Papua Voices akan Gelar Kompetisi Festival Film Papua

JAYAPURA (BINPA) – Papuan Voices akan kembali menyelenggarakan Festival Film Papua ke-II (FFP II). FFP II akan dilaksanakan di Kota Jayapura Pada tanggal 7-9 Agustus 2018 mendatang. Tema FFP II adalah  Masyarakat adat Papua di Tengah Arus modernisasi. Tema ini dipilih sebagai bentuk respon  terhadap situasi di Tanah Papua saat ini dan menjelaskan posisi masyarakat adat di tengah arus  pembangunan dan investasi yang makin banyak masuk ke Tanah Papua.

 

“Kami berharap tema ini  memberi ruang bagi para filmaker untuk mengkritisi realita di Papua. Terutama terkait implementasi teori medernisasi dan dampaknya terhadap masyarakat di Papua dan teristimewa masyarakat adat Papua. FFP II bertujuan untuk memperkenalkan situasi masyarat adat Papua dan berbagai Manusia dan kebudayaan merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan,” kata Ketua Panitia Panitia FFP II, Harun Rumbarar dalam jumpa pers di Abepura, Kamis (17/5).

 

Menurutnya, manusia menciptakan kebudayaan untuk kembali membentuk manusia menjadi lebih manusiawi dalam berbagai aspek  kehidupan. Dalam hal ini, modernisasi sebagai transformasi kehidupan merupakan sebuah wacana besar tentang manusia dan kebudayaan.

 

“Permasalahannya lewat film dokumenter, membangun kesadaran publik akan isu-isu penting yang  dihadapi oleh masyarakat adat Papua. Dan mendorong dan memperkenalkan filmaker muda Papua  yang terampil dalam produksi dan distribusi film dokumenter dan sebagai wadah untuk  memperkuat jaringan filmakers di Tanah Papua,” katanya.

 

Kompetisi film adalah salah satu kegiatan penting dari Festival ini di mana film-film terbaik hasil  kompetisi akan diputarkan saat festival berlangsung. Informasi lengkap mengenai kompetisi  dapat dilihat pada Lampiran Pengumuman Kompetisi Festival Film Papua.

 

“Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan FFP II, akan diselenggarakan pelatihan film di wilayah- wilayah Komunitas Papuan Voices, Worskhop media, dan kompetisi Film,” katanya.

 

Ada beberapa per persyaratan yang akan dikopetisikan diantara, syarat pertama pendaftaranya gratis, usia menimal peserta 17 tahun keatas. Jika usia belum mencapai 17 tahun wajib ada pendamping. Film berjenis dokumnter, durasi  film maksimal 30 menit termasuk opening dan credit title

 

Koordinator umum Papuan Voices, Max Binur menyatakan, Papuan Voices adalah Komunitas Filmmaker Papua yang fokus memproduksi documenter berdurasi pendek tentang Manusia dan Tanah Papua. Filmmaker Papua hendak menyampaikan pesan-pesan kepada seluruh lapisan komunitas masyarakat di Tanah Papua, Indonesia dan  Internasional untuk melihat Papua melalui “mata” orang Papua sendiri dalam bentuk film  dokumenter.

 

Papuan Voices terbentuk Tahun 2011 ketika Engage Media, Justice Peace and Integration of  Creation (JPIC) MSC Indonesia dan Sekretariat Keadilan Perdamaan dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Franciscan Papua (FP) bekerjasama dan mulai melatih para filmmaker baru di Papua. Papuan Voices sudah memproduksi beragaman jenis film dokumenter serta menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk melahirkan para filmmaker di Tanah Papua.

 

“Saat ini Papuan Voices tersebar di 6 daerah di Tanah Papua, yakni: Biak, Jayapura, Keerom,

Wamena, Merauke dan Sorong dan Raja Ampat,” katanya. (A. Gobai)

 

Tinggalkan Balasan