kepala Suku Kimiyal, Nopius Jalak, disusul Kepala Suku Ngalik, Leo Giban, Kepala Suku Mek, Mathias Su dan Sembilan kepala suku lainnya. Lalu, penandatangan pernyataan sikap itu disyahkan dengan pernyataan sikap itu ditandatangani Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA, Ketua DPRD Kabupaten Yahukimo, Marin Mirin, Kapolres Yahukimo, Kombes Pol. Angling serta Pabung Jayawijaya untuk Kabupaten Yahukimo, Mayor TNI, Ivan P.S.

Dalam sambutannya, Ketua I Sinode Kingmi Propinsi Papua, Pdt. Erson Wenda, S.Th meminta warga masyarakat dari 12 suku yang mendiami Kabupaten Yahukimo menjadi pioner merawat perdamaian diseluruh Papua. Warga Yahukimo harus menjadi teladan bagi suku-suku lain pula di Propinsi Papua mengakhiri segala bentuk pertikaian yang berawal dari perzinahan, pertengkaran dan bermuara pada perang suku, stop.

“Saya minta kita semua dari warga 12 suku di Kabupaten Yahukimo menjadi Kabupaten Pertama yang mampu merawat perdamaian. Mari kita sibuk dengan kerja keras mempersiapkan masa depan yang cerah sambil berdoa memohon berkat Tuhan menjadikan daerah ini daerah perdamaian sejati bagi seluruh penghuninya,” pintanya.

Bupati Yahukimo, Abok Busup, MA mengaku berterus terang tempat prosesi perdamaian ditempatkan di Halaman Kantor Kabupaten Yahukimo bermakna ganda. Karena, momentum 30 Oktober 2018 selain sebagai hari perdamaian dan hari 12 suku besar menyatakan sikap Kabupaten ini sebagai “Kabupaten Damai Sejahtera, itu pertama. Kedua, hari ini sebagai hari pemerintah bersama kepala-kepala suku, masyarakat dari 12 suku mengakhiri kebiasaan dan menyatakan sikap tidak ada lagi sanksi adat atau denda ketika ada perselisihan dan percecokan. Warga masyarakat harus menyerahkan persoalan dan permasalahan dengan pendekatan hukum positif. Ketiga, 30 Oktober 2018 pula sebagai hari lahirnya kesepakatan seluruh masyarakat menyepakati setiap tanggal 30 Oktober setiap tahun hari libur dan hari ibadah bersama mengenang seluruh peradaban perdamaian di daerah ini. “Bagaimana semua sepakat,” teriak bupati Yahukimo dalam sambutannya disahut tepuk tangan meriah warga dan serempak berteriak: “Sepakat.”

Bupati Kab. Yahukimo – Bupati Kab. Yahukimo, Abok Busup, MA., mengajak seluruh warga 12 suku di Kabupaten Yahukimo mengakhiri perang suku dan merawat perdamaian .(foto : BINPA/Del).

Dia mengingatkan peristiwa sejarah perdamaian 30 Oktober 2018 menjadi tonggak sejarah baru dalam peradaban ke depan di Kabupaten Yahukimo untuk merawat perdamaian. “Kita semua merasakan kalau terjadi konflik tidak merasa aman mencari makan. Anak-anak kita yang sekolah tidak bisa sekolah. Pelayanan pemerintah macet. Jadi mari kita sama-sama merawat daerah ini menjadikan Kabupaten ini Kabupaten yang damai,” katanya disambut tepuk tangan meriah warga dari 12 suku yang hadir dalam prosei perdamaian itu.

Prosesi perdamaian itu dirayakan dengan makan bersama sebagaimana biasanya tradisi setempat dengan makan “bakar batu”. Nilai-nilai positif yang sudah mulai tumbuh dari prosesi perdamaian harus dirawat terus. Tampak, mulai hari puncak perdamaian warga setempat dan warga pendatang mulai hilir mudik dengan aiktivitas sepertia biasa. Suasana itu, agak berbeda dengan pemandangan sehari sebelum perdamaian berlangsung. Ruko-ruko di sekitar daerah pasar hanya sebagian kecil yang buka.

“Pak kemarin-kemarin, daerah pasar ini lengang. Saya baru buka saja hari ini. Karena, warga setempat juga sudah mulai satu dua orang mulai hilir mudik. Sebelumnya sepi dan kamipun masih was-was membuka ruko,” kata salah satu pemilik ruko, Safrudin yang menjual Sembako di Kawasan Pasar Yahukimo.

Kondisi itu diakui Bupati Kabupaten Yahukimo, Abok Busup, MA. Dia mengakui kalau sekolah-sekolah dalam kota Yahukimo tidak melakukan proses belajar mengajar. “Itu betul. Sekolah-sekolah juga libur,” katanya.

Sementara, Kapolres Yahukimo Kombes Pol. Angling dan Perwira Penghubung Kodim Jayawijaya untuk Yahukimo, Mayor TNI, Ivan P S meminta semua warga masyarakat dan tokoh masyarakat selain bersama-sama menjaga perdamaian di Kabupaten Yahukimo. Warga masyarakat dan tokoh masyarakat tidak sekedar menjadikan pernyataan perdamaian sebatas selogan. “Kita semua sepakat peristiwa hari ini tidak hanya selogan semata. Tetapi, kita semua bersama-sama menyatakannya dalam bentuk yang konkrit mampu menjaga perdamaian,” katanya.

Suasana sesudah acara perdamaian berlangsung, warga setempat dan warga pendatang, khusus kawasan ramai di sekitar Pasar Yahukimo sudah pulih kembali dan berjalan seperti biasa. “Ini baru ramai kembali pak. Kemarin-kemarin, kami khan masih was-was ya. Biasanya di Yahukimo kalau sudah ada perdamaian situasinya kembali seperti biasa,” kata Danang asal Bandung yang mengadu nasib membuka warung makan di depan Hotel Yahukimo, Selasa (30/10/2018). (Fidelis Sergius Jeminta).

Tinggalkan Balasan