Yali Inggibal & Wulep Kenelak Tukang Jamban dari Desa Air Garam

Yali Inggibal dan Kepala Suku Wulep Kenelak telah menanti di depan gereja Kingmi di Desa Air Garam, Distrik Bugi, Kabupaten Jayawijaya. Rumput di halaman gereja dipangkas rapi. Tanaman pisang dan buah merah tumbuh subur di sekelilingnya. Dua pokok cemara menjulang di depan gereja. Rimbun.

Berjarak 50 meter dari gereja adalah dua buah jamban yang hanya dipakai pada hari minggu oleh jemaat yang datang kebaktian. Masing-masing jamban dilengkapi jerigen berisi air dan sabun untuk cuci tangan usai buang air besar.

Di seberang jamban ada honai yang di sekelilingnya terdapat kebun dan kolam-kolam ikan. Yali memelihara ikan di sana.

Yali dan Wulep tidak tahu kapan mereka lahir. Yang menjadi patokan adalah saat terjadi Operasi Kikis tahun 1977 di Pegunungan Tengah. Yali menunjuk seorang remaja di sampingnya yang mengaku telah berusia 14 tahun. Sekitar itu usianya waktu operasi terjadi. Sementara Wulep telah menjadi seorang pemuda. “Saya lulus SMP Persamaan. Bapa Wulep tidak sekolah,” aku Yali.

Banyak Balita meninggal

Mulanya adalah keresahan Yali. Hampir setiap tahun ada saja balita di kampung Air Garam dan Kampung Manda yang meninggal dunia. Penyebabnya sama dari tahun ke tahun yakni demam dan diare. “Panas sedikit langsung mati. Mencret sedikit langsung mati,” kata Yali.

Yali mencari dari mana penyakit itu bersumber. Bertepatan Kampung Air Garam dan beberapa kampung lain di sekitarnya adalah daerah binaan Wahana Visi Indonesia (WVI) sejak tahun 2013. Khusus untuk program sanitasi dan perbaikan gizi masyarakat. Dalam beberapa pertemuan Yali mendapat informasi bahwa buang air besar sembarangan (BABS) menjadi penyebab diare berjangkit. Sementara honai yang tidak berventilasi membuat asap terus-menerus dihirup dan menyebabkan radang paru-paru.

Lalat hinggap di kotoran. Dia terbang dan hinggap di makanan. Ini yang bikin anak balita mencret-mencret. Akhirnya saya dengan Bapa Wulep berpikir bagaimana caranya agar orang bisa buang kotoran di jamban,”kata Yali.

Jamban Percontohan

Secara turun-temurun kata Yali, mereka terbiasa membuang air besar di sungai, kebun, hutan atau di belakang rumah. “Dulu, kalau kita duduk begini bau datang dari mana-mana. Habis kita buang kotoran sembarangan. Di belakang honai, kebun, di sungai, kita buang saja,” kata Yali.

Mula-mula mereka membangun dua jamban percontohan. Closet dibuat dari seng yang dibentuk seperti talang air menuju lubang penampungan berukuran 3×3 meter. Tempat jongkok dibuat dari kayu yang diambil dari hutan-hutan di atas gunung.

Bagaimana dengan lantai? Karena harga semen di Wamena mencapai Rp 800 ribu per sak, Yali putar otak. Ia mengumpulkan abu bekas pembakaran kayu dan diaduk dengan air mendidih. Ternyata lengket. Bahan ini menjadi pengganti semen.

Abu dapur tadi pengganti semen untuk lantai jamban. Sementara untuk menutup lubang septik tank kami susun kayu dan ditutup dengan tanah. Agar uapnya bisa keluar, kami pakai batang buat merah, kasih lubang, trus tancap di atas. Paralon mahal jadi…,” kata Yali dalam dialek Wamena.

Tetapi mengubah kebiasaan BABS tidak mudah. Yali mendapat tantangan dari warga kampungnya. Menurut mereka, jamban bukan budaya nenek moyang. Selama puluhan tahun mereka sudah terbiasa BAB di sembarang tempat.

Yali tidak kurang akal. Dalam setiap penyuluhan yang diadakan WVI atau dinas kesehatan, ia selalu menyertakan kepala suku Wulep Kenelak. Bagi orang Papua, kepala suku adalah panutan. Suaranya didengarkan. Perintahnya diikuti.

Bapa Wulep ini orangnya sangat mengerti meskipun tidak bisa membaca dan menulis. Saya beritahu tentang pentingnya jamban. Saya beritahu kalau anak-anak kami banyak yang mati akibat mencret karena buang kotoran sembarangan. Setiap ada pertemuan dengan kader kesehatan dia ikut. Beliau setuju dengan saya,” kata Yali.

Denda

Sebagai percontohan, Yali dan Wulep mendirikan dua buah jamban di dekat gereja tadi. Mereka sekeluarga memakainya setiap hari. Memberi contoh. Setiap hari minggu Yali minta waktu untuk menjelaskan pentingnya buang air besar ke dalam jamban . Dan Wulep Kenelak mengeluarkan aturan. Warga yang tidak taat buang air besar ke jamban dikenai denda Rp 300 ribu. “Bapa Wulep yang jaga sendiri di depan jamban,” kata Yali tertawa.

Dendanya tinggi sekali? Wulep tertawa setelah Yali menerjemahkan pertanyaan saya. Ia berbicara dalam bahasa daerah. “Bapa Wulep bilang, denda yang tinggi supaya masyarakat taat. Kalau dendanya rendah, pasti dilanggar,” kata Yali.

Karena takut kena denda, warga mulai tertib buang air besar ke jamban. Lama-kelamaan rasa takut ini menjadi kebiasaan.

Apalagi hasilnya mulai terasa. Dua tahun sejak wajib ke jamban, jarang ada anak yang mencret dan demam. Angka kematian balita bisa ditekan. Biasanya dua atau tiga anak balita meninggal setiap tahun. Tetapi menurut kesaksian Yali, dalam dua tahun ini tak satu pun yang meninggal.

Sangat terasa perbedaannya setelah ada jamban. Tingkat kesadaran warga untuk hidup bersih juga cukup tinggi. Misalnya kami ajak warga untuk cuci tangan pakai sabun. Pada pintu jamban sekarang selalu disiapkan air dan sabun untuk cuci tangan. Kalau ada yang demam atau diare, warga juga langsung bawa ke Puskesmas,” kata Tadeus “Tedy” Kogoya, fasilitator WVI yang seminggu atau dua minggu sekali,selalu datang berkunjung ke Kampung Air Garam dan Manda.

Untuk membangun jamban permanen, WVI membantu menyediakan bahan-bahan bangunan seperti seng, semen dan kloset jongkok. “Tapi hanya sekali. Selebihnya adalah swadaya warga di sini,” ucap Tedy.

Karena melihat hasilnya bermanfaat, tumbuh kesadaran warga Kampung Air Garam dan Manda membangun jamban sendiri. Dua-tiga keluarga bersekutu membangun satu jamban untuk dipakai bersama. Yali ringan tangan membantu mereka.

Ada yang atapnya masih alang-alang tetapi ada juga yang seng. Sesuai kemampuan mereka,” kata Yali yang penuh semangat bercerita. Kini semua keluarga di Kampung Air Garam dan Manda telah memiliki jamban sendiri.

Di Kampung Air Garam dan Manda ada 65 jamban. Sekarang kami bisa makan di halaman seperti ini. Tidak ada bau kotoran,” ucap Yali lagi.

Data yang dikeluarkan WHO tahun 2012 ada 31.200 balita dari seluruh Indonesia meninggal karena diare. Penyebabnya karena minimnya pengetahun tentang kebersihan. Penyumbang terbesar kematian adalah Papua yang disebabkan oleh perilaku buang air besar sembarangan.

Tahun 2015 organisasi Unicef juga mengeluarkan data hasil penelitian. Sekitar 300 ribu anak di bawah usia lima tahun meninggal karena kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk setiap tahun di seluruh Indonesia. Sejumlah 1,4 juta anak menderita sakit akibat pneumonia dan diare.

Selain jamban, WVI juga menginisiasi pembangunan dapur sehat. “Salah satu penyebab utama radang paru karena anak balita menghirup asap dalam honai,” kata Yali.

Yali mulai terlebih dahulu. Honainya memiliki jendela agar udara leluasa masuk ke dalam honai. Dapurnya pun demikian.

Sekarang warga berswadaya membangun dapur sendiri. Yali yang terampil bertukang membantu mereka dengan ikhlas. Saat ini di Air Garam dan Manda telah berdiri 33 buah dapur berventilasi. (Lex)

Tinggalkan Balasan