Perempuan Papua, Harus Pintar, Sehat Dan Sejahtera

 

KETUA Kelompok Kerja (POKJA) Perempuan Majelis Rakyat Papua (MRP), Nerlince Wamuar, SH mengaku, upaya yang hendak dilakukan Pokja prempuan selaras dengan acuan  pada Tema sentral Majelis Rakyat Papua (MRP) periode Tahun 2017 sampai Tahun 2022. Dimana,   fokus perhatian MRP  pada Penyelamatan Tanah dan Manusia Papua. Pokja Perempuan MRP lebih membicarakan soal Manusia Papua yang menjadi konsentrasi Pokja Perempuan saat ini.

Pokja Perempuan mempunyai rencana kerja ini di tuangkan dalam beberapa fokus program kerja MRP terbagi tiga hal penting. ‘Tiga indikator besar ini yang kita akan usahakan ini dengan berdoa,  semoga Tuhan menolong kita untuk mencapai  tujuan luhur ini di lima (5) wilayah Adat yang telah diklasifikasikan.  Fokus program kerja MRP terbagi dalam 3 (tiga) hal penting yakni, perempuan Papua harus pintar, perempuan Papua harus sehat, dan perempuan Papua harus sejahtera.

Untuk mengejar tiga indikator ini, Pokja perempuan Majelis Rakyat Papua akan berusaha untuk membentuk satu wadah. “Kami namakan Forum Perempuan Adat Papua (FPAP). Mengapa kita harus membentuk Forum, untuk Perempuan Adat Papua ini karena masalah-masalah yang kami temui di tempat kami tinggal, Kota, Kabupaten yang kami tinggal ini,  masalah-masalah itu terjadi karena perempuan ini tidak tanggap terhadap persoalan yang ada di sekitarnya,” kata Nerlince.

Dalam arti yang  saya katakan bahwa perempuan Papua itu dia harus pintar, perempuan Papua itu harus sehat dan perempuan Papua itu dia harus sejahtera. Kita bentuk Forum ini untuk mengejar tiga indikator tersebut. Kalau perempuan itu pintar, dia bisa mengatur diri sendiri, bisa mengatur suami dan anak-anak. Sehingga yang kita bilang Penyelamatan Manusia itu akan terwujud dengan sendirinya. Banyak kita jumpai di jalan-jalan itu karena mama yang juga adalah perempuan Papua ini tidak mengatur anak dan suami baik sehingga anak lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar rumah.

Kalau perempuan Papua yang sebagai Mama yang pintar tidak akan membiarkan anak mereka tidak terlibat narkoba, miras, korban pelecehan dan sebagainya. Lalu mama atau perempuan Papua itu dia harus pintar sehingga bagaimana dia mengatur rumah tangga itu.  Dengan satu hari makan tiga kali, suaminya juga di perhatikan, dia pergi kantor, pulang kantor dia harus perhatikan, dengan bagaimana dia pribadi mama itu sendiri dengan penampilan. Misalnya, pagi pergi dengan mama pakai daster ini, tetapi sore pulang dari kantor itu mama sudah rapih, sudah mengenakan baju yang baik dan yang bersih.

Demikian juga mama Itu dia pintar dia bisa jaga anak-anak itu, anak-anak pergi sekolah makan makanan yang baik, kembali juga mama itu menjemput ana-anak itu dengan senyum, dengan makanan yang sudah di siapkan. Sehingga anak-anak itu tidak pergi, habis makan siang itu mereka tidur, karena mama ada di rumah. Lalu bagaimana asupan gizi terhadap keluarga itu, ‘Contoh saja waktu mama dia mengandung itu mendapatkan asupan gizi yang baik’. Gizi yang lengkap harus dia makan selama janin itu berada dalam kandungan. Sampai janin itu dia lahir, bayi itu pasti sehat, dia mempunyai pikiran  yang cerdas. Karena selama dia berada dalam kandungan mama makan makanan yang bergizi. Demikian dari nol hari sampai dengan seribu hari, ‘yang kita bilang seribu hari anak emas itu’, papar Nerlince.

