Anak Muda Papua Kembali Ke Budayanya

 

JAYAPURA (Binpa)- Wakil Ketua I MRP, Jimmy Mabel, S.Th.,MM, mengatakan, Secara lembaga MRP adalah mata, telingan dan hati nurani orang asli Papua, sehingga kami mempunyai tema besar periode ini adalah penyelamatan tanah dan manusia di atas tanah ini. ‘Itu harga mati,’ papar Jimmy.

Karena arus pengaruh luar sedang masuk ke Papua. Hal ini terlihat dari kebiasaan sehari-hari dari anak meniru gaya hidup ke arah barat. Pengaruh luar yang masuk ke Papua meliputi, gaya fashion atau style berpakaian, banyak anak muda yang menggunakan narkoba, gaya musik yang dibuat meniru gaya barat dan sebagainya.

Anak muda Papua jarang sekali bersama dengan orang tua yang masih berpegang pada adat dan budaya dari marga tertentu. Akibatnya anak muda Papua tidak bisa berbahasa daerah dengan baik, tidak tahu asal usul dari turunan mereka sendiri. Mereka lebih mudah, menggunakan bahasa orang lain dari pada menggunakan bahasa aslinya, dan lain sebagainya.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua I MRP, Jimmy Mabel, S.Th., MM, mengatakan, anak muda Papua untuk tidak terjerumus dalam Pengaruh arus globalisasi yang masuk ke Papua. Anak muda Papua muda harus dididik dengan baik tentang adat dan budaya yang dianut oleh orang tuanya di rumah mereka masing-masing, kata Wakil Ketua I MRP.

‘Ini belum terlambat untuk membina anak muda Papua dari pengaruh luar yang makin gencar mendorong anak muda untuk gampang ikut dan akibatnya mudah juga terjerumus dalam penyakit akibat pergaulan bebas seperti HIV, virus yang mematikan manusia dan budaya Papua.

Karena itu sudah saatnya, anak muda kita harus segera mendapat didikan dari para tokoh budaya, para ketua sanggar budaya, orang tua yang mengerti bahasa daerah agar memberikan bimbingan secepatnya kepada mereka, tegas Jimmy.

Menurut Jimmy, untuk kembali ke budaya tentu harus di mulai dari sejarah. Di Papua ini ada lima Wilayah adat yakni Lapaggo, Mepaggo, Saereri, Anim Haa dan Tanah Tabi. Tentu mempunyai budaya yang berbeda antara satu sama yang lain, tetapi tetap satu hati, Papua, Budaya Papua, satu kultur, tidak lagi dua sebagai rumpun ras melanesia. Tentu harus kembali kepada budaya, tegas Jimmy.

‘Orang tua dulu seperti kita lapaggo, mungkin duduk di rumah menyanyi sambil runcing panah atau sedang berkebun mereka mainkan pikon. Mungkin kebiasaan seperti itu sudah lupa karena zaman modern atau zaman globalisasi ini membuat semua melupakan sejarah budaya itu’, papar Mabel.

Wakil Ketua I MRP, Jimmy Mabel, S.Th.,MM, mengatakan, jika kita kembali bangkitkan itu maka harga diri orang Papua ada disitu, katanya. Kelebihan orang Papua ada di situ, Kepintaran orang Papua ada di situ, papar Jimmy.

Majelis Rakyat Papua menyarakan kepada semua masyarakat akar rumput yang ada di atas tanah Papua untuk kembali kebudayanya masing-masing. Dari 200 suku dan lima wilayah ada untuk kembali kepada adat dan budaya masing-masing di daerahnya, tegas Jimmy.

Untuk itu, Jimmy Mabel mengajak anak  muda Papua untuk kembali ke adat dan budaya mereka yang sudah terpola maka akan terlihat suatu warga sendiri. Misalnya, anak muda yang tadinya kurang di kenal bisa di hargai karena datang dari anak kepala suku, orang terpandang lainnya sebagainya adalah sudah baik dari kembali ke asal budaya kita, terang Mabel. Budaya kita orang Papua itu sudah ada sejak dari dulu sehingga tidak perlu untuk ikut budaya dari  orang barat atau tradisi Melayu.  Tradisi orang Papua adalah tradisi orang Melanesia, kata Wakil Ketua satu MRP.

Budaya Melanesia itulah perlu di tanamkan kepada generasi anak Papua yang akan datang sehingga mereka tahu inilah sejarah, bahasa, batas tanah, adat mereka, dengan demikian orang tahu adat dan itu orang Papua.

Papua punyai kekhususan dengan kekhususan itu maka terbentuk lembaga MRP yang di berikan kita untuk membangkan potensi budaya yang ada di daerah kita masing-masing. Tentu pola pengembangannya akan berbeda-beda, karena di Papua terdapat lima budaya yang telah terpetakan. Jelas Jimmy Mabel, mengakiri wawancara dengan Bintang Papua (Torip).

 

Tinggalkan Balasan