HASIL JUAL CACAO DAN SAPI DAPAT RP 850 JUTA

Pada tahun 1990 hingga 2000, harga jual biji cacao basah (bcb) berkisar antara Rp 5.000,00 s.d Rp 9.000,00 per kg. Para pembeli bcb petani di Kabupaten Jayapura adalah PT. Jodefo dan Dinas Perkebunan, Kabupaten Jayapura, tutur Anton.

Lebih jauh ia menjelaskan, ‘Uang yang terkumpul dari penjualan bcb selama 1 (satu) musim panen, setelah dikeluarkan untuk bayar upah kerja dan biaya kehidupan keluarga, sisanya saya kumpulkan dan disimpan pada Bank Papua, cabang Genyem. Ketika uang yang terkumpul dari penjualan bcb ini mulai meningkat jumlahnya, pikiran saya untuk mengolah dana tersebut sebagai modal untuk membuat usaha lain mulai muncul.

Saya mulai melirik pada usaha peternakan khususnya beternak sapi dan babi. Kebetulan pada tahun 1990-an itu,  ada orang yang menjual sapi jenis besar dan berdaun telinga lebar. Pemilik dan penjual sapi jenis besar itu, ada di wilayah sini (Genyem-Red),’ terang Anton.

MULAI DENGAN 6 EKOR SAPI

Minat Anton untuk mencoba usaha lain dalam bidang peternakan sapi, muncul tahun 1980-an. Jauh sebelum ia diundang untuk menghadiri Konferensi Gereja Kristen Injili di Indonesia (GKII) di Cibubur, Jakarta tahun 1987. Ia mulai usaha beternak sapi pada tahun 1982, dan memulainya dengan 6 (enam) ekor sapi. Pada tahun itu harga 1 (satu) ekor sapi, di Genyem sebesar Rp 5.000.000,00. Biaya pembelian 6 (enam) ekor sapi itu saya keluarkan dana sebanyak Rp 30.000.000,00. Angka ini berasal dari 6 ekor x Rp 5.000.000,00 per ekor = Rp 30.000.000,00.

‘Usaha beternak sapi ini, saya lakukan di padang alang-alan Ibub. Dilakukan sendiri, tanpa melibatkan tenaga kerja. Karena itu saya harus mengatur penggunaan waktu sedemikian rupa untuk mengurus cacao dan mengurus ternak sapi,’ papar Anton.

Menjawab pertanyaan penulis, bagaimana Anda mengatur waktu antara urus kebun cacao dan memelihara sapi? ‘Padi-pagi saya sudah bangun, lalu pergi mengecek sapi peliharaan saya di Ibub. Kemudian saya pergi ke kebun cacao untuk membersihkan kebun dan memangkas tanaman pengganggu cacao. Sepulang dari kebun, saya tanyakan mereka apakah ada yang pergi memberikan garam untuk sapi? Bila jawabannya belum, maka saya langsung turun ke Ibub untuk memberikan garam kepada sapi. Sepulang dari sana, baru saya makan,’jelas Anton.

BABI PUTIH DIMULAI 6 EKOR

Dalam tahun 1982 itu juga, Anton melirik usaha di bidang peternakan babi. Untuk memulai usaha di bidang ini, dia membeli 6 (enam) ekor babi batam atau jenis besar, berwarna putih dan bertelinga lebar. Ke 6 (enam) ekor babi itu, terdiri dari 4 (empat) ekor babi betina dan 2 (dua) ekor babi jantan. Pada saat itu dia beli dengan harga Rp 500.000,00 per ekor. Biaya pembelian ke 6 (enam) ekor babi itu sebesar Rp 5.000.000,00 (Lima Juta Rupiah).

Babi-babi itu lalu dikandangkan dan dipelihara secara intensif. Kandangnya dibersihkan dan makanan untuk babi diberikan secara teratur. Yang paling banyak mencurahkan tenaga, waktu dan pikiran untuk ternak babi ini adalah istrinya dan anak-anak perempuan mereka. Usaha dibidang ternak babi ini, tampaknya diberkati sebab hingga tahun 2009 babi yang dipelihara istri dan anak perempuannya berkembang menjadi 200 ekor.