Kehidupan anak itu di perhatikan oleh mama dengan asupan gizi yang baik. Dengan sendirinya anak itu akan menjadi anak yang pintar, anak yang kuat, anak sehat, itu yang kita kejar. Perempuan Papua itu dia harus pintar, kalau dia sudah pintar dia sudah sehat karena dia tahu bagaimana menjaga diri sendiri, harus bersih, menjaga penampilan di depan suami, bagaimana menjaga anak-anak dan bagaimana menata.  Dengan sendirinya keluarga itu akan sehat, kalau sudah sehat maka dengan sendirinya keluarga itu sejahtera. Dengan demikian bapak tidak pergi-pergi keluar rumah lagi.

Kenapa Bapa-bapa senang kawin sama perempuan nusantara?,  Karena kita perempuan Papua tidak pintar, artinya pintar bukan saja dengan mengatur rumah saja tetapi juga menjaga tutur kata dengan suami. Bagaimana seorang istri yang menanyakan sesuatu itu dengan nada bahasa yang sopan dan enak di terima oleh bapak-bapak.

‘Misalnya saja jam kerja bapak sudah terlewat, telepon saja, pak dimana, mengapa belum pulang, oh iyo sedikit lagi sudah pulang, oh iyo terima kasih, itu baru pintar. Tetapi kalau istrinya telepon dan sudah sebut nama-nama binatang itu bukan istri perempuan Papua yang pintar’, terang ketua pokja perempuan MRP.

Dengan kata-kata demikian, suami akan malas pulang dan malas tahu. Karena ia pulang ke rumah, bukan ketemu perempuan pintar tetapi ketemu istri yang jahat. Itu kelemahan kita perempuan Papua, kita tidak bertutur kata yang baik yang sopan terhadap suami kita sendiri. Bukan kepada suami saja kepada anak-anak pun demikian. Kita harus menyampaikan bahasa yang membuat mereka percaya diri, tersanjung dan kata-kata motivasi. Karenanya dia akan merasa di hargai dan didukung oleh seorang mama Papua yang pintar.

Jangan karena anak-anak bikin kesalahan sedikit, lantar orangtua marah-marah dan menyebutnya binatang. Usahakan kata-kata binatang tidak boleh keluar dari mulut seorang mama Papua. ‘Misalnya, anak dia pecahkan piring atau gelas dan jatuh, jangan kita bicara yang kasar, tetapi gunakan kata lain seperti, ‘ah tra papa itu sudah waktunya untuk pecah. yang penting ko tra kena pecahan beling. Ko angkat beling itu, lain kali ko hati-hati eh. Ucapan seperti itu, harus keluar dari mulut mama yang pintar’, saran Wamuar.

Lebih jauh ia menjelaskan, tutur kata juga perlu kita jaga terhadap suami, terhadap anak dan terhadap orang lain di sekitar kita. Dengan sendirinya itu akan terbawa keluar ke lingkungan kita berada. ‘Itu perempuan Papua yang pintar’, tutur Wamuar.

Perempuan yang sehat, dia tahu mandi pagi sebelum layani suami dan anak-anak dia sudah manis-manis di depan suami dan anak-anak. Baju yang bersih dia pakai layani suami dan anak-anak pergi, suami sore hari juga dia sudah tampil rapih manis jemput suami dengan penampilan dan tutur kata yang manis. ‘Itu baru perempuan Papua yang pintar’,  tutur  Wamuar.

Itu sekarang kita sedang kerja ini, ah lalu, perempuan itu dia sehat, kalau dia sudah tahu bagaimana cara untuk penampilan sudah pasti dia akan sehat, dia sehat, suami sehat dan anak-anak sehat. ‘Ah kalau sudah sehat su pasti keluarga itu sejahtera, tidak ada masalah lagi’, para Nerlince. Perempuan Papua juga banyak yang kita jumpai di luar sana, mereka mempunyai tingkat aktivitas yang padat, mereka berjualan dari pagi sampai malam, kalau mereka pintar, kenapa harus pergi jauh-jauh untuk hanya mau menjual pinang di sana, buka meja jualan pinang depan rumah saja. Lihat peluang pasar jangan berjualan asalan saja, misalnya di tempat penjual menjaul pinang yang isinya mungkin kecil-kecil di depan rumah tarulah buah pinang yang besar-besar, ‘itu salah satu contoh membaca peluang pasar yang bisa di kembangkan di depan rumah kita’. Menciptakan pelaung dan mendatangkan kesejahteraan dalam keluarga. Dengan berjualan di rumah akan terciptanya keharmonisan antar suami, istri dan anak-anak yang pintar, sehat dan sejahtera. ‘Dari usaha-usaha kecil depan rumah merekat para istri itu selalu dekat dengan keluarga, suami dan anak-anak’, kata Nerlince.

