Pendidikan Di Kabupaten Mappi Memprihatinkan

JAYAPURA (BINPA) – Tim Pemerhati Pendidikan Kabupaten Mappi yang terdiri dari Gereja dan Adat meminta Majelis Rakyat Papua (MRP) agar berbicara tentang hancurnya Pendidikan di Mappi. Hal ini disampaikan Tim Pemerhati Pendidikan Kabupaten Mappi kepada Bintang Papua di Kantor MRP, Senin,(26/03) siang.

Suster Sebastiana Nowan, PBHK dan ketua LMA Mappi, Falentinus Tengekaimo bertemu Sektretaris MRP, Drs. Wasuok D. Siep di ruang kerjanya di Kantor MRP Kota Raja. Dari hasil pertemuan dengan MRP, Suster Sebastiana Nowan, PBHK mengatakan, pihak MRP sudah menerima Surat Izin beserta isinya karenanya Sektertariet MRP akan menindak lanjuti ke ketua dan Perwakilan Daerah Pemilihan Mappi, ujar.

Suster Sebastiana Nowan, PBHK mengatakan, Utusan Komunitas Tarekat Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) Eci, Paroki St. Yoseph Aboge, Distrik Passue dan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) datang ke Jayapura untuk meminta Majelis Rakyat Papua (MRP) berbicara Pendidikan di Mappi. “Pemerhati Pendidikan ini harus melalui perjalanan panjang, harus melewati daerah rawa dan sungai dengan menggunakan Motor air. Selain itu mereka harus terbang dengan pesawat ke Jayapura, semuanya itu untuk bertemu MRP, supaya berbicara tentang keterpurukan Pendidikan di Mappi”, paparnya.

Terbuai Dengan Gaharu

Pendidikan di tingkat Kampung dan Distrik kian merosot sejak 30 Tahun terakhir ini, Lebih khususnya di Distrik Passue, Pendidikan tidak membawa suatu perubahan baik fisik maupun sumber daya manusianya. “Dengan uang yang masuk ke Distrik Passue pun tidak membawa suatu perubahan bagi dunia pendidikan di sana baik fisiknya maupun Sumber Daya Mannya (SDM)”, tutur Nowan, PBHK.

Distrik Passue  menjadi pusat usaha bisnis kayu bernilai tinggi alias kayu gaharu di daerah itu kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) di Kabupaten Mappi. Hutan tersebut telah berubah menjadi penyihir harta karun sehingga masyarakatnya lebih memilih tinggal di hutan daripada hidup di Kota atau Distrik Passue. Orang tua yang tidak sadar akan pentingnya pendidikan ikut membersar anak usia sekolah di hutan, mereka ikut mencari kayu Gaharu siang dan malam.

Hutan kayu gaharu seakan menjadi magnet banyak orang, sehingga terpaksa meninggalkan profesi seperti guru dan profesi laninnya karena tuntutan ekonomi yang sangat menjanjikan. Guru guru tidak ada di tempat tugas untuk menjalankan profesinya sebagai pendidik yang mempunyai kewajiban mendidik Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa ini. Mereka sama sekali tidak peduli dengan tugasnya.

Orang tua memberikan uang banyak kepada anak tetap mereka tidak mendidik anak bagaimana menggunakan uang itu dengan baik. Akibatnya anak anak yang masih usia sekolah memakai uang hasil kerja keras orang tuan mereka untuk di bahis dengan bermain judi.  Judi untuk masyarakat di Distrik Passue sudah menjadi hiburan ketika tidak ada kegiatan atau ketika ada masalah, mereka memlilih menggantikan kegiatan mencari uang dengan bermain judi.

“Anak sekolah bisa rajin ke sekolah ketika akan mengikuti ujian kenaikan kelas atau jika itu ada Ujian Nasion (UN) baru guru-guru sibuk mencari dan mengumpulkan anak-anak di hutan untuk memberikan materi Ujian kenaikan Kelas”, terang Nowan.

Guru-guru yang belum sertifisikasi dan guru yang jarang berada di sekolah akan berpengaruh terhadap masa depan sumber daya manusia Papua di Kabupaten Mappi, khususnya, katanya.