MENGHASILKAN RP 850 JUTA

Menurut Anton Wouw, usaha di bidang pengembangan cacao itu mencapai titik klimaknya pada tahun 2008 – 2009. Pada tahun itu harga cacao mencapai puncaknya dimana bcb dihargai dengan Rp 19.000,00 per kg dan bck dihargai dengan Rp 23,000.00 per kg.

‘Saya panen cacao sebanyak 8.500 kg atau setara dengan 8.5 ton. Biji cacao yang saya panen itu, sebagian dijual dalam bentuk bcb karena kesulitan untuk mengeringkannya dan sebagian lain dijual dalam bentuk bck (biji cacao kering). Total uang yang diterima dari penjualan biji cacao pada masa itu sebanyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Itu berarti dalam setahun, saya mendapatkan total penjualan cacao sebanyak Rp 400.000.000,00 (Empat Ratus Juta Rupiah). Angka ini berasal dari 2 (dua) musim panen x Rp 200.000.000,00 per musim = Rp 400.000.000,00.

Dalam tahun ini juga saya menjual 26 (dua puluh enam) ekor sapi yang kami pelihara sejak 1982 – 2009 dan 200 ekor babi batam atau jenis putih, yang juga mulai dipelihara sejak tahun 1982-2009. Total uang masuk dari penjualan 26 ekor sapi dan 200 ekor babi pada saat itu sebanyak Rp 450.000.000,00 (Empat Ratus Lima Puluh Juta Rupiah). Bila dijumlahkan dari penjualan cacao 1 (satu) tahun dan ditambahkan dengan hasil penjualan ternak (sapi dan babi), maka uang yang kami terima selama 1 (satu) tahun itu, sebanyak Rp 850.000.000,00 (Delapan Ratus Lima Puluh Juta Rupiah).

‘Berkat Tuhan atas kami sekeluarga’, kenang Anton. ‘Selain itu’ tambah Anton, masih juga ada mengalir berkat dari tempat lain. Sebab dalam tahun itu juga ada pengusaha cacao dari Jayapura yang meminta bantuan saya untuk membeli dan mengumpulkan cacao petani lainnya yang ada di sini (Suna-red). Bahkan kami diberi kesempatan untuk menggunakan kendaraan start Wagon yang mereka kontrakan untuk kami pakai dikala mencari, membeli dan mengumpulkan cacao dari petani di seluruh wilayah Genyem. Uang yang titipkan kepada saya untuk membelikan biji cacao di sini sebanyak Rp 30.000.000, 00 (Tiga Puluh Juta Rupiah). Kalau dana sebanyak itu sudah habis dibelanjakan, dan biji cacao yang terkumpul lalu diambil oleh pengusaha sebagai pemilik modal ke Jayapura. Lalu sang pengusaha menitipkan lagi dana lebih banyak yakni Rp 50.000.000,00 (Lima Puluh Juta Rupiah)’ jelas Anton.

Selanjutnya ia menjelaskan, ‘dari usaha ini saya juga mendapatkan uang masuk terutama dari selisih harga pembelian cacao yang diperkirakan oleh sang pengusaha dengan harga tunai biji cacao pada pembelian di petani pemilik biji cacao. Walaupun kami mendapatkan insentif dari mandat pengusaha ini, kami merasa seluruh waktu terpakai habis. Mengurus kebun cacao kami sendiri dan ternak peliharaan  serta membelanjakan biji cacao titipan dari sang pengusaha Jayapura’ keluhnya.

ANAK KE 2 DARI 8 BERSAUDARA

Laki-laki yang menekuni usaha cacao karena malu meminta upah dari jemaat GKII itu, lahir di Kampung Menceku (kampung tua) 10 Agustus 1943. Dia adalah anak ke 2 (dua) dari 8 (delapan) bersaudara dari pasangan ayah Yusuf Wouw dan ibu Mariam Yewi. Ke delapan bersaudara ini, semuanya berprofesi sebagai petani. Karena pada masa itu, pra sarana pendidikan belum berkembang seperti sekarang ini dan orang tua mereka belum memahami arti pendidikan bagi anak-anaknya. Maka Anton dan ketujuh saudaranya, 4 (empat) orang laki-laki dan 4 (empat) orang perempuan, dibina dan diajarkan dalam jalur adat-istiadat suku Genyem. Mereka juga dibesarkan dalam iman kepercayaan Kristen.

Selama berada dalam pengasuhan adat, sebagai anak laki-laki mereka diajarkan cara memegang panah, membidik binatang buruan, mengelola sumber daya alam (SDA) milik keluarga. Belajar ritus-ritus yang harus dilakukan sebelum mengambil SDA milik keret. Di dalam rumah, mereka belajar cara mengasuh adik. Sedangkan di luar rumah, mereka belajar cara mengolah lahan, dan cara menanam tanaman yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Semua pendidikan yang diberikan menggunakan metode pelibatan secara langsung dalam dunia kerja. Baik Anton maupun saudara-saudaranya, harus mengikutinya dengan saksama agar mereka mempunyai pengetahuan dan skill untuk hidup dikemudian hari.

MENIKAH DENGAN YOSINA YARU

Gejolak jiwa pemuda Anton, tertarik pada pujaan hatinya Yosina Yaru. Dia adalah seorang gadis manis yang berasal dari lingkungan Genyem juga. “Pertemuan petama antara saya dengan Yosina, terjadi di Jayapura pada tahun 1970. Pertemuan itu, kemudian berlanjut dengan proses adat yang berlaku dalam suku kami yakni Genyem. Setelah terjadi kesepkatan antara orang tua saya dengan orang tua Yosina, akhirnya kami diperstukan dalam nikah suci dalam Gereja Kristen Protestan GKII di Jayapura tahun 1971’ kenang Anton.

Pernikahan ini mengahruskan ibu Yosina Yaru untuk meninggalkan ayah dan ibunya serta saudara-saudaranya untuk mendampingi saya di Suna. Bagi ibu Yosina, Suna merupakan tempat baru termasuk saya dan keluarga saya serta kerabat saya. Ketika itu ia harus mulai belajar nilai-nilai dan pola konsumsi pangan yang berlaku dalam keluarga kami. Karena itu ia memerlukan waktu untuk penyesuaian diri. Selain itu ia juga harus melepaskan kebiasaan-kebiasaan lamanya selama ia masih berada di lingkungan keluarga asalnya. Kendati ia sadar bahwa ia berasal dari suku yang sama yakni, suku Genyem. Tetapi setiap keluarga mempunyai aturan sendiri-sendiri yang berkaitan dengan pola konsumsi dan cara pengolahan pangan dalam keluarga, jelas Anton mengapa istrinya harus menyesuaikan diri dengan keluarganya.

MELAHIRKAN 5 ORANG PUTERA

Pernikahannya dengan ibu Yosina Yaru yang dilangsungkan di Gereja GKII di Jayapura pada tahun 1971, dikarunia 5 (lima) orang anak. Mereka terdiri dari 3 (tiga) orang anak laki-laki dan 2 (dua) orang anak perempuan. Kehadiran dari kelima orang putera-puteri dalam keluarga mereka dipandang sebagai berkat dan pendorong motivasinya untuk bekerja keras guna menghidupi kelimanya agar mereka menjadi dewasa, bertanggung jawab dan mandiri.

Keempat dari kelima putera-puterinya itu, sudah berkeluarga, tinggal si bungsu yang bernama Dominggus Wouw yang belum berkeluarga. Menjawab pertanyaan penulis, Ápakah kebun kakao miliknya saat ini akan dibagi-bagikan kepada kelima orang putera dan puterinya?’.

“Oh tidak, sebab mereka semua masing-masing mempunyai kebun cacao yang cukup luas. Sehingga mereka tidak mungkin mau mengurus kebun cacao pada saya. Kemudian ia menambahkan, ‘Aku akan tetap mengurus cacao, hingga akhir hayatku’ tuturnya menutupi wawancara dengan penulis. (Yan Hambur).

Tinggalkan Balasan