Penekanannya yaitu itu bagaimana perempuan itu bisa memberdayakan diri, sehingga dia sendiri itu bisa menghargai diri sendiri, dia di hargai oleh keluarga, oleh suami dan dia di hargai oleh lingkungan. Lalu bagiamana dia membenarikan diri itu, dia juga menyelamatkan dia punyai keluarga, menyelamatkan suami dan menyelamatakan anak-anak terutama, kata Nerlince. Sehingga anak-anak itu tidak keluar dari rumah, dari lingkungan keluargara dan dari perhatian  keluarga. Karena kita lihat banyak anak-anak yang menjadi korban di jalan-jalan itu adalah anak-anak Papua. Entah itu korban narkoba, korban miras dan korban segala macam, paling banyak adalah anak Papua, kata Nerlince.

Kalau kita tidak tanggap sekarang, Papua ini akan tinggal sebagai kenangan, anak Papua sekarang sedang menuju ke jurang kehancuran.  Siapa yang peduli untuk mereka, kalau bukan kita orang-orang ini, terus kapan kita peduli, nanti saja kah, tidak. ‘Mulai sekarang kita harus peduli sehingga kita bisa menyelamatkan anak-anak Papua ini’, tegas Wamuar.

OAP TINGGAL 2 JUTA

Menurut Buku Papua dalam angka bilang, jumlah Orang Asli Papua (OAP) saat ini tinggal 2.5 juta jiwa saja. Dari jumlah itu, separuhnya berumur produktif. Usia di mana mereka melahirkan untuk di Tanah Papua ini. Tetapi mereka yang sekarang meninggal, data membuktikan bahwa setiap hari 27 orang anak Papua mati di seantero Tanah Papua ini.  Kalau setiap hari ada 27 orang meninggal, siapa yang mau lihat keadaan ini?’, tanya  Nerlince.

Bukan itu saja, perempuan yang tadi bekerja itu dia harus pintar, dia harus sehat dan harus sejahtera. Perempuan itu pun sekarang berada di ambang keancuran. Banyak media mengatakan, angkah kelahiran dan angkah kematian sama tinggi, berarti perempuan dia tidak pintar, dia tidak mengatur keluarga sesuai pola hidup yang benar.

Waktu hamil, perempuan Papua itu harus menjaga janinnya dengan baik, memberikan asupan gizi yang baik, bila dia sehat maka, bayi juga pasti sehat. Waktu ibu itu melahirkan, ibu dan bayi selamat sama-sama. Itu yang sekarang kita lihat ini, jadi dengan kegiatan kita di periode ini, kita usahakan mendirikan satu Forum yang namanya Forum Adat Perempuan Papua (FAPP). Kita usahakan agar di dalam itu ada sekolah perempuan. Sekolah perempuan bukan menciptakan perempuan yang dia pintar komputer tidak, di sini akan berlajar banyak tentang tiga indikator yang merupakan hal penting yakni, perempuan Papua yang pintar,  perempuan Papua Sehat dan perempuan Papua yang sejahtera. Itulah materi yang akan di berikan di sekolah ini, Kata Nerlince.

Dengan membimbing perempuan Papua yang kemudian menyebar di seluruh Tanah Papua untuk membantu mendata jumlah Orang Asli Papua (OAP) dan dari situ kita akan mengetahui berapa jumlah orang Papua di atas Tanah ini. Mereka bertugas mendata penduduk orang Papua juga di sarankan mendata

Jumlah angka kematian dan jumlah angka kelahiran di masing-masing daerah. Forum ini berada di kampung-kampung dan berkaitan dengan pendataan itu tidak membutuhkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang peting dia adalah orang Papua yang domisili di daerah tersebut. ‘Contohnya saja, saya orang Nafri saya tinggal di Nafri tetapi saya mengenal semua orang Nafri yang tinggal di kota atau berada di kabupaten lain karena marga ini ada kampung’, kata Nerlince, mengakiri wawancara dengan Bintang Papua (Torip).

Tinggalkan Balasan