Menikmati Kota Indah Di bawah Kaki Langit Yahukimo

SAYA mesti jujur. Saya sempat gelisah ketika pesawat Trigana Air lepas landas diiringi gerimis dari Bandara Sentani, Jayapura menuju ke Kabupaten Yahukimo pertengahn Juni 2018 lalu. Kami terbang 14.00 Wit tepat dan lama penerbangan 55 menit.  Saya berusaha menghindari rasa gelisah itu dengan menikamati keindahan alam Papua, malah menuai kegelisahan semakin tak terkira, ketika  memandang kabut hitam dan putih tanpa noda. Pada hal, saya bukan kali pertama melintasi kaki langit Papua dengan pesawat kecil, mulai dari jenis Cesna, Karafan, Helikopter, pesawat perang (Hercules) hingga pesawat boeing. Kegelisahan hari itu benar-benar memuncak sampai ubun-ubun, ketakutan melanda hingga mendarat tanpa menikmati lekak-lekuknya alam Papua, Di Bandara Nop Goliat, Dekai, Kabupaten Yahukimo.

 

Saking takut dan lelah, saya tertidur. Rekan sekantor saya, Frengky Kaiway membangunkan saya. “Pa Fidel, bangun! Kita sudah mendarat di Dekai,” sapanya sembari menggoyang-goyangkan bahu saya. “Saya mengusap wajah sembari menikmati keindahan Bandar Udara Nop Goliat Dekai. Boleh juga ya, Bandar Udara ini lumayan besar. Dan saya teringat akan kunjungan kerja Presiden RI, H. Ir. Joko Widodo, ketika menetapkan harga BBM satu harga di Papua. Pantas saja, dia dan rombongannya bisa mendarat di Bandar Udara Nop Goliat Dekai, Bandar Udaranya cukup panjang, 1.500 m2  dan lebar kurang lebih 30 m2.”

 

Kegelisahan dan ketakutan saya selama terbang dari Bandar Udara Sentani hingga Dekai benar-benar terobati. Ketika, kami disapa dengan semilir angin sejuk  berhembus dari antara celah-celah pohon sepanjang ruas jalan, kiri-kanan, menuju pusat ibu kota Kabupaten Yahukimo, Dekai. Gerimis hujan dan kicauan burung-burung bersahut-sahutan bagai sedang menyapa dan menyambut kami.

 

“Saya menghirup udara di bawah kaki langit Yahukimo sambil mengeluarkan dan melepaskan perlahan-lahan udara dari dalam dada sambil menikmati siulan burung dan keindahan ibu pertiwi, Kabupaten Yahukimo, indah, indah sekali!”

 

Saya harus jujur. Saya baru kali pertama menginjakan kaki di Ibu Kota Kabupaten Yahukimo, Dekai. “Bagaimana pa Fidel?” sapa teman saya mengusik lamunan saya yang sedang melahap wajah indah persada Yahukimo. “Luar biasa! Kota ini sangat indah, udaranya bersih dan sejuk. Hutannya sangat asri menghiasi ruas kiri-kanan jalan. Saya berharap tidak ada tangan warganya yang jahil memotong kayu sekitar ini,” kata saya.

 

Dan saya teringat dengan Kuala Kencana, kota dalam hutan, di Timika sama persis, kecuali panataan tamannya agak berbeda. “Saya kira wajar saja beda. Kuala kencana dibiaya penataan tamannya dari butiran emas Tembagapura. Pusat Ibu Kota Dekai, Yahukimo menghiasi diri dari keindahan alam sekitar,  lebih alamiah.”

