Paska dan Pilkada

 

USKUP  Keuskupan Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar OFM da lam pesan paskah 2018  dan Pilkada menyampaikan, Paskah merupakan pristiwa  keagamaan (iman), khususnya bagi umat Kristen.Umat merayakan puncak hidup Yesus  yang wafat di salib tapi dibangkitkan oleh Allah.Yesus kristus sudah bangkit dari antara orang mati, dalam Dia dan bersama Dia kita juga  akan dibangkitkan, itulah paska Kristus, itu juga paska kita, katanya  di Jayapura, Kamis pekan kemarin.

Lebih jauh Mgr. Leo mengatakan, kita merayakan paskah Kristus dan juga paskah kebangkitan kita dengan lebih dahulu menjalani masa puasa dan pertobatan. Kebangkitan kita sudah mulai sekarang ini kalau kita menjalankan puasa sebagai cara belajar mati raga.

‘’ Sebagaimana Kristus yang terlebih dahulu  wafat dan dimakamkan baru kemudian bangkit, demikian juga kita harus mati dulu baru kemudian dibangkitkan bersama Dia maka dengan kebangkitan-Nya, Yesus dilantik  Allah Bapa menjadi Tuhan dan Kristus (artinya orang yang di urapi) atau Mesias dalam Kitab Suci.Yesus resmi sebagai Mesias atau Kristus. Kata Mesias itu berasal dari bahasa Ibrani, yang berarti Kristus dalam bahasa Yunani. Artinya  Yesus Kristus dengan kebangkitan itu diurapi, diberi nama dan Tuhan dan Kristus,” ujarnya.

Dengan dibangkitkan, Yesus menjadi Tuhan dan Raja, penguasa di atas segala-galanya, dan orang yang diurapi (dipenuhi Roh Kudus) untuk mewartakan keselamatan.

Oleh karena itu, Perayaan paskah merupakan perayaan tentang kebangktan Yesus Kristus, yang dimuliakan dan hidup baru. Manusia lama-Nya disalib. Sekaligus ini jaminnan untuk umat yang percaya . “Maka dikatakan siapa yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Kristus ia mendapat pengampunan dan kehidupan kekal. Itu inti iman,” katanya.

Dia menjelaskan, dalam tradisi katolik , iman dirayakan dalam liturgi (ibadat), mulai dari Jumat Agung, malam Paskah (perarakan lilin Paskah) dan hari Paskah. Seluru paskah dirayakan dalam liturgi. Iman kita tidak mengambang pada teori tapi dihayati dalam liturgi.

Ia juga menekankan,iman diwujudkan dalam aksi dimasyarakat,terutama soalcara hidup, praktik moral.

“Berarti cara hidup kita, moral kita, tingkah laku kita, harus memperlihatkan bahwa kita diselamatkan oleh Yesus Kristus. Manusia lama, manusia baru. Manusia lama disalibkan bersama Yesus Kristus. Manusia baru kebangkitan,” katanya.

Paskah didahului prapaskah. proses untuk menjadi manusia baru sambil mengalahkan manusia lama. Manusia baru selalu dijiwai semangat Yesus Kristus, hidup untuk Tuhan dan sesama, maka berani berkorban.

Soal perubahan tingkah laku, menurutnya, merupakan tekad manusia.

“Tuhan Yesus yang bangkit dalam Roh-Nya menyertai kita sehingga Dia membantu kita untuk mengalahkan manusia lama dan hidup sebagai manusia baru yang bangkit. Sering kita lihat kenyataan, kalau kita mengandalkan disiplin diri, tapi yang dimaksud Tuhan orang dibarui dari hati. Tunduk seperti Yesus taat hingg wafat di salib,” katanya.

Soal korupsi dan Pilkada, bapa Uskup  mengatakan korupsi makin menggila sekarang. Oknum-oknum koruptor seperti tidak merasa bersalah.

“ Kalau kita orang beriman, pertama-tama manusia baru, suara hatinya. Kita dipanggil untuk menjadi orang benar, jujur. Kebenaran itu dari Allah. Karena itu harus dengar suara hati. Tapi banyak orang seakan-akan ini tidak terkait dengan iman,” katanya.

Maka dalam ‘’ Tahun politik ‘’ ini , ketika kita melaksanakan kegiatan -kegiatan untuk mewujudkan hak-hak demokrasi kita, ada banyak godaan dan tantangan yang menghambat kitauntuk berlaku jujur dan adil.

Seperti Yesus ketika berpuasa dipadang gurun di goda oleh iblis,kitapun dihadapkan pada godaan  yang serupa selagi menjalankan puasa . Godaan -godaan itu berkaitan dengan makanan,kekuasaan dan ketuhanan (Matius.4:1-11) . Dan sebelum disalibkan, Yesus Kristus yang digoda oleh iblis saat berpuasa 40 hari  di Padang Gurun. Pertama disuruh ubah batu jadi roti. Yesus katakan manusia hidup bukan hanya dari roti tapi dari sabda Allah.

“ Ini mau mengatakan, kita memang cari makan, tapi perut itu tidak begitu penting. Makan itu penting tapi jangan nilai-nilai lain dikorbankan,” katanya.

Godaan kedua, Yesus dibawa ke bukit dan iblis memperlihatkan kerajaan-kerajaan dunia. Kalau Yesus mau agar itu semua miliknya, maka Ia harus menyembah iblis. Tapi Yesus bilang kita sebagai ciptaan Allah harus menyembah Allah, bukan memuja barang-barang duniawi.

“ Dalam suasana Pilkada, ia mengatakan yang dikejar kekuasaan. Terkadang orang melupakan nilai-nilai lain manusia karena kuasa. Maka jangan heran calon-calon main kasar, curang karena mau rebut kuasa. Yesus bilang kalau  kita orang beriman harus menyembah Allah,” katanya.

Godaan ketiga, Iblis membawa Yesus ke puncak Bait Allah dan disuruh terjun,sebab malaikat akan menolong dia.

“ Ini mau mengatakan ada praktek keagamaan yang tidak tepat. Yang hanya mau mencari hal-hal ajaib. Artinya bukan kepentingan Allah to? Maka Yesus katakan jangan mencobai Allah,” katanya.

Godaan-godaan serupa itu sering muncul dalam masa-masa kampanye politik.Kita diiming-iming untuk memihak mereka yang menjanjikan kesejahteraan ekonomi tanpakeseimbangan dengan nilai-nilai rohani keagamaan.

Agama tidak dihayati sebagai ungkapan iman kepada Allah yang benar tetapi merosot menjadi himpunan peraturan magis yang bisa dipakai untuk menundukan Allah agar ia melakukan apa yang kita inginkan orang bersaing merebut kuasa dan jabatan dengan menyalahgunakan agama sebagai alat kampanye politik.

Seringkali beragama itu hanya mengharapkan sesuatu yang luar biasa. Padahal kita ke gereja untuk menyembah Allah. Dalam paskah Yesus mengorbankaddiri untuk keselamatan manusia.

Tahap iman, diungkapkan dalam ibadat (liturgi), dalam prilaku. Ini seringkali praktiknya tidak berhasil. Keluar dari gereja tidak ada bekasnya dalam prilaku.Artinya paska tidak berlanjut, bagaimana hidup sebagai manusia baru dalam masyarakat tidak diterjemahkan.  SELAMAT PASKAH.TUHAN MEMBERKATI .(Karlos)

Tinggalkan Balasan