Minat Baca Warga Papua Meningkat

 

ABEPURA (BINPA) –  Kepala Dinas Perpustakaan  dan Arsip Daerah  Provinsi Papua, Drs. Hans .Y Hamadi M.Si mengaku minat baca warga Papua, khususnya Orang Asli Papua pada tahun 2016-2017 agak rendah dibandingkan awal tahubn 2018 semakin meningkat. Barometer peningkatan minat baca itu terbaca dari jumlah pengunjung OAP yang mengunjungi perpustakaan awal tahun ini menggembirakan.

“Saya akui  yang selalu datang dan membaca di Perpusatakaan Daerah adalah mahasiswa Orang Asli Papua (OAP),” katanya ketika menerima media ini dan mempertanyakan minat membaca warga Papua, di ruangan kerjanya di Perpustakaan Daerah, Senin (12/3).

Dia mengaku trent positif minat membaca warga asli Papua itu akibat tidak memiliki fasilitas   teknologi yang tidak dimiliki. Sehingga mereka lebih memilih berinteraksi dengan buku yang tersedia di Perpustakaan daerah dan Wifi gratis mengerjakan tugas-tugas di kampus atau tugas akhir study.  berinternetan. Untuk itu, pihaknya berupaya menyediakan fasilitas sarana dan prasrana sepeti wife gratis untuk digunakan mengerjakan tugas-tugas kampus dan  tuga akhir study.

“Secara kasat mata, saya memperhatikan  mereka kalau datang ke Perupusatakaan datang duduk berjam-jam, dari pagi sampai bisa siang, dan dari siang, bisa sampai sore,” jelasnya.

Petugas Perpustakaan sedang memancing minat pengunjung dengan membuka pelayanan di malam hari, seperti ruang membaca, menyediakan fasilitas wife gratis, terutama untuk mahasiswa yang studi akhir dan pelajar.

“Mereka juga bisa menjadi anggota di Perpustakaan dan di website Perpusatakaan. Perpustakaan  telah menyediakan ratusan judul buku yang bisa di donwload, terutama buku  mengenai perundang-udangan dan aturan-aturan hukum,” katanya.

Selain itu,  Tahun 2018, Dinas Perpusataakaan  akan mengirimkan buku sebanyak 800 Ribu buku ke 8 Kabupaten yang dipusatkan di wilayah Meepago dan Lapago dan setiap kabupaten akan dibagi 1000 Buku.

“Pengiriman buku ini bertujuan untuk  mengajak masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa Papua agar meningkatkan minat membaca,” katanya.

Pada saat Rakor, diakuinya sudah menngusulkan 19 Kabupaten yang benar-benar IPM nya itu rendah menjadi prioritas utama. “Saya minta 19 Kabupaten sekitar 19-25 ribu judul buku masing-masing kabupaten. Buku yang kami mau kirim itu berdasarkan data dari Bapeda dan dinas P dan P, terutama  19 Kabupaten di wilyah Lapogo dan Meepago.

Sebenarnya, persoalan membaca di pusat kota sudah maju, pinggiran terlihat baik, apalagi terpencil dan terisolir sangat di sayangkan. “Kami sudah berupaya melakukan pendekatan pelayanan dengan mengirim buku di beberapa tempat yang belum ada, terutama di Lapago dan Meepago.  (Alex Gobai)

 

 

Tinggalkan Balasan