Metode “Pakem” Untuk Sekolah Di Papua

“Metode belajar PAKEM menjadi jalan keluar untuk mengatasi rendahnya literasi dan kemampuan dasar calistung ( baca, tulis, dan hitung) di kalangan anak sekolah di Jayapura atau Papua pada umumnya.”

SEBELUM  program pendidikan ini diluncurkan, anak SD bahkan SMP yang belum lancar membaca dan berhitung dianggap hal yang biasa dan wajar saja. Salah satu penyebabnya adalah karena cara mengajar calistung guru kurang memacu siswa untuk menyukai dan menguasai pelajaran. Orangtua juga kurang mendorong anak untuk bersekolah dan mengembangkan diri, serta masih adanya tindak kekerasan untuk alasan mendisiplinkan anak. Anak kerap mendapat kekerasan fisik. Ketika ia tidak mengikuti aturan atau tidak memenuhi harapan orangtua dan guru.

Kondisi- kondisi di atas dinilai sangat memprihatinkan dan dapat menghambat upaya peningkatan sumber daya manusia di Papua, khususnya Jayapura.

Pendekatan yang tepat dapat membantu siswa menikmati kegiatan belajar yang menyenangkan. Salah satu tindak lanjut dari kajian tersebut adalah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).  Dalam MBS terdapat metode belajar PAKEM: Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.

“Sekitar tiga tahun kami berproses. Tahun 2007, sistem MBS dan PAKEM kami terapkan. Tiga sekolah dipilih sebagai proyek percontohan: SD N 1 Abepura, SD INPRES Kotaraja, SD YPK Sion Padang Bulan,” Kata Manoak Rejauw, Koordinator Program APD WVI Port Numbay, Papua.

ADP berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan untuk mendapatkan sekolah percontohan. Kemudian melakukan pelatihan untuk kepala sekolah dan guru  yang sekolahnya mau berkomitmen ikut serta. Kepala sekolah dan guru yang dilatih dan berkomitmen tersebut kemudian mulai menerapkan MBS di sekolahnya masing-masing.

“Waktu itu ada tim yang ke sini dan bilang mau terapkan MBS, kami belum tahu mau apa. Kami hanya berharap sekolah kami bisa lebih baik kondisinya. Sebelumnya siswa kami tidak sampai 100 orang. Sekolah asal jalan saja. Kelas masih seperti biasanya, dari depan ke belakang. Ruangan juga tidak dihias sehingga tidak menarik. Yang susah itu kalau kita tanya ke siswa, setengah mati baru mereka jawab. Sekarang , semua kebalikannya. Anak-anak sudah berani mengusulkan ini-itu,” Anace Wali, Kepsek SD YPK Sion, Padang Bulan, Abepura.

SD YPK Sion berada tak jauh dari GKI Padang Bulan di Abepura. Mulanya sangat gersang.  Bertolak belakang dengan kondisinya saat ini. Hijau dan rindang. Tamannya diberi pagar. Pepohonan dan bunga tumbuh subur di halaman.

Di depan sekolah berdiri enam buah honai. Honai ini dipakai untuk anak-anak berdiskusi kelompok. Atau guru memberi tugas-tugas bila kelas sangat gerah karena cuaca panas di Abepura. Atau sekadar tempat anak-anak makan siang bersama.

Kepala sekolah mendapat pelatihan tentang manajemen sekolah. Mereka mulai melakukan  perubahan seperti mengubah tata ruang kelas agar lebih nyaman seperti yang diarahkan dalam panduan. Tempat duduk tidak berjejer dari depan ke belakang seperti biasanya, tetapi melingkar dalam beberapa kelompok. Dalam kegiatan belajar mengajar mulai digunakan juga alat peraga dan bermain peran untuk mempermudah siswa memahami pelajaran.

“Namanya bedah kelas. Dengan bantuan fasilitator nasional dari WVI kelas kami mulai dibedah. Bangku dibuat melingkar, berkelompok. Langit-langit dicat warna-warni supaya lebih meriah dan menarik. Pokoknya kelas dibuat senyaman mungkin buat siswa dan guru. Kalau sudah nyaman, pasti siswa memberi perhatian. Setelah itu baru masuk ke materi  pembelajaran,” Anace Wali.

Pelatihan untuk guru terus dilakukan sesuai dengan kurikulum. Selain itu, untuk mendukung penerapan MBS di Kota Jayapura muncul gagasan membentuk Tim MBS yang beranggotakan guru dan kepala sekolah yang sudah dilatih sebelumnya. Tim tersebut bertugas memantau sekolah yang menerapkan MBS dimulai dengan tiga sekolah proyek percontohan tadi.

Orangtua siswa juga mendapat pelatihan keterampilan mengasuh anak untuk mendukung proses belajar anak berdasarkan perkembangan mentalnya. Kegiatan itu disebut parenting. Tujuan utama program ini adalah mengurangi kekerasan seperti hukuman fisik pada anak saat mereka berada di rumah . Orangtua diharapkan lebih bertanggung jawab dan memberi perhatian kepada anak sehingga mereka dapat belajar dengan baik.

Selain itu, orangtua dilibatkan dalam proses evaluasi siswa supaya mereka bisa mengetahui dan mengawasi kegiatan siswa ketika berada di rumah. Siswa diharapkan tidak hanya belajar di sekolah saja, namun di mana saja dan kapan saja, baik di sekolah maupun di rumah. Maka komunikasi antara guru dan orangtua menjadi faktor penting. (Lex/bersambung)

Tinggalkan Balasan