SMP Negeri 1 Senggi Dalam Usianya ke 33 Tahun, Tidak Pernah di Rehap

 

KEEROM (BINPA) – Sejak Tahun 1984 hingga Tahun 2017, Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri 1 Senggi, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, belum pernah direhap ulang oleh pemerintah. Padahal SMP Negeri 1 Senggi tersebut, terlihat sangat tua dan bangunanya telah rusak. Hal itu disebabkan, karena bangunan SMP Negeri 1 Senggi itu dibuat dari papan dan balok sehingga terlihat mulai lapuk dan berlubang.

Apabila tidak dilakukan rehap terhadap bangunan SMP Negeri 1 Senggi, dikuatirkan akan  membahayakan bagi siswa-siswi saat bersekolah. Padahal SMP Negeri 1 Senggi ini berada diwilayah perbatasan RI- PNG sehingga harus menjadi perhatian dari pemerintah.

Kepala SMP Negeri 1 Senggi, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Syamsudin,S.Pd menjeskan, SMP Negeri 1 Senggi memiliki 6 kelas, yang terdiri dari Kelas 7,8 dan Kelas 9. Untuk Pengawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 15 Orang, Honorer 5 Orang dan Tata Usaha sebanyak 3 Orang. Sedangkan jumlah siswa- siswa sebanyak 208 Orang.

“SMP Negeri 1 Senggi sejak didirikan tahun 1984, hingga saat ini belum dilakukan rehap berat padahal bangunannya sudah mulau rusak. Perbaikan yang dilakukan selama ini, masih sebatas skala kecil. Akan tetapi dari Informasi yang ada bahwa SMP Negeri 1 Senggi berdekatan dengan Bandara dan karenanya akan berdampak pada bangunan SMP Negeri I Senggi dikala Bandara akan diperluas.

Untuk menghindari dampak perluasan Bandara, maka sekolah ini diharapkan segera dipindahkan atau direlokasikan ditempat lain. Apabila SMP Negeri 1 Senggi tidak mau di rehap. Makanya sangat dibutuhkan perhatian dari pemerintah daerah untuk mengatasi hal itu,”katanya kepada wartawan saat ditemui di halaman SMP Negeri 1 Senggi, Minggu (18/3) lalu.

Apalagi ditahun 2018 ini, SMP Negeri 1 Senggi akan menghadapi Ujian Nasional Berbasis Kompotensi (UNBK), tetapi pasilitas di sekolah tidak dilengkapi sehingga sangat sulit untuk mengikuti UNBK dan sementara ini siswa akan mengikuti ujian secara manual atau dengan menggunakan Pencil 2 B. Sedangkan Sekolah yang berada di Arso dan Skanto telah menggunakan UNBK. “ Kami berharap SMP Negeri 1 Senggi tidak ketinggalan seperti Sekolah yang ada di Arso dan mengharapkan perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Keerom,”ujar Syamsudin.
Ditambahkan, dari 208 siswa sebanyak 198 Orang Asli Papua (OAP) dan sisinya dari berbagai suku lain seperri Jawa, Sulawesi dan Maluku. “ Persoalan ini kami sering melaporkan ke Dinas Pendidikan agar SMP Negeri 1 Senggi diperhatikan. Padahal sekolah lain sering diperhatikan tetapi Sekolah kami tidak pernha diperhatikan. Apalagi Laboraturium tidak ada isinya, hanya bangunan saja,”jelasnya. (rhy)

 

Tinggalkan Balasan