KB bagi OAP Acuannya Alkitabiah

 

JAYAPURA( BINPA)- Ketua I Majelis Rakyat Papua (MRP), Jimmy Mabel menilai program pembatasan kelahiran yang getol dilakukan BKKBN bagi warga Asli orang Papua (OAP) dipandang dari dasar Alkitabiah sangat bertentangan. Alkitab berfirman kepada manusia berkembang biaklah seperti pasir di laut. Berkaca dari dasar Alkitab, MRP menolak slogan

BKKBN yang dipromosikan BKKBN “cukup dua anak.”

“Mengapa? Populasi OAP sangat sedikit. Jadi populasinya sudah sedikit, belum lagi OAP banyak mati karena penyakit. Lantas, kalau banyak Orang Papua mati karena penyakit. Siapa yang akan menghuni pulau Papua ini,” katanya bernada Tanya.

Dia menilai program KB di Papua, Pemerintah dalam hal ini BKKBN mesti mengkaji ulang program KB. Sebaiknya, BKKBN menitikberatkan program KB itu lebih memprioritaskan pada mendorong pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan OAP. Sehingga, kualitas hidup OAP bisa meningkat dan berubah dari saat ke saat.

” Satu hal yang saya mau sampaikan adalah, apapun alasannya MRP menolak program KB yang membatasi OAP. Mengingat MRP berpegang pada prinsip Firman Tuhan dalam Alkitab yang menyatakan berkembang biaklah, itu dasarnya.”

Dia menegaskan tidak ada  lembaga  manapun yang melarang  OAP untuk memiliki banyak anak. OAP berkeinginan anaknya  lima, delapan, dua belas pun sah-sah saja.  Maka, pendekatan yang dilakukan BKKBN dengan slogan cukup dua anak bagi OAP perlu dikaji kembali dan pendekatannya dirubah. Dia berpendapat pendekatannya pada pendekatan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup OAP.  Ketika pola itu berhasil, otomatis program KB akan  diterima oleh mayoritas OAP, termasuk MRP sebagai representasi OAP.

Pada sisi lain, dia mengingatkan, Papua memiliki  kekhususan yang  sudah diatur dalam  Undang – Undang Otsus. Ia mencontohkan, di Papua miliki kekhususan dalam Pemilukada. Pemberian nama Desa menjadi Kampung. Kecamatan menjadi Distrik, DPRD  menjadi DPRP.

Sehingga, program KB harus didekati dari sudut kekhususan sesuai Undang-Undang Otsus.  Ber KB pun  perlu di beri kekhususan  dengan tidak membatasi dua anak. KB bagi OAP perlu di sosialisasikan dengan mengatur jarak kelahiran. Supaya,  Orang Papua tetap berkembang dan mengantisipasi  dan menurunkan angka kematian  yang tinggi  dengan program peningkatan kualitas hidup. “Program KB bagia OAP harus mengacu pada dasar Alkitabiah,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Papua,  Charles Brabar menyatakan, pendekatan yang dilakukan BKKBN dalam program KB bagi warga Papua sudah diselaraskan dengan kekhususan yang berlaku di Papua. Maka pendekatannya bukan membatasi OAP untuk memiliki anak lebih dari dua.  Pendekatan KB bagi OAP memprioritaskan peningkatan kualitas hidup keluarga Papua.

Ia mencontohkan, pendekatan menjaga jarak kelahiran, mensosialisasikan program kesehatan ibu dan anak, mendorong partisipasi orangtua anak-anaknya sekolah dan pemberdayaam ekonomi keluarga. “Program KB di Papua tidak sama seperti di daerah lain di Indonesia,” katanya. (Ven)

 

Tinggalkan Balasan