 

Pagi hari, kita bisa menikmati kicauan burung terdengar merdu bagai penanda adanya hari baru. Saya benar-benar terpana memandang alam sekitar, indah  dan merasakan hari-hari selama disana  hanya miliku. Kadang-kadang, saya memejamkan mata sambil merentangkan tangan merasakan elusan angin sepoi-sepoi basah menggelitik sukma. Bagaimana tidak! Sejuk, tenang dan tidak terlihat pengendara motor menggunakan masker  menutup hidung dan mulut menghindari polusi. Dari pagi, siang, sore hingga malam pesonanya tak pernah padam. Desiran angin dari pegunungan yang melintasi pepohonan bagai sedang menari-nari. Keindahan alamnya memang sangat sempurna dan membuat kita setiap saat terkesima. Maka, saya berharap semua penghuni warga Kota Dekai Yahukimo harus merawatnya dan berupaya mewariskan keindahan Kota Dekai sampai anak cucu. Supaya, keindahannya tidak pernah sirna. Kita harus bisa memberikan kesejukan bagi penduduk bumi hingga anak cucu. Karena, kita membutuhkan oksigen untuk mendapatkan energy, kekuatan dan keindahan alam. Ketika alam tetap stabil dan tidak dikotori tangan jahil, apalagi serakah memotong kayu, bumi pertiwi akan dan senantiasa menemani kita hingga kiamat.

 

 

Tradisi Ibu Alam

Dasar Wartawan! Sesuatu yang bernilai berita tidak bisa diabaikan dan berusaha merekonstruksi nilai-nilai itu menjadi konsumsi publik. Adalah potret kedindahan Ibu Kota Dekai, di Kabupaten Yahukimo masih tetap asri dan  alamiah, menurut salah satu putra asli setempat yang sehari-hari menjabat  Kepala Bidang Udara di Dinas Perhubungan Kabupaten Yahukimo, Markus Bayage menuturkan, kelestarian alam dalam pusat Ibu Kota Dekai sangat erat dengan pandangan hidup warga setempat yang dikenal dengan “tradisi ibu alam.”  Warga setempat memandang tanah dan alam serta seisinya itu sebagai ibu alam. Ibu alam tidak boleh dirusak, karena ibu alam yang mewariskan kehidupan bagi warga setempat.  Pandangan ini diwariskan dari setiap generasi ke generasi dan sangat mengakar dalam kehidupan warga setempat.

“Bagi kami sudah ada zona tertentu untuk berkebun, area perkampungan dan area berburu binatang hutan. Alam sekitar yang ditumbuhi pohon di sekitar perkampungan dihayati sebagai benteng dan perisai melindungi warga kampung dari musuh.  Jadi, kalau ada peperangan antar kampung, pohon dan hutan di sekitar kampung itu sebagai perisai dan benteng perlindungan bagi penghuninya. Jadi, anda jangan heran kalau kita masih bisa menikmati kicauan burung dan menikmati hawa segar setiap hari. Itu buah dari penghayatan hidup warga setempat terhadap alam yang dinilai sebagai “ibu alam,” tuturnya di Kediamannya di kawasan Bandar Udara Yahukimo pertengahan Juni 2018 lalu.

Menurutnya upaya untuk melestarikan penghayatan itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Yahukimo sudah membuat Peraturan Daerah (Perda)  tata ruang kota dan fungsi area dalam pusat kota. “Setahu saya Perda Tata Ruang Kota sudah ditetapkan, kalau saya tidak salah. Tapi coba cek kembali di Bappeda Kabupaten Yahukimo,” katanya.

Upaya membenarkan pernyataan Markus Bayage, media ini mencoba mendatangi Kantor Bappeda Kabupaten Yahukimo. Sayangnya, media ini tidak menjumpai siapa-siapa di Bappeda Yahukimo. Karena, pegawai di Kantor tersebut walau belum jam pulang kantor sebagaimana jadwal jam kerja di Kabupaten lain di Propinsi Papua kosong melompong.

