Diam-Diam Pertamina Naikkan Harga Pertalite

JAYAPURA (BINPA) – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite akibat penyesuaian harga BBM dunia, yakni dari Rp 7800 per liter menjadi Rp 8000 per liter

juga berlaku di seluruh SPBU yang ada di Papua.

Pihak Pertamina pun terkesan menaikkan harga secara diam-diam, dalam hal ini tidak ada pengumunan sebelumnya.

Seperti diakui Rudi Irfan, selaku Operasional SPBU Codo, di Padang Bulan, Distrik Heeram, Kota Jayapura. Bahwa pihaknya diberi informasi kenaikan harga Pertalite sekitar dua jam sebelum resmi harganya dinaikan, yakni pada Jumat (24/3) pukul 22.00, dan pada pukul 24.00 WIT atau Sabtu (24/3) pukul 00.00 WIT harga Pertalite sudah naik.

“BBM yang naik hanya Pertalite dari Rp 7800 per liter menjadi Rp 8000 per liter, yang lain tidak,” ungkap Rudi saat ditemui Bintang Papua di SPBU Codo Padang Bulan, kemarin.

Terkait kenaikan harga Pertalite tersebut, menurutnya, tidak ada respon apa-apa dari masyarakat, terutama konsumen yang melakukan pengisian pertalite di kendaraan bermotornya.

“Hanya masyarakat yang membeli dalam jumlah banyak, misalnya satu drum, baru bertanya, ohh harganya naik ya?,” jelasnya.

Untuk dampak kenaikan pertalite di Papua, hingga berita ini diturunkan pihak manajemen PT Pertamina MOR VIII Maluku-Papua belum berhasil dikonfirmasi.

Sebagaimana dikutip dari vivanews, kenaikan harga Pertalite tersebut menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dunia.

Dalam hal ini, pihak Pertamina, sebagaimana diungkapkan External Communication Manager Pertamina Arya Paramita bahwa kenaikan harga tersebut agar Pertamina tetap bisa bertahan untuk menyediakan BBM dengan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan konsumen secara terus-menerus, sehingga tidak mengganggu konsumen dalam beraktivitas sehari-hari di mana pun.

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan bakar minyak Pertalite ini dipicu harga minyak dunia yang terus naik.

“Penyesuaian harga BBM jenis Pertalite merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik dan pada saat bersamaan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika,” ujarnya.

Kemudian, kata dia, karena faktor penentu kenaikan harga bahan bakar minyak mengharuskan perubahan harga.

“Saat ini harga minyak mentah sudah hampir menyentuh angka 65 dolar per barel, ditambah nilai rupiah juga menunjukkan kecenderungan melemah,” ujarnya.

Menurut Arya, sebenarnya Pertamina sudah berupaya untuk bertahan dengan harga saat ini agar masyarakat tidak terlalu berat. Namun, harga bahan baku yang meningkat tajam, mengharuskan kenaikan harga BBM pada konsumen akhir.

“Ini pilihan berat, tapi kami tetap mempertimbangkan konsumen, dengan memberikan BBM berkualitas terbaik dengan harga terbaik di kelasnya,” ujarnya.

“Keputusan untuk menyesuaikan harga merupakan tindakan yang juga dilakukan oleh badan usaha sejenis, namun kami tetap berupaya memberikan harga terbaik bagi konsumen setia produk BBM Pertamina,” katanya.(aj)

Tinggalkan Balasan