Wemin Wetipo Demi Generasi yang Lebih Baik

 

 

Desa Air Garam, Distrik Asotipo, Kabupaten Jayawijaya terletak di lereng gunung, sekitar 12 km dari Wamena. Setelah melewati jalan beraspal sepanjang 7 km, selebihnya adalah jalan berbatu dan berlumpur. Salah satu jembatan yang menghubungkan Wamena-Asotipo di Sungai Yetni telah putus diterjang banjir pada Februari 2017 lalu. Sepeda motor mesti dituntun ke seberang meniti jembatan darurat dari kayu.  “Kalau hujan dan banjir, kita tidak akan bisa lewat. Harus pulang ke Wamena,” kata Andrie Lumi,  Area Manager WVI area Jayawijaya, Lanny Jaya, dan Tolikara.

Kampung Air Garam terletak di ketinggian. Jalan beraspal habis di depan Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Berwaad Air Garam. Tidak ada sinyal telepon di sini. Rumah penduduk masih berupa honai. Selebihnya adalah rumah-rumah beratap seng yang disebut warga “rumah sehat”.

Rumah sehat adalah kebalikan dari honai. Rumah sehat memiliki pintu dan jendela yang cukup, sehingga udara bisa leluasa masuk dan keluar. Sementara honai hanya memiliki satu pintu untuk keluar masuk. Tidak ada jendela.

Karena tak ada sinyal telepon, penulis terlebih dahulu mengecek ke Air Garam, barangkali Wemin Wetipo masih berada di sana. Tetapi orang-orang yang kami jumpai mengatakan mereka melihat Wemin sejak pagi turun ke bawah. “Berarti dia di Puskesmas Asotipo,” kata mereka.

Lagi-lagi sepeda motor tidak bisa lewat menjelang Puskesmas Asotipo. Jembatan yang menghubungkan Desa Air Garam dengan jalan Wamena-Kurima di seberangnya telah putus diterjang banjir. Hanya ada jembatan darurat untuk penyeberangan orang. Padahal, Puskesmas Asotipo berada di seberang sungai. Di depan puskesmas beberapa kendaraan bak terbuka sedang diparkir, menunggu penumpang ke Wamena. “Ada jalan yang lain, tetapi harus melingkar jauh di atas sana,” kata Jance Lodewik Sabloit, staf WVI.

Benar saja, Wemin Wetipo sedang berada di puskesmas. Dia telah menunggu sejak pagi. “Sa pikir langsung ketemu di sini, jadi pagi-pagi saya sudah jalan,” ucap dia.

Wemin lahir tahun 1974. Ia punya lima orang putra-putri dan menjadi ibu tunggal. Suaminya menikah lagi. Putra pertamanya telah lulus dari sebuah akademi komputer di Jayapura. Sementara Wemin sendiri hanya sampai kelas 2 SMP Negeri 3 di Megapura.

“Saya bisa baca dan tulis,” ungkap  Wemin. Ia membiayai sekolah anak-anaknya dari menjual hasil pertanian. “Saya tanam kol, buncis, wortel dan kentang, lalu jual ke Wamena,” kata dia.

Kader Kesehatan

Tahun 1990, Wemin bersama 5 orang dari Air Garam dipilih oleh kepala desa menjadi  kader posyandu di kampungnya. Waktu itu Air Garam berada di wilayah kerja Puskesmas Assolokobal. Kader kesehatan digalakkan pemerintah karena angka kematian balita dan ibu hamil di Jayawijaya, termasuk Air Garam, kala itu  cukup tinggi. Penyebabnya antara lain diare dan pneumonia. Para kader bertugas mendata jumlah balita dan ibu hamil di kampungnya. Mereka juga dilatih untuk memberikan pertolongan pertama kepada balita sakit.

“Satu tahun itu bisa lima balita meninggal karena sesak napas dan diare. Ada juga orang tua yang meninggal karena puskesmas jauh dari sini. Waktu itu masih di Assolokobal.  Sejak jadi kader, kami juga dilatih memberi obat sebagai pertolongan pertama. Kalau batuk dan sesak napas diberi cotry (cough) anak. Kalau diare dikasih oralit,” kata Wemin.

Karena itu Wemin kerap berkeliling bersama rekan-rekannya. Kegiatan posyandu diadakan sebulan dua kali. Sekali  di Kampung Air Garam dan sekali di Kampung Kuantapo. Kedua kampung ini tidak berjauhan jaraknya.

Kalau kehabisan obat, Wemin  segera turun ke Puskesmas Assolokobal. Jarak antara Kampung Air Garam dan Puskesmas Assolokobal sekitar 5 kilometer. Pergi-pulang ia berjalan kaki. Maklum, kata dia, tidak punya ongkos. Sebagai kader kesehatan mereka tidak dibayar. Bekerja sukarela saja. Gara-gara ini, teman-teman kader mengundurkan diri. “Mereka bilang capek jalan kaki, apalagi tidak dibayar,” ujar Wemin.

Hanya Wemin dan tiga rekannya yang tetap bertahan sampai sekarang. Setiap ada kegiatan posyandu mereka yang selalu menyiapkan makanan untuk balita, menimbang badan dan mencatat perkembangan kesehatan ibu hamil. Biasanya ada seorang tenaga kesehatan yang mendampingi untuk memberi obat dan vitamin.

Wemin lupa membawa catatannya hari itu. Ia tidak tahu persis jumlah balita di dua kampung yang dibinanya. “Air Garam saja ada sekitar 30 orang balita. Belum di Kuantapo. Ibu hamil lebih dari 10 orang,” kata Wemin.

Ia dan tiga  temannya bertahan karena tidak ingin lagi ada balita yang meninggal karena sakit. “Kami pelayanan saja. Generasi penerus harus kita perjuangkan. Kami punya anak-anak harus lebih baik dari kami saat ini,” kata Wemin.

Pada tahun 2015, Kepala Puskesmas Asotipo mengambil kebijakan membayar Wemin dan kedua rekannya masing-masing Rp50 ribu per bulan yang diterima setiap tiga bulan sekali. “Tahun 2015 ibu kepala puskesmas kasih triwulan. Lima puluh ribu setiap bulan. Kalau dulu tidak ada sama sekali. Kami melayani saja,” ungkap Wemin.

 

Tinggalkan Balasan