Budaya Harus Dipertahankan

JAYAPURA (BINPA) – Pastor Yanuarius Matopai Youw, Pr menegaskan, budaya menjadi identitas suku yang harus dipertahankankan. Jangan sekali-kali untuk melupakan budaya. Karena, budaya adalah identitas yang mutlak dan tidak bisa dijual belikan oleh siapapun dan dimanapun.

“Saya minta kepada umat katolik Suku Mee, agar pertahankan budaya. Jangan lupakan budaya. Budaya, Bahasa Daerah, Pakaian Adat dan lainnya,” katanya  dalam Ibadah  Kategorial  Suku Mee Dekenat Jayapuara dan Keerom di Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura, Senin (21/5).

Menurutnya, perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi Komunikasih membuat   umat lupa dengan budayanya sendiri.  Terjermus  ke dalam pengaruh modernisasi. Sehingga, membuat mahasiswa, pemuda/I dan masyarakat mulalupakan budayanya sendiri.

“Perkembangan itu menjadi ancaman bagi kaum awam. Apakah bisa mempertahankan budayanya atau tidak,” tanynya.

Duluh rasa kebersamaan terhadap budaya, manusia dari daerah lain selalu menjadi satu kesatuan. Misalnya, satu daerah punya masalah, daerah lain datang menyelesaikan persoalan itu. Tetapi,  kehidupan itu sudah hilang. Yang terjadi, egois. Mulai membedakan kesukuan dan daerah.

‘Perbedaan-perbedaan itu, harus ditinggalkan. Mari kita tinggal bersama dan persatuan bahwa kami, Suku Mee yang satu untuk mewujudkan Mee yang benar,” katanya.

Youw mengajak, mari kita ciptakan kebersamaan, kesatuan dan persatuan. Karena kemenangan dalam setiap suku berada dalamsatu kesatuan dalam budaya.

Pastor Paroki  Gembala Baik Abepura, James Kossay,Pr menyatakan, ibadah dengan  mengunakan busana budaya adalah ciri khas Papua. Budaya adala identitas yang mesti dijaga dan dipupuk.

“Saya senang sekali bisa melihat umat Suku Mee yang menggunakan busana budaya.  Itu berarti saya masih mempunyai keluarga,” katanya.

Ibadah bernuasa budaya dan kehadirann umat memadatkan gereja adalah satu kebudayaan yang  harus dipupuk.

“Saya berharap,  tidak hanya pada hari pentekoasa saja untuk dirayakakan. Tetapi, tiap harus minggu pun harus padat dengan umat,” harapnya.

Ketua Kategorial Mee Katolik Dekenat Jayapura dan Keerom, Kundradus Agapa menyatakan, perayaan bernuansa budaya Suku Mee itu sudah dilakukan empat kali di paroki yang berbeda-beda dalam tiap tahun sekali.

“Kami berharap, tahun depan  pun akan dilakukan di paroki yang berbeda,” katanya. (A. Gobai)

Tinggalkan Balasan