Anak Didik Tidak Bisa Baca Tulis

Sumber Daya Manusia (SDM) di Daerah itu, sangat merugikan bangsa, terutama anak dididk karena anak didik tidak bisa membaca dan menulis dengan baik dan lancar seperti anak lulusan sekolah dengan perhatian guru dan orang tua.  Siswa-siswi ini banyak yang tidak melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tingkat Pertama (SMP) atau pun Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Kejuruan (SMK). Pada akhirnya Daerah Kabupaten Mappi yang sangat rugi karena Sumber Daya Manusia untuk melanjutkan Pembangunan di masa depan kabupoaten itu, tidak dapat diandalkan.

“Saya ini sudah jalan dari Kampung ke Kampung yang kurang lebih ada 15 (lima belas) Kampung di Daerah itu, bagaimana menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) 50 (lima puluh tahun) mendatang. Bagaimana menjawab persoalan Sumber Daya Manusia di Distrik Passue yang kaya dengan gaharu,  kita lihat hutannya rusak, SDM-nya juga rusak. Karena anak-anak di hadapkan pada berbagai tantangan dan berbagai kesulitan. Saya lihat anak-anak sudah jarang ada di Kampung. Karena anak-anak  semua ada di lokasi kayu gaharu”, tutur wanita yang hobbynya membaca buku.

Wanita Kelahiran 15 Desember 1957 di Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digoel itu lebih jauh mengatakan, hutan sudah menjadi tandus dan berawa. Kondisi itu hampir terdapat di seluruh areal penebangan hutan gaharu. Arealnya menjadi rawa hidup dan terus dicari oleh masyarakat kayu gaharu dalam rawan penggalian tanah oleh para pencari kayu bernilai emas. Masyarakat tidak di hantui rasa takut lagi tetapi dari kolam rawa itu terus mendorong mereka untuk mencari gaharu dalam kolam yang mereka gali itu, katanya.

Pemerintah Perhatikan Pendidikan di Mappi

Ia menyarankan agar pemerintah segera turun tangan melihat kondisi masyarakat dan aktivitas masyarakat yang tidak peduli dengan masalah pendidikan di sana. Kepada Pemerintah Kabupaten dan Provinsi supaya dapat memperhatikan masa depan pendidikan di Kabupaten Mappi. Harapan ini muncul dari Gereja dan Adat, agar MRP berbicara soal Pendidikan di Mappi.

Gereja dan Adat di Kabupaten Mappi juga berharap agar Dinas Pendidikan Provinsi Papua dan Persatuan Gruru Indonesia untuk turun tangan dan melihat langsung kondisi yang terjadi di Kabupaten Mappi, khusus di Distrik Passue, papar Suster Sebastiana Nowan, PBHK.

Sebelumnya Suster Sebastiana Nowan, PBHK  berangkat ke Mappi dan berdialog dengan Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Mappi MRP berbicara Pendidikan di Mappi, Falentinus Tengekaimo dan Sektretarisnya dan mengutusnya untuk bertatap muka dengan MRP di Jayapura. Bersama Lembaga Masyarakat Adat (LMA) mendatangi kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) untuk bicara Pendidikan. Suster Sebastiana Nowan dan Tarekat Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) Eci, Paroki St. Yoseph Aboge, Distrik Passue dan ketua LMA Mappi, datang ke Jayapura atas dasar Surat Izin, kata Sebastiana.

Anak ke 2 dari 3 bersaudara ini mengatakan, dia di Kabupaten Mappi itu sudah lama yakni, 30 tahun bertugas dan melayani masyarakat, khususnya di Paroki St. Yoseph Aboge, Distrik Passue, Kabupaten Mappi. Di sana mereka diskusi, tentang masalah pendidikan. “Kemudian mereka kasih keluar satu surat, perihal Permohonan Izin yang memperkuat LMA untuk kegiatan Para Pemerhati Pendidikan yang berkeinginan bertemu MRP dan Dinas terkait lainnya. Utusan Komunitas Tarekat Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) Eci, Paroki St. Yoseph Aboge, Distrik Passue, Kabupaten Mappi adalah kelompok Pemerhati Pendidikan yang ikut membangun Mappi.

Kelahiran Distrik Waropko ini mengatakan, Guru yang mengajar di Pedalaman Distrik Passue, Kabupaten Mappi adalah guru-guru yang bukan tamatan Kursus Pendidikan Guru (KPG), Merauke atau Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Lembaga Pendidikan Guru lainnya. Namun para guru ini hanya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan tidak memiliki sedikit kualifikasi dalam Bidang Pendidikan. Ini benar berpengaruh dalam proses belajar mengajar dan interaksi antara guru dan murid kelas, papar Sebastiana, mengahkiri wawancara dengan Bintang Papua (Torip).

Tinggalkan Balasan