Anton Wouw: Tiap Musim Panen Kakao Saya Dapatkan Rp 200 Juta

Adapun jenis pekerjaan yang kami lakukan pada lokasi kebun kakao itu meliputi: penebangan pohon, pembabatan rumput, pembakaran rumput dan ranting yang sudah kering, serta potongan-potongan kayu  yang sudah ditebang namun tidak terbakar waktu proses pembakaran karena masih mentah. Setelah itu kami menyiapkan lubang-lubang dalam tanah dengan diameter 10 (sepuluh) cm dan dalam 10 (sepuluh) cm juga.Ketika lubang-lubang tanah telah disiapkan, barulah ditanam bibit kakao yang telah dipersiapkan terlebih dahulu dalam koker. Namun ketika hendak ditanam, plastik dan bambu sebagai media dasar untuk koker dikeluarkan dengan cara menggunting dengan gunting atau pisau tajam dan bila menggunakan bamboo sebagai media untuk koker, maka bambunya dibelah dengan parang sehingga hanya bibit kakao yang diselimutkan tanah yang sudah terbentuk dalam koker saja yang boleh dibenamkan ke dalam lubang tanam. Setelah itu, tanah-tanah galian yang ada di sekitar lubang tanam dituturan untuk menutup bibit kakao yang telah ditanam.

Ikut Konferensi Dan Dapat Ilmu Kakao

Perhatian dan hiburan nyata dari TuhanMaha Pengasih dan Penyayang dirasakan Anton Wouw pada tahun 1987.Dia dipilih oleh pengurus GKII di Irian Jaya (kini Papua) untuk menghadiri Konferensi GKII di Cibubur, Jawa Barat, Indonesia.“Peserta dari Irian Jaya berjumlah 100 orang dan karena jumlah banyak maka untuk transportasi Jayapura – Jakarta, kami menggunakan Jasa Kapal Motor (KM) Umsini milik PT. Pelni.Karena jumlah pesertanya banyak, maka perjalanan menjadi ramai dan kami pun tidak pernah merasa bosan.Padahal perjalanan Jayapura – Jakarta menghabiskan waktu 1 (satu) Minggu.

Tentang konferensi, Anton Wouw menjelaskan, Konferensi berlangsung 1 (satu) minggu.Tetapi di saat ada jeda waktu seperti pada waktu sore hari, kami diantar oleh panitia penyelenggara untuk melihat dan menikmati udara di Tugu Monumen Nasional (MONAS), Jakarta, DAN di beberapa tempat lainnya, perjalanan yang menyenangkan dan tak tak terlupaka, kenang Anton.

Selain ke Monas, pantia penyelenggara juga mengantarkan peserta dari Irian Jaya ke Surabaya dan Jember.Sebagaimana anda ketahui, Jember merupakan Pusat Pengembangan dan Produksi Kakao dan Kopi untuk Propinsi Jawa Timur.Tampaknya panitia penyelenggara memahami basic dari peserta konferensi dari Irian Jaya yakni petani kakao. Makanya sebagai refreshing dan studi banding, kami diantarkan ke Jember untuk melihat dari dekat proses pengembangan dan pengelolaan tanaman kakao di Jember.

Di Jember, Wouw melihat proses pengelolaan yang lain sekali dari yang biasa mereka buat. Di sini, tanah-tanah digunakan semuanya untuk kesejahteraan para penduduknya.Sementara kami di Irian Jaya, jiwanya sedikit dan tanahnya luas.Tetapi tidak digunakn untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya.Saya harus pulang dan mengolah tanah milik keluarga kami untuk diguanakan sebagai sumber keuangan keluarga, niat Anton.

