APA YANG BISA KAMI BANTU UNTUK LEMBAGA ANDA?

KOTARAJA – (Binpa) – Pertanyaan di atas dilontarkan para petinggi PT. Alternative Trade Japan (ATJ), kepada Direktur Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD) Papua, ketika ia mendatangi kantor ATJ Japan untuk mempromosikan salah satu Produk unggulan petani Papua yakni cacao. Kunjungan ke Tokya tesebut saya lakukan pada tahun 2010 lalu, tuturnya kepada Bintang Papua yang menemuinya di Kantor YPMD Papua, Senin (12/3).

Menurut Deky, kedatangan saya ke Negeri Matahari terbit itu, untuk menjawab pertanyaan petani cacao di wilayah Genyem, Kabupaten Jayapura, yang merasa kecewa dengan harga biji cacao basah (bcb) yang ditawari pedagang antar pulau dengan harga Rp 3.000,00 – Rp 4.000,00 per kg dan biji cacao kering (bck) ditawari dengan harga Rp 12.000,00 per kg. Pertanyaan yang disampaikan oleh petani cacao kepada saya sebagai Direktur YPMD-Papua adalah ‘Bisakah YPMD mencarikan pasar bagi cacao yang kami miliki agar kami bisa mendapatkan harga yang baik untuk peningkatan ekonomi keluarga?’ kenang Deky, yang sebelumnya menjadi Direktur Yayasan Rumsaram di Biak.

‘Kebetulan, tambah Deky, ‘ketika saya masih bertugas sebagai Direktur yayasan Rumsram di Biak, salah satu program yang kami kembangkan adalah Pengembangan Ecotourism di Kepulauan Padaido, di Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor. Program Ecotourism di Kepulauan Padaido tersebut, didukung oleh sebuah lembaga dari Jepang yang bersama Nindja. Lembaga ini mempunyai kepudulian yang tinggi untuk menolong petani.Di Jepang, Nindja mempunyai kemampuan untuk mengorganisir sejumlah mahasiswa di Jepang untuk mempromosikan dan membantu petani-petani di Papua. Dari Nidja-lah kami kenal nama ATJ, dan menurut mereka, mereka kenal dengan beberapa orang penting di ATJ dan karenanya mereka berjanji untuk membantu YPMD-Papua agar dibantu oleh ATJ, Japan,’ jelas Deki.

TIGA BOSS BESAR KUNJUNGI PAPUA

‘Pertemuan saya dengan petinggi ATJ, tidak serta mendapatkan bantuan. Walaupun ketika saya bertemu dengan mereka di Tokyo mereka mengajukan pertanyaan yang sepertinya memberikan harapan besar kepada saya, Apa yang bisa kami bantu untuk lembaga Anda? Kendati demikian, saya tetap berharap bahwa mereka akan membantu petani-petani cacao di wilayah dampingan kami ,’ kenang Deky.

‘Beberapa bulan setelah pertemuan saya di Tokyo dengan ATJ, saya mendapatkan informasi dari pihak ATJ bahwa 3 (Tiga) orang Boss besar mereka, masing-masing Mr. Hotta dari PT Alternative Trade Japan (ATJ), Mr. Pudjita, dari Group Daichi Momoro DaichiKai; dan Mr. Ukioka dari Green Coop. Kedatangan ketiga pimpinan Perusahaan dari Jepang itu untuk melihat dari dekat kebun cacao dan bertemu dengan petani Papua di Kampung Klaisu dan Kampung Yanim. Mereka mendengarkan keluhan dan permintaan petani di kedua kampung tersebut. Tetapi di sisi lain mereka ingin tahu apakah cacao petani Papua sungguh-sunggu organic atau tidak. Karena penghuni negeri matahari terbit tersebut, sangat hati-hati dengan produk pertanian dari luar yang menggunakan Pupuk kimia, pestisida dan bahan pengawet buah-buahan, sayur mayor dan sebagainya. Jadi mereka sangat hati-hati dengan produk-produk dari negara lain, yang tidak mendukung kesehatan para konsumen, tutur Deky.

HARGA BCB DITINGKATKAN

Sekembalinya dari kunjungan ke Kampung Klaisu dan Kampung Yanim di wilayah Genyem tersebut, jelas Deky, mereka menginformasikan kepada YPMD bahwa harga bcb petani di Papua dinaikkan. Untuk harga beli bcb, dari harga Rp 3.000,00 – Rp 4.000,00 per kg menjadi Rp 6.000,00 per kg dan untuk bck dari Rp 12.000,00 menjadi 18.000,00 per kg.Untuk itu mereka minta untuk dikirim ke Jepang sebanyak 12.000 kg atau 12 ton per tahun.Permintaan cacao organic sebanyak 12.000 kg per tahun ini, kami pernuhi dari tahun 2012, 2013, 2014, 2015, 2016 dan pada tahun 2017, jumlahnya menurun menjadi 11.000 kg atau 11 ton, sesuai dengan permintaan ATJ.

Karena YPMD adalah sebuah lembaga non profit, maka ke 3 (tiga) pimpinan perusahaan dari Jepang itu meminta kepada YPMD agar mendirikan sebuah lembaga profit yang akan menangani kerja sama tersebut. Atas pertimbangan seperti itu, maka YPMD-Papua mendirikan sebuah CV, yang diberi nama CV. Kakao Kita. CV inilah yang selanjutnya menangani kerja sama dengan PT ATJ Japan dan kedua rekannya.

Pada tahun 2016, harga biji cacao kering (bck) di Papua dinaikan dari Rp 12.000,00 – Rp 18.000,00 per kg menjadi Rp 28.000,00 per kg.BCK yang di kirimkan ke Jepang itu, setiap tahunnya diolah menjadi coklat makan dan pengolahan untuk makan dilakukan sejak dikkirim Pertama kali ke Jepang pada tahun 2012 lalu. Dari 12 ton bck, ketika diolah menjadi cholat makan, akan menghasilkan 21.000 keping coklat makan. Coklat makan yang diberi nama ‘Chocolate the Papua’itu, sebagian besar (19.000 keping) di pasarkabn di Jepang dan sebanyak 2.000 keping di pasarkan di Surabaya dan Papua dengan harga bervariasi.

Menurut Deki, konsumen Indonesia merespons positif terhadap kehadiran choklatasal Papua yang diberi nama‘Chacolate the Papua’ di Jepang. Pasar Jepang sangat berminat dengan chocolate dari Papua ini. Tapi sejak tahun  2013 sampai dengan saat ini (2017) proses pengolahan choklat makan dialihakn dari Jepang k eke ICRI di Jember dengan merek ‘Paradise Papua. Jumlahnya tetap 21.000 keping, dan jumlah itu sebanyak 19.000 keping di pasarkan ke Jepang sedangkan sisanya yaitu 2.000 keping di pasarkan di Surabaya dan Papua.

‘Tapi, tambah Deki, kami akan mengalihkan seluruh proses pengolahan chocolate ‘Paradise Papua’dari Jember ke Jayapura, agar lebih dekat dengan bahan baku. Selain itu, akan lebih hemat karena tidak ada biaya kiriman bck dari Jayapura ke Jember. Dalam rangka itu mesin-mesin dan peralatan lainnya sudah disiapkan, tinggal bangunannya alias gedungnya yang masih harus dibangun,’jelas Deki mengakhiri wawancara dengan Bintang Papua (Yan Hambur).

Tinggalkan Balasan