Denominasi Gereja Doa Bersma Pasca Ledakan Bom Surabaya

 

JAYAPURA (BINPA) – Ribuan umat dari berbagai denominasi Gereja di Propinsi Papua menggelar doa bersama dan menyalakan seribu lilin di Taman Imbi Jayapura Kota. Dan sebelum itu di Gereja Katedral Dok V Jayapura, Gereja Paroki Gembala Baik Abepura dan masing-masing denominasi gereja  Ratusan umat sesudah doa bersama menyalakan lilin, Minggu (13/5).

Dari pantauan di lapangan dan informasi yang berhasil direkam media ini dari 29 Kabupaten dan Kota di Propinsi Papua serentak dari Minggu (13/5) hingga Senin (14/5) menggelar doa bersama mengenang tragedi dan  korban bom bunuh diri di Surabaya.

Andri Inyur, koordinator aksi yang juga Ketua Pemuda Katolik Katedral Dok V mengatakan doa bersama dan pembakaran lilin itu dilakukan secara spontan oleh para umat dan pemuda.

“Atas kemurahan hati, teman-teman melakukan aksi ini supaya mengungkapkan rasa prihatin kami kepada para korban,” katanya.

Dia mengaku  sedih  apa yang dialami para korban sekaligus menanamkan nilai-nilai solidaritas dalam keragaman umat beragama. Dan salah seorang umat, Jendrik Krimadi mengatakan, doa bersama dan pembakaran lilin itu bentuk keprihatinan atas jatuhnya banyak korban bom bunuh diri di Surabaya.

“Kami berharap kejadian yang harus menelan korban jiwa ini tidak terulang lagi ke depannya, dan masyarakat khususnya di kalangan Gereja Katedral Jayapura tidak terprovokasi,” ujarnya.

Diajak Hargai Perbedaan

Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Timika, Mgr John Philip Saklil Pr mengajak umat Katolik menghormati dan menghargai perbedaan di antara sesama manusia sebagai rahmat Allah, bukan sebagai hal yang dipertentangkan.

“Sampai sekarang hidup manusia penuh dengan pertentangan. Sejak dunia ini diciptakan, perbedaan itu sudah ada. Rambut dan warna kulit berbeda-beda, bahasa berbeda-beda. Agama juga berbeda-beda. Bahkan dalam satu keluarga pun berbeda-beda. Tuhan menciptakan beraneka warna itu agar semua orang bisa bersatu dan saling melengkapi,” katanya.

Uskup yang sangat bersahabat kaum kecil ini menegaskan, tidak ada satupun manusia yang tidak luput dari dosa. Hanya dengan saling menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan itu maka manusia bisa membangun persekutuan dan solidaritas yang penuh damai.
Seribu Lilin di Timika

Umat dari bergai denominasi Gereja melakukan aksi seribu lilin di Timika, Senin (14/5) malam, sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Surabaya khususnya keluarga dan korban bom bunuh diri Minggu (13/5) dan Senin (14/5).

Aksi seribu lilin yang diprakarsai  kaum muda Timika tersebut dipusatkan di bundaran tugu perdamaian Jalan Budhi Utomo, Timika.

Aksi solidaritas yang disimbolkan dengan menyalakan lilin tersebut diikuti masyarakat dari berbagai kalangan. Sebelum menyalakan lilin, warga yang hadir diminta untuk berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

Sementara doa dipimpin oleh seorang pendeta suasana menjadi hening, warga yang hadir memanjatkan doa dengan khusyuk. Usai doa, warga bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan menyalakan lilin oleh perwakilan kepolisian, wartawan, perempuan dan anak-anak.

Kemudian warga yang lain menyalakan lilin yang sudah diatur berbaris mengelilingi bundaran tugu perdamaian.

Aksi seribu lilin untuk korban bom Surabaya  (Foto: Antaranews Papua/Jeremias Rahadat)
Koordinator aksi seribu lilin untuk Surabaya, Simon Rahanjaan mengatakan aksi tersebut selain sebagai bentuk solidaritas bagi keluarga dan korban melainkan juga sebagai bentuk dukungan kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya warga Surabaya untuk melawan terorisme.

Ia juga mengajak seluruh warga Timika untuk tidak takut terhadap teroris. Teroris sebagai musuh bangsa Indonesia harus dilawan. Para orator yang lain juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memerangi terorisme. Selain itu, juga agar masyarakat bersama-sama membantu kepolisian untuk memerangi terorisme.

Warga yang hadir pada kegiatan tersebut mengapresiasi inisiatif kaum muda untuk menggelar aksi tersebut. Sejumlah warga juga menyampaikan keprihatinannya atas apa yang dialami oleh saudara sebangsa dan setanah air di Surabaya. (Del/Karl/Gobai/Ant)

 

Tinggalkan Balasan