“Great Wall” Tiom

“Dari Jakarta?” tanya Jack.

“Iya. Indonesia,” jawab saya. Jack tertawa keras sambil menjabat tangan saya.

Jack adalah Pegawai Negeri Sipil di Sekretariat Daerah Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua. Dia memberi tahu saya bagian-bagian mana saja dari acara “Bakar Batu” yang harus dipotret.

“Kalau bisa Pak bangun jam 5 pagi saat wam (babi) disembelih. Itu seru,” katanya.

“Tapi Pak ini agamanya Kristen ato Muslim ka?” tanyanya lagi.

“Kristen Katolik,” jawab saya.

“Ah, aman sudah,” jawab Jack lega. Soalnya pesta Bakar Batu selalu identik dengan daging babi.

 

Tiom yang Dingin

Tetapi bangun pukul 05.00 pagi di Tiom (Ibu Kota Kabupaten Lanny Jaya) pada pertengahan Desember bukan perkara gampang. Suhu berkisar  antara 7-10 derajat Celsius. Sepanjang tahun, pagi dan malam hari,  suhu di Tiom tidak pernah lewat dari 20 derajat Celsius. Bagi daerah tropis, ini dingin yang keterlaluan.

Tiom berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Bulan September 2015 lalu, suhu pernah mencapai tiga derajat di Tiom,  karena di Kuyawage, yang berjarak 30 km  di atas  Tiom sedang turun embun es (frost) yang merusak tanaman pangan warga. Suhu berada di bawah nol. Paceklik hebat terjadi di sana.

“Waktu itu,  di sini juga dingin bukan main. Kita berdiang di api sudah mau bakar-bakar tangan. Dinginnnn.. banget,” kata Wahyudi, tukang bangunan asal Lamongan, Jawa Timur. Ia sedang menyelesaikan pengecatan beberapa bangunan di Tiom. Wahyudi tinggal di mess, di samping rumah dinas Sekda.

Memang Tiffany Kawengian, staf  Sekda Lanny Jaya sudah mengingatkan untuk membawa jaket tebal. “Sedang dingin-dinginnya di Tiom sekarang,” katanya. Para staf  Sekda selalu menertawai saya. Siang-siang, saya masih membungksus diri dengan selimut wol.

“Keterlaluan dinginnya,” kata Mark Holt (62) separuh menggerutu.

Padahal Melbourne, Australia,  asal Mark lebih dingin. Tetapi rupanya Mark hanya membawa jaket tipis. Beberapa kali,  ia masih berselubung selimut sambil sarapan. Atau saat makan malam.

“Saya pikir tidak sedingin ini,” ujarnya.

 

50 Tahun PGBP

Mark dan saya, dan utusan dari berbagai gereja di Papua, serta 25 ribu jemaat Gereja Baptis Papua berjumpa di Tiom atas undangan Panitia “Yubileum 50 Tahun Emas Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua (PGBP)” pada Desember 2016 lalu. Acara itu sengaja dirayakan dengan sangat meriah dengan pesta “bakar batu”.

“Sebagai rasa syukur atas 50 tahun lembaga PGBP,” Chris Sohilait, ketua panitia, memberi alasan. Chris sehari-hari adalah sekda di Kabupaten Lanny Jaya.

Mark, tamu khusus dalam perhelatan syukur itu. Ia sengaja diundang dari Global Inter Action (GIA) yang berkantor pusat di Melbourne Australia. GIA merupakan induk  bagi ratusan denominasi Gereja Baptis yang tersebar di banyak negara di Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Kepulauan Pasifik. Gereja Baptis Papua juga bergabung di sana. Dulu, organisasi ini bernama The Australian Baptist Missionary Society (ABMS). Ketika masih bernama ABMS inilah, para pendahulu Mark membuka penginjilan di Tiom.

Mark kenal Tiom. Ia pernah tinggal di sana selama tiga tahun sejak 1979 sampai 1982. Lalu, ia pindah ke Makki, kawasan yang terletak sekitar 20 kilometer di bawah Tiom. Dua tahun di Makki, Mark dan keluarganya menetap di Wamena sampai tahun 1989.

“Saya pulang ke Australia, karena istri dan anak-anak sering sakit,” kata Mark  yang di kalangan orang Lani biasa dipanggil Pak Marhol.

Presiden GIA Hadir

Tetapi,  Mark tidak sendirian. Ada Heather Coleman, orang nomer satu GIA. “Beliau General Director Global Inter Action,” kata Mark.

Ibu Coleman berusia sekitar 50-an. Ia punya pengalaman menginjil di pedalaman Thailand. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Sesekali,  Mark menerjemahkan percakapan yang sulit. Tetapi yang kemudian menjadi penerjemah “resmi.”  Beliau adalah Ibu Lydia Karetji, istri dari Pdt. Joseph Karetji (1938-2009).

Ibu Lydia dan suaminya adalah orang penting. Joseph dan Lydia sama-sama lulus dari FKIP Universitas Satya Wacana Salatiga. Lalu,  Joseph menjadi guru pemerintah yang diperbantukan di Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Gereja-gereja Injili (YPPGI) Sekolah Guru Bantu di Enarotali, Paniai. Tahun 1968, mereka berdua diutus oleh yayasan untuk  mendirikan SMP YPPGI di Tiom, dan kemudian SPG Tiom tahun 1970.

“Waktu pertama kali ke sini, anak pertama kami Petra belum genap setahun,” kata Lydia.

Dua sekolah menengah ini yang pertama ada di Tiom kala itu. Karena belum ada lulusan kelas 6 SD di Tiom, Lydia dan Joseph harus membawa serta 25 murid kelas 1-3  SMP dari Enarotali. Sekolah dasar di Tiom baru  meluluskan murid pertama kali dua tahun kemudian, 1970.

“Pendeta Joseph Karetji dan istri adalah tokoh Gereja Baptis dan tokoh pendidikan di Tiom,” kata Pdt. Nicki Yigibalom, ayahanda Befa Yigibalom, Bupati Kabupaten Lanny Jaya. Befa terpilih kembali untuk periode 2018-2023.

Jasa Pak Karetji juga tidak sedikit untuk perkembangan Sinode Gereja Baptis Papua. Berkat tangan dingin pendeta asal Halmahera, Maluku Utara inilah Gereja Baptis Papua terdaftar dan diakui secara resmi oleh pemerintah.

Sambutan Hangat

Aura pesta sudah terasa sejak  siang, sehari sebelumnya. Tiom seperti pengantin yang sedang bersolek. Umbul-umbul, spanduk warna-warni dan bendera merah-putih menghiasi sekujur kota. Tari-tarian energik diperagakan oleh mama-mama, menyambut kami turun dari pesawat. Pilot pesawat Caravan dari perusahaan Alda Air, sengaja diminta oleh Chris, untuk berputar di atas kota Tiom.

“Luar biasa,” kata Mark. “Jauh berbeda dengan ketika saya masih di sini. Sekarang bangunan modern di mana-mana,” katanya.

Marhol menjadi bintang siang itu. Sejak di Bandara Marhol sudah dikerubungi warga. Semuanya adalah jemaat atau penginjil yang mengenal Mark kala itu.

“Sudah pada besar sekarang. Dulu itu, Pak Sekda masih anak kecil. Pak Befa juga masih murid Sekolah Minggu,” kata Marhol.

Ruangan menjadi riuh, ketika Marhol memberi sambutan. Tidak dalam bahasa Indonesia, tetapi bahasa Lani.

Enam Sekawan

Gereja Baptis masuk ke Irian Jaya pada tahun 1956, dibawa oleh Australian baptis Missionary Society ( ABMS). Datanglah pendeta Gill MacArthur, Norman Draper dan John Betteridge untuk melakukan survei terlebih dahulu.  Belakangan ikut bergabung Ian Gruber, Heinrich Noordijk dan Victor White. Enam sekawan ini yang “menemukan” Tiom pertama kali.

Ekspedisi ini mendarat di Danau Archbold di dekat Bokondini. Danau Archbold ditemukan oleh Richard Archbold, seorang miliuner Amerika yang suka bertualang pada tahun 1938. Rombongan membangun lapangan terbang sederhana di sana, dan pada 6 Juni 1956, pesawat pertama mendarat di Bokondini.

Dari Bokondini rombongan kembali berjalan kaki selama 3 hari ke arah Piramid.  Di Piramid sudah ada misionaris dari Christian and Missionary Alliance (CAMA) yang tiba pada April 1954. Beristirahat beberapa hari di Piramid, rombongan melanjutkan perjalanan ke Tiom.  Mereka berangkat tanggal 25 Oktober 1956. Sehari setelahnya, mereka tiba di Makki dan bermalam di tepi Sungai Makki. Pagi hari rombongan berjalan lagi dan tiba di Pit River (disebut Pirime, sekarang). Dari Pit River rombongan terus mendaki ke Tiom. Tengah hari tanggal 28 Oktober rombongan sudah mencapai Tiom. Mereka langsung mengukur lokasi pembangunan lapangan terbang. Lalu rombongan kembali ke Pit River untuk menyiapkan logistik dan peralatan sebelum kembali lagi ke TIom untuk mulai membangun Bandara Tiom.

“Tanggal 28 Oktober, ketika rombongan pertama kali sampai ke Tiom kini diperingati oleh umat Baptis sebagai hari masuknya Injil pertama kali ke wilayah Baliem Utara, yakni di Tiom,” kata Pdt. R.D.F. Pangendahen.

“Great Wall” Tiom

Tiom yang menjadi ibukota Lanny Jaya kini sangat ramai sejak dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya. Ini berkat dibukanya akses jalan Wamena-Tiom. Barang-barang lebih mudah diperoleh, meskipun dengan harga yang bikin mata terbelalak. Dua-tiga kali lebih mahal dari kota besar di Jawa.

“Nasi bungkus, hanya isi nasi kuning dua sendok, beberapa iris telor goreng harganya 35 ribu,” kata Sonya Sebayang, guru kontrak dari Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) Universitas Negeri Medan, Sumatera Utara.

Tetapi yang bikin takjub adalah saat melihat Kota Tiom dari udara. Gunung-gunung yang kokoh, berwarna kelabu, seperti berbaris membentuk pagar alami melindungi sebuah lembah dengan rumah-rumah penduduk, kantor pemerintah, pasar, rumah sakit, sekolah, gedung perbankan, di dalamnya.

“Saya membayangkan Great wall, tembok raksasa di Cina, berpindah tempat ke Tiom. Tetapi ini lima-enam kali lebih besar.”  (Lex-Bersambung)

 

Bagian 2

Para Sopir “Burung Besi”

“Ini Yosua. Calon pilot dari Lani Jaya,” Chris Sohilait, Sekda Kabupaten Lanny Jaya, Papua,  memperkenalkan Yosua Irian Goraph pada saya.

Yosua masih muda. Tidak lebih dari 25 tahun. Dia baru lulus dari Proflight Pilot School Jakarta dua tahun lalu. Sekarang Yosua sedang “praktik” terbang di penerbangan Alda Air sebagai seorang first officer (FO). Ini adalah tahap awal sebelum menjadi pilot. Tugasnya duduk di samping pilot utama, membantu berbicara di radio komunikasi, membaca check list, membantu navigasi, membaca kecepatan angin, dan perhitungan lainnya. Seseorang boleh menerbangkan pesawat secara sendirian jika sudah mengantongi minimal tiga ribu jam terbang. Tetapi untuk bisa menerbangkan pesawat jenis boeing, mesti punya minimal 10 ribu jam terbang.

Yosua hanya salah satu dari belasan orang calon pilot anak-anak Lanny Jaya. Mereka disekolahkan oleh Pemda setempat. Selain dia ada Utoni Wanimbo, Denny Yigibalom, Aqwila Kogoya, Melky Wandik dan Mendy Weya. Beberapa masih sedang belajar di Filipina dan New Zeland seperti Elius Wanimbo, Yosua Walengga, Golo Pugumis Kogoya, Robanus Weya dan Rosita Kogoya.

“Kami punya 11 calon pilot yang sudah selesai sekolah maupun yang masih belajar,” kata Chris.

Sebenarnya yang paling senior adalah kapten pilot Jeff Ron Sohilait. Jeff Ron adik kandung Chris. Namun Jeff Ron tidak termasuk dalam kelompok yang disekolahkan oleh Pemda. Ia menemukan jalannya sendiri ke sebuah sekolah penerbangan di Amerika.

Lulus SMA Jeff Ron  melamar sebagai teknisi di perusahaan penerbangan Yajasi. Dua tahun di sana, seorang misionaris yang kenal ayahnya di Tiom mengajak dia bersekolah ke Amerika.

“Saya dibantu para misionaris. Sekolah pilot di Indonesia sangat mahal waktu itu. Juga sekarang sih..,” kata Jeff Ron sembari tertawa.

Waktu jumpa Mendy Weya di Jakarta saya bertanya soal biaya sekolah pilot. Ia  bilang, “Sekitar Rp 800 juta sampai lulus,” kata pilot dari Lombok Institute of Flight Technology, Lombok, NTB itu.

Menariknya Mendy adalah PNS  bagian Humas Pemda Lanny Jaya. Lulus dari Teknik Kimia  ITS Surabaya ia pulang dan mengajar di SMA YPPGI Wamena, lalu  di SMP dan SMA di  Tiom. Sambil mengajar ia menjadi wartawan TVRI Jayapura. Lalu dia melamar sebagai PNS. Ia diangkat tahun 2010.

Suatu kali pada tahun 2014  ia bilang pada Chris mau jadi pilot. “Saat itu juga Pak Chris bilang, ‘ayo kita cari sekolah. Biaya pemda yang tanggung’. Jadi saya sekolah pilot sudah,” kata Mendy yang berasal dari Kampung Milinggame, Distrik Tiomneri,  sekitar 25 kilometer dari ibukota Tiom.

Mendy mengaku tertarik dengan pesawat sejak kecil. Kalau ada pesawat yang mendarat di Tiom, Mendy pasti bolos atau telat masuk kelas. “Saya lari ke bandara, hanya pergi peluk-peluk saja itu ban pesawat. Kalau dia sudah terbang lagi, baru kita masuk kelas,” kata Mendy.

Tetapi di dalam kelas sudah menunggu “ibu Yoke yang kejam”, istilah anak-anak SD dan SMP di Tiom waktu itu untuk seorang ibu guru yang memegang disiplin tinggi.  “Itu rotan sampai habis di pantat saya karena Ibu Yoke pake pukul,” Mendy Weya tertawa mengenang kenakalannya dulu. Ibu Yoke yang dimaksud adalah Yohana Saiya, ibunda Chris Sohilait.

Anak-anak yang disekolahkan pilot ini hanya sebagian dari upaya pemerintah Lanny Jaya mengejar ketertinggalan mereka di bidang peningkatan SDM. Sudah bukan rahasia lagi, kawasan Pegunungan Tengah Papua masih  dianggap terbelakang dari mereka yang mendiami kawasan pantai. Karena itu pendidikan menjadi prioritas utama ketika daerah ini mekar dari Kabupaten Jayawijaya tahun 2008.

“Pertama-tama yang kami bikin adalah membenahi sumber daya manusia. Itu berarti membenahi sekolah-sekolah, ya gedungnya ya gurunya. Kami menyekolahkan sekitar lima ratus orang anak asli Lani ke berbagai universitas di Indonesia saat ini. Puluhan lainnya bersekolah ke luar negeri. Kami mendatangkan ratusan guru kontrak dari sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar dan terpencil (SM-3T). Ada juga guru-guru dari Indonesia Cerdas, Hadasah Papua dan lain-lain. Kami bikin sekolah unggulan dengan sistem asrama. Karena itu kami memberi anggaran yang cukup untuk pendidikan. Minimal Rp 50 miliar setiap tahun,” kata Chris.

Harapan Chris, 10-20 tahun ke depan, SDM Lanny Jaya sama tingginya dengan daerah lain.

“Nanti orang pasti kaget kalau ke Papua, dan pilot yang membawa mereka mengatakan ‘berbicara dari ruang kemudi Anda Kapten Pilot Deni Yigibalom dari Lanny Jaya…’. Itu tandanya kami sudah sejajar dengan daerah lain,” kata Chris dengan muka berseri.

Pesta Solidaritas “Bakar Batu”

Pesta di Pegunungan Tengah identik dengan “bakar batu”.  Tradisi ini biasanya diadakan untuk merayakan kelahiran, kematian, mengumpulkan prajurit untuk berperang, namun juga untuk memulihkan hubungan yang terputus karena perang suku. Saat ini pesta bakar batu dipakai sebagai bentuk penghormatan kepada tamu atau pejabat yang datang berkunjung. Ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Papua pada Oktober 2016, pesta bakar batu besar-besaran diadakan di Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo.

Dalam acara Yubileum itu, bakar batu digelar di samping kantor Gereja Baptis Tiom. Halaman kantor  luas. Seukuran dua kali lapangan sepak bola.

Waktu kami datang, kayu-kayu cemara sedang  gemeretak dimakan api. Asap pembakaran membubung ke angkasa. Yang dibakar bukan makanan, tetapi batu-batu seukuran kepala orang dewasa. Semua memerah terkena panas.

Batu panas inilah yang menjadi “bahan bakar” untuk memasak makanan dalam acara bakar batu. Barangkali karena dimasak dengan batu yang membara, istilah “bakar batu” dipakai.

Tetapi masing-masing tempat di Pegunungan Tengah menyebut bakar batu secara berbeda;  Gapiia di Paniai, Kit Oba Isogoa di Wamena dan Barapen di Jayawijaya. Meskipun namanya berbeda, substansinya tetap sama.

Sementara kaum pria membersihkan wam (babi) yang sudah dipanah, mama-mama memetiki sayur dan membersihkan mbi (ipere). Sayur dan mbi dibawa dari kampung masing-masing. Pagi-pagi saya lihat para mama memikul sayur dan mbi menuruni lembah. Mereka berjalan kaki. Ada pula yang dijemput mobil. Panitia menyiapkan kendaraan.

Bagaimana cara memasak “bakar batu”?

Mula-mula lubang berukuran satu meter (lebar dan dalam) digali. Bagian dalamnya dilapisi rumput.  Di atas rumput disusun batu-batu panas. Lalu sayur-sayuran dan mbi disusun di atas batu-batu tadi. Ditindih pakai batu-batu lagi. Begitu seterusnya, sampai daging wam dibagian akhir. Agar tidak hangus, di atas daging ditaruh sayuran. Lalu ditindih dengan batu panas. Uap yang panasnya mencapai ratusan derajat itulah yang  membuat sayur dan daging wam matang.

“Bakar batu” bukan sekadar pesta. Ia mengandung banyak nilai di dalamnya. Ada ketepatan dan kerjasama. Kalau batu  tidak diberi alas yang pas, makanan bisa hangus. Atau sebaliknya tidak matang.

Kerjasama menjadi wajib. Para lelaki-lah yang berlari-lari sambil  meneriakan yel-yel penyemangat. Di tangan sudah siap kayu penjepit. Ujung kayu itu dibelah menjadi dua atau tiga, lalu dilebarkan,  agar batu panas mudah diambil. Sementara para mama sigap menyusun sayur-sayuran di atasnya. Tidak sampai 10 menit semua lubang sudah “ditutup”. Tinggal menunggu aba-aba untuk mengangkatnya.

Inilah eloknya kebersamaan. Meskipun makanan telah matang sejam kemudian, selagi acara belum selesai tak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya. Apalagi sampai mencicipi.

Semua sabar menunggu. Padahal banyak yang tertidur karena lapar dan lelah. Acara bakar batu dimulai pukul 09.00 dan baru dibuka setelah acara selesai pada pukul 15.00. Enam jam menunggu. Enam jam menahan lapar. Rasa kebersamaan membuat mereka sabar luar biasa.

Giliran makanan akan dibagi. Masing-masing duduk berkelompok 20-30 orang. Sesuai distrik atau sukunya. Satu-dua orang mama membagikan sayur dan ubi terlebih dahulu. Sementara daging wam dipotong-potong. Lalu dibagikan. Dua puluh lima ribu orang duduk dengan tertib.

Ketua kelompok mengontrol masyarakatnya. Lewat pengeras suara diumumkan; kelompok yang belum mendapat makanan mengutus anggotanya mengambil ke depan. Ketua kelompok mengawasi pembagian, sampai semua anggotanya selesai makan.

Saya membayangkan cerita Alkitab saat  Yesus memberi makan 5 ribu orang. Sama-sama di bukit, sama-sama sore hari, sama-sama duduk berkelompok-kelompok.

Waktu saya ketemu Mendy Weya di Jakarta dan bercerita tentang upacara itu, dia tersenyum senang.

Lalu kami berpisah. Ia pulang ke Lombok, melanjutkan sekolahnya  yang hampir selesai waktu itu.

Dua minggu kemudian dia berkirim pesan kepada saya:  “Abang, Kakak Chris dorang ada mau  bikin film layar lebar tentang pilot-pilot anak Lanny Jaya,” kata dia.

Saya membayangkan…. para pilot  itu menerbangkan 11 “burung besi” di atas Tiom. Bergemuruh. Menukik  di balik gunung-gemunung. Menghilang ke awan-awan, membawa serta satu-dua mimpi mereka. (Lex-Habis)

 

 

Tinggalkan Balasan