MRP Mata, Hati dan Telinga OAP

LEMBAGA dan mereka yang berperan di Majelis Rakyat Papua (MRP) selain  sebagai representasi hak kultural, hak konstitusi Orang Asli Papua (OAP). MRP adalah detak jantung, mata, hati dan telinga OAP.  Mereka adalah simbol dan simpul keterbatasan, kemiskinan dan keterbelakangan OAP.

“Saya berharap figur-figur yang duduk mewakili Pokja Adat, Agama dan Perempuan di MRP bisa sebagai cermin dan mata, hati serta teliga OAP,” kata praktisi sosial budaya, Leonardus K ketika ditanyai soal peran anggota MRP bagi OAP di Papua, di kediamannya di kawasan Abepura, Minggu (11/3).

Praksitisi sosial budaya yang makan garam naik dan turun gunung lewat pengabdiannya sebagai  pekerja sosial di pegunung tengah Papua ini menegaskan, menjadi anggota MRP mesti memiliki nilai lebih, roh dan spirit hidupnya ibarat seperti Almarhumah Theresia dari Kalkuta, India. Gambaran atau prototype dari penderitaan OAP. Ketika spiritualitas itu mengakar dalam diri anggota MRP. Pancaran usaha dan perjuangan mereka bagi OPA pasati terpancar dan dirasakan OAP. Jika, anggota MRP tidak mampu merasakan detak jantung OAP yang terkebelakang, buta aksara dan tidak jelas makan pagi, siang dan malam.

“Saya berpikir mereka merefleksikan kembali keberadaan di MRP. Karena OAP saat ini membutuhkan mereka sebagai mata, hati dan telinga OAP,” katanya sambil menyulut sebatang rokok sampurna seraya meminta pamit satu dua menit, dia memberi makan burung Urip piaraannya.

Dasar wartawan tidak ingin melewati kesempatan berharga di rumah kediaman praktisi sosial ini merekam seluruh suasana ruangan tamu dan berbagai hiasan dinding, aneka ukiran dari berbagai suku di Papua. Pada sudut bagian kiri ruang tamu terpampang sebuah ukiran patung Mbis berukuran kecil asal Asmat. Sudut bagian kanan, diselaraskan dengan sebuah ukiran perahu asal Asmat pula yang ditahtakan di atas sebuah akuarium. Ikan-ikan dalam akuarium itu pula sedang berolah raga dengan gayanya masing-masing. “Indah, indah sekali dan mengasyikan. Media ini sempat terkejut ketika merasakan sentuhan tangan praktisi sosial yang usianya semakin ujur menyentuh lembut pada pundak bagian kanan media ini. “Hai, asyik sekali rupanya memandang ikan-ikan itu, ya,” sapanya.

Suasana di Kota Jayapura saat ini sangat berbeda, katanya membuka dialog dengan media ini. Pada ruas jalan utama semua sudah pada berdiri bangunan megah dan hotel. Dan warga Papua semakin ke pinggir. “Saya terkejut menyaksikan situasi saat ini di Jayapura. Saya terlalu lama mungkin berpetualang di pedalaman. Sehingga, saya tidak mengikuti berbagai perkembangan terbaru. Tetapi saya sangat prihatin,” katanya sambil menepis testanya sendiri dengan telapak tangan kanannya.

Semua sudah berubah, OAP tidak berubah. Kondisi ini, anggota MRP meski jeli dan mencari berbagai solusi yang tepat. “Kita tidak boleh menyaksikan kehidupan semua warga di daerah yang kaya raya dengan emas dan aneka sumber daya alam lainnya bernyanyi simiskin menjerit dan yang lain tertawa terbahak-bahak. Disinilah, mata, hati dan telinga anggota MRP senafas dengan jeritan OAP yang sedang menanti siang, malam sambil menanti fajar merekah mesti tersenyum dan tertawa,” tuturnya. (Fidelis S Jeminta)

 

Tinggalkan Balasan