MRP Minta Jatah Terima Polisi OAP 70 Persen

JAYAPURA (BINPA) – Ketua Tim Panitia Khusus (Pansus) Afirmasi Calon Siswa (Casis) Majelis Rakyat Papua (MRP), Edison Tanati mengaku dalam pertemuannya dengan Wakapolda Papua, Kombes. Pol. Drs. Yakobus Marjuki membahas dan meminta jatah penerimaan atau rekrutmen Akpol, Bintara dan Tamtama menerima 70 persen untuk Orang Asli Papua (OAP).

“Kami MRP berterimakasih kepada Polda Papua yang telah memberikan ruag kepada anak-anak Asli Papua untuk merekrut masuk dalam anggota Polri. Baik itu Akpol, Bintara dam Tamtama. Karena posisi kuota yang diberikan Polda Papua sebesar 70 persen untuk OAP dan 30 persen untuk non Papua,” Kata Tanati Kepada Bintang Papua di Ruang Sekretariat Pansus Afirmasi MRP, Abepura Senin (7/5).

Dia mengaku kalau Polda Papua, itu 70 untuk OAP dan 30 untuk non OAP. Sedang Polda Papua bararti 50 dan 50. Makanya MRP yang membidangi  Pansus Afirmasi sangat berterima kasih kepada Kapolda dan Wakopolda. Karena kedua pejabat tera di Polda Papua ini   telah memberika ruang yang baik bagi anak-aak putra Papua untk masuk bergabung dalam anggota Polri dalam Casis.

Menurutnya, MRP sudah menekankan pada saat berdialog itu kepada Wakapolda Papua yang sebagai Panitia Seleksi. Kuato 70% untuk diamankan memang. Mereka sudah kasih 70 persen  ada kemudahannya yaitu pengecualian untuk tinggi badan untuk daerah pegunungan untuk laki-laki 170 cm. Juga  perempuan 153 Cm.

Pansus Afirmasi juga mendoroing yang ke Akpol. Kalau boleh psikotes itu, kalau yang tadinya nilai rata-rata 61 untuk standar nasional disesuaikan dengan kondisi di Papua.

“Untuk kekhushususan  70 persen  Papua.  Kami minta untuk menutupi kuato 70 persen itu. Dan menurunkan greatnya 50-60 diakomodir. Karena kalau tidak banyak anak Papua yang akan gugur menyangkut kesehatan,” katanya.

Masalah kesehetan, bagi MRP miminta kepada Polda Papua khusus Pansus Afirmasi tidak bisa dikompromi lagi. Jadi, calon siswa kalau sakit tetap jatuh. Jangan memberikan ruang untuk masuk. Lebih bagus kasih gugur di kesehatan. Supaya dia berobat,  tahun depan bisa tes.

“Jangan sakit hepatitis, paru-paru dikasih masuk. Karena jangan sampai di saat latihan dia bisa jatuh sakit.  Itu yang masih kita maklumi. Kami tidak mau kalau ada image di Negara ini bahwa Polis Papau itu tidak sehat dalam menjalankan tugas. Maka, kami MRP masalah kesehatan tidak bisa dikompromi. Sementara nilai 60-50 bisa didorong masuk dan mengikuti tes masuk,” katanya.

Dia menegaskan, MRP berniat bagi anak asli Papua yang masuk tes polisi, criteria kesehatan menjadi prioritas utama.  “Kita haus dapatkan polisi yag sehat secara jasmani dan rohani. Kami sudah sepakati bersama Wakapolda dan Disepakati tes kesehatan di RS Bayagkara. Namum, kami masih tunggu Kapolda Papua untuk selanjut membicarakannya. Tetapi keputusan ini Kapolri  sudah bisa  tahu,” katanya.  (A. Gobai)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan