Kristen, Islam, Katolik, Satu Tungku – Tiga Batu

JAYAPURA (BINPA) – Ketua NU Papua yang juga anggota MRP dan Sek Panmus, DR. H. Tony Wanggai, S.Ag., MA, mengatakan, agama Kristen, Islam, dan Katolik di Papua ibarat satu tungku tiga batu. Karena, muslim Papua di Tanah Papua ini sudah lama membangun kerukungan beragama antara Umat beragama dengan Orang Asli Papua.

Dia mengisahkan, muslim masuk ke Papua sekitar abad ke 15 lalu, kemudian melembaga menjadi kerajaan di Raja Empat maupun Kerajaan di Kaimana maupun daerah Fak-Fak sampai di Buntuni dan sampai juga ke Timika. Kemudian juga masyarakat muslim ini tetap menghargai nilai-nilai lokal, menjaga kearifan lokal, sehingga Islam Papua itu menyatu dengan budaya.

Seperti saudara-saudara kita yang ada di kepala Burung, Sorong sana. Mereka sudah menyatu dengan saudara-saudara dari Kristen dan Katolik cukup lama. Mereka berpegang sama budaya dan persoalan agama itu urusan pribadi dan itu individu. “Jadi persoalan agama tidak ada pertentangan” katanya.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita lihat karena semua sama-sama orang adat sehingga pergaulan itu tetap mereka bangun seperti biasa. Seperti dalam hal kawin-mengawin itu tidak ada masalah, misalnya saudara dari Islam kawin dengan Kristen atau sebaliknya saudara dari Kristen kawin dengan Muslim itu sudah tidak ada masalah bagi orang Papua begitu. Karena mereka mempunyai moto itu satu tungku tiga batu, artinya tiga batu itu melambangkan Kristen, Islam dan Khatolik. Tanpa kebersaamaan tiga batu maka sagu, nasi atau makan itu tidak akan masak. Artinya tanpa kerukunan dengan simbol tiga batu ini maka tujuan kita untuk membangun perdamaian, membangun kesejahteraan masyarakat itu tidak akan berjalan.

“Kalau di topang dengan tiga batu ini, Kristen, Islam dan Katolik talisilaturahmi itu akan terawatt. Kerukungan di bawa ke dalam interaksi atau pergaulan seperti membangun rumah ibadah itu membantu. Bahkan misalnya, orang Islam mendirikan Mesjid yang meletakan batu pertama itu Pendeta atau Tokoh Gereja. Dan sebaliknya orang Kristen membangun Gereja yang meletakkan batu pertama itu Tokoh Muslim, bersama berlomba-lomba membangun rumah ibadah, untuk saling membantu bahan-bahan bangunan,” katanya.

Pada perayaan-perayaan hari-hari besar agama, mereka saling mendukung, misalnya, dalam perayaan MTQ, Pesparawi dan acara besar agama itu sangat luar biasa. Bagaiama teman-teman Muslim menyambut rombongan tamu dengan dengan lagu-lagu gereja itu luar biasa. Dalam hal Pemerintahan yang masih terbangun sampai sekarang. Bupatinya orang Kristen, Wakil Bupatinya orang Muslim, dan Sekdanya Katolik. Itu masih terbawa untuk membangun Pemerintahaan yang seimbang. “Itu merupakan simbol kerukunan,” kata  Sekretaris Panmus itu.

Dikataknnya, bila demikian, maka terciptalah masyarakat yang seimbang, damai, sejahtera dan rukun dengan motto satu tungku tiga batu. Kemudian kalau kita lihat dari latar belakang sejarah di abad 19, Injil masuk di Tanah Papua pada tanggal 05 Februari 1855, oleh Ottow dan Geissler yang diantar oleh saudara-saudara dari Muslim. Seperti dari Sultan Tidore bersama Raja-Raja di Raja Empat.  Ini menunjukkan ada kerjasama yang baik.

“Sudah ratusan tahun lamanya, kehidupan beragama di Papua tidak di persoalkan karena kita sama-sama adalah anak adat. Kemudian terbawah sampai zaman sekarang di era reformasi di abad 21 ini, kita masih menjaga tradisi orang tua kita. Tetapi kita sebagai anak adat juga harus membangun kerukunan umat beragama, ‘seperti motto satu tungku tiga batu itu,” pesan Tomy Wanggai.

Kerukunan itu mendorong dibangunnya Organisasi Muslim Papua dan berdiri sejak Tahun 2007 sampai sekarang. Organisasi Muslim Papua dengan visinya membangun Papua yang penuh dengan rahmat dan cinta kasih. Dalam melakukan dhakwa, pelayanan masyarakat itu kasih, rahmat yang kita depankan juga menerima kearifan masyarakat lokal se tempat. Basis muslim orang  Papua khususnya di Papua itu ada di Wamena dan di Merauke. Di sana juga sudah ada perwakilan orang Muslim Papua. Artinya kita Muslim Papua harus bisa berinteraksi secara baik, berdamai dalam bekerjasama dengan semua pemeluk agama yang ada di Tanah Papua.

“Kita ini anak adat dan menyampaikan pesan-pesan agama yang penuh rahmat dan penuh cinta kasih, untuk membangun kedamaian di atas tanah ini. Jadi pesan saya kepada generasi Muslim orang Papua marilah kita tetap menghargai budaya kita.’ Budaya Papua di lima wilayah adat ini, dan juga di Papua Barat dua wilayah adat, karena apapun agama kita, kita sebagai anak adat,” tegasnya. (Torip).

 

 

 

Tinggalkan Balasan