Meski begitu, media ini berhasil mendapat data dan mengamini pernyataan Markus Bayage dari Bupati Kabupaten Yahukimo, Abock Busup, MA.  “Oh, kalau soal Perda Tata Ruang dalam pusat Ibu Kota Dekai sudah di Perdakan. Itu betul!” katanya kepada media ini ketika diskusi selama penerbangan dari Bandar Udara Nop Goliat Dekai hingga mendarat di Bandar Udara Sentani Jayapura pertengahan Juni lalu.

Menurut Bupati Yahukimo, upaya memelihara dan merawat keindahan kota Dekai selain menetapkan Perda Tata Ruang Kota ditindaklanjuti dengan kebijakan kongkrit melarang warga masyarakat tidak boleh mengganggu ekosistem hutan dalam kota. “Saya ambil contoh. Warga sama sekali dilarang memotong kayu dalam hutan yang ada di dalam kota. Warga kedapatan memotong kayu didenda dan diberi sanksi mulai dari sanksi ringan berupa teguran lisan hingga membuat pernyataan. Sanksi berat kami sedang bahas dengan masyarakat adat,” katanya.

Transportasi

Satu-satunya transportasi dari Jayapura menuju ke Kota Dekai Kabupaten Yahukimo menggunakan jasa penerbangan udara. Transportasi udara cukup lancar dengan menggunakan jasa maskapai penerbangan Trigana Air dan Lion Air jenis ATR. Transportasi darat belum ada. Kecuali, lewat sungai dari arah Kabupaten Asmat dengan menggunakan transportasi sungai berupa Kapal kayu yang membawa barang kebutuhan pokok ke Kabupaten Yahukimo. Selain kapal kayu juga ada jasa penyewaan speedboat.

Obyek Wisata

Obyek wisata di Kabupaten Yahukimo sangat beragam, antara lain wisata alam, wisata budaya berupa rumah di atas pohon, dan kekayaan seni tari yang sangat beraneka ragam.

Penginapan

Penginapan di Kabupaten Yahukimo tersedia sebuah Hotel milik Pemda Kabupaten Yahukimo dan sebuah penginapan sederhana yang dikembangkan pengusaha lokal setempat. Fasilitas di dua penginapan itu mirip fasilitas yang tersedia di penginapan elit di Kota Jayapura, Propinsi Papua, kecuali hotel berbintang belum ada.

Makan Khas

Makanan khas penduduk setempat berupa keladi, petatas dan jagung sudah tidak terlihat lagi.Mereka rata-rata lebih suka makan nasi dibanding menikmati keladi, petatas dan jagung. “Meski ada satu makanan khas yang sangat beda rasanya, yaitu jagung. Jagung Yahukimo sangat manis dan terasa kenyal. Nanti kita bisa coba,” kata rekan sekantor saya, Frengky Kaiwai. “Memang! Ketika saya mencoba dan menikmati jagung Yahukimo terasa sangat beda dengan manisnya jagung ketika saya mengenang masa kecil di Flores. Betul sekali!” kata saya mengamini pernyataan Frengky Kaiway.

Disana-sini terlihat warung makan dengan aneka menu. Warga setempat tampak keluar masuk setiap warung makan yang tersedia. Bahkan, ada sebuah warung makan yang bisa memesan menu makanan sesuai selera sudah tersedia pula. Artinya, bagi siapa saja yang hendak berkunjung dan menikmati wisata alam dan wisata budaya di Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo sudah tersedia menu makan sesuai selera masing-masing. Pemandu wisata bagi mereka yang suka menikmati wisata alam dan budaya juga sudah ada. Sehingga bagi penikmat wisata alam dan budaya tidak akan tersesat ketika ingin menikmati wisata budaya berupa rumah di atas pohon. Ingin menyaksikan secara langsung udara bersih, ketenangan alam sambil menikmati kicauan burung dan menyaksikan lekak-lekuk gunung warisan tanah air kita di bawah kaki lagit Kabupaten Yahukimo silahkan mencoba*** (Fidelis S Jeminta)

Tinggalkan Balasan