Perluaskan Kebun Kakao

Sekembalinya dari Konferensi GKII di Jakarta, Anton membagikan semua pengalamannyaselama mengikuti Konferensi dan pengalaman study bandingnya ke Jember, Jawa Timur kepada teman-temannya dan tak lupa kepada istrinya. Salah satu pengamatan lapangan yang dibagikan kepada istrinya yang bernama Yosina Yaru adalah tentang penggunaan tanah milik keluarga. “Di Pulau Jawa, jiwanya banyak tetapi tanah untuk pertanian sangat sedikit. Dan tanah-tanah sedikit itu, sudah digarap semuanya sehingga tak terlihat sebidang tanah pun yang tertingga.Mulai dari sekitar rumah tinggal sampai di lahan masing-masing.Orang harus kerja keras dan kreatif, supaya bisa mendapatkan hasil yang cukup untuk membiayai hidup setiap hari.Sementara kita di sini, tanahnya luas tetapi jiwanya sedikit.Mestinya kita harus hidup lebih makmur daripada mereka yang tinggal di Jawa yang tanahnya terbatas.Tetapi masalahnya, pikiran kita tidur sehingga tanah-tanah yang kita miliki tidak diolah sebagaimana mestinya dan hanya menjadi alat kebanggan semata, jelas Anton kepada istrinya.

“Karena itu”, lanjut Anton, “Tidak ada cara lain untuk kita menikamati hidup yang lebih baik selain daripada melanjutkan kerja keras yang sudah kita lakukan sebelum saya mengikuti konferensi gereja kita di Cibubur, Jakarta, bulan lalu. Bila kita masih mempunyai niat yang kuat, kita perluas areal kebun kakao yang akan kita tanami. Apalagi di Jember sana, orang membutuhkan kakao. Saya pun  merasa yakin, kakao yang kita usahakan pada saat ini kelak akan dicari dan dibeli oleh pengusaha kakao dari Pulau Jawa.

“Iyoo sudah, kita lanjut. Kita kan sudah memulainya dan sudah tahu cara menanam dan mengolah kakao,’ timpal Yosina memberikan dukungan. Karena sudah mendapatkan satu pikiran dengan istrinya, maka Anton Wouw mulai berunding dengan istrinya untuk memulai perluasan kebun kakao yang baru di tanah warisan orang tua mereka.Seperti  biasa untuk membuka kebun  baru mereka harus memulainya dengan menebang pohon-pohon tinggi dan membabat belukar yang ada di dalamnya Setelah itu cabang-cabagan pohon yang telah ditumbangkan dipotong  lalu dibiarkan selama 3-4 minggu agar mengering. Setelah itu dibakar dan potongan-potongan pohon yang tidak terbakar disingkirkan sebagai tanggul penahan erosi dikala musim hujan tiba.Kemudian mereka membuat lubang untuk menanam bibit kakao yang sudah dikokerkan.Semuanya dikerjakan sendiri oleh Anton Wouw dan istrinya Yosina Yaru.Kebun kedua yang diusahakan seluas 2 (dua) hektar.

Setelah bibit kakao yang ditanam pada kebun kedua memperlihatkan tanda-tanada kehidupan, suami-istri itu lalu membuka kebun kakao ketika. Proses pembuatan kebun kakao ketiga inipun dilakukan sama dengan pembuatan kebun kakao kedua. Dikerjakan sendiri, tanpa meminta dukungan dari keluarga besar maupun mempekerjakan orang lain.

Musim Panen Dua Kali

Khusus untuk Papua, panen buah kakao mempunyai rotasi berbuah sebanyak 2 (dua) kali setahun.Musim panen pertama, bulan April sampai Agustus, dengan pembagian waktu, bulan April s.d Juni saat kakao berbunga dan membesarkan buahnya, dan bulan Juli s.d Agustus adalah saat pemanenan buah kakao musim pertama.Sedangkan Musim Panen Kedua, biasanya mulai bulan Oktober s.d Februari tahun berikutnya. Dengan pembagian waktu sebagai berikut: Bulan Oktober s.d Desember adalah pohon kakao berbunga, sedangkan bulan Januari s.d Februari tahun berikutnya adalah musim pemetikan buah atau musim panen buah yang kedua.

Dalam 2 (dua) kali musim panen itu, ada 2 (dua) bulan yang merupakan saat pemulihan atau semacam pengumpulan kekuatan bagi pohon kakao untuk menghasilkan atau mengeluarkan bunga dan buah pada musim berikutnya yakni bulan Maret dan bulan September dalam tahun berjalan.Kedua rotasi musim buah kakao ini, pada umumnya berjalan tepat waktu kalau musim hujan juga turun tepat waktu.Tetapi kalau musim kemarau lebih lama, maka rotasi musim buah kakao pun terganggu. Pada saat inilah para petani kakao akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan uang tunai bagi pemenuhan kebutuhan hidup mereka.

Pekerjakan 18 Orang

Tatkala musim panen tiba, para petani sibuk untuk memetik.Memecahkan buah kakao dengan menggunakan sepotong kayu besi atau sejenisnya dan mengumpulkan biji kakao dari buah yang telah dipecahkan.Pemetikan dan pemecahan buah kakao membutuhkan tenaga yang prima dan dalam jumlah banyak bila kebun kakao yang diusahakan lebih luas dan pada kebun berbeda seperti yang diusahakan oleh Anton Wouw dan istrinya.

Kebun kakao yang diusahakan oleh Anton sekeluarga ini, mempunyai total luas 4,7 hektar namun lokasinya berbeda-beda. Kebun kakao yang pertama, mempunyai luas 0.6 hektar dengan jumlah pohon kakao sebanyak 770 pohon; kebun kakao kedua mempunyai luas 2.4 hektar dengan jumlah tegakkan pohon kakao sebanyak 2.688 pohon; dan kebun kakao ketiga mempunyai luas 1.7 hektar dengan jumlah tegakan pohon sebanyak 1.920 pohon. Bila ditotalkan maka jumlah pohon kakao yang dimiliki Anton Wouw dari ketiga kebun tersebut sebanyak 5.370 pohon.

Menurut perhitungan para ahli kakao, setiap pohon yang berukuran besar akan menghasikan 3 (tiga) kg biji kakao basah (bcb). Mengacu pada standar para ahli kakao itu, berate dari 5.370 pohon yang dimiliki Anton Wouw, kalau dikalikan dengan hasil 3 kg per pohon maka ia akan mendapatkan bcb sebanyak 16.110 kg atau kalau ditonasekan sama dengan 16.1 ton. Masih menurut penghitungan para ahli kakao tersebut, jika bcb sebanyak 16.110 kg milik Anton dikeringkan maka ia maka ia akan mendapatkan biji kakao kering (bck) sebanyak 5.3 ton. Angka ini didapat dari 16.11o kg bcb : 3 kg bcb x 1 kg bck = 5.370 kg bck. Tetapi khusus untuk buah kakao yang ada di Papua, karena rata-rata mereka menanam kakao jenis Kriollo yang ukuran beansnya besar dan panjang, maka dari 16.110 kg bcb : 2 kg x 1 kg bck akan mendapatkan 8.055 kg bck atau setara dengan 8,055 ton.

Untuk memanen buah kakao dan mengumpulkan bcb yang ada pada setiap buah dari 5.370 pohon yang dimiliki Anton Wouw, tidak mudah dan tidak dapat dilakukan oleh suami-istri sendiri. Karena tiap musim panen, pohon kakao akan berbuah serentak dan lamanya masa panen hanya dalam 2 (dua) bulan saja per musim. Bila dipanen di luar masa panen tersebut maka buah kakao akan menjadi rusak dan bijinya akan tumbuh menjadi benih.

Berdasarkan pertimbangan ini maka Anton dan istrinya memutuskan untuk memperkerjakan sejumlah orang yang ada di Suna, yang memiliki kebun kakao dalam jumlah yang terbatas. Pekerjakan tenaga local ini dimulai tahun 1990 – 2013 dengan jumlah tenaga kerja 18 orang dengan rincian tenaga kerja laki-laki sebanyak 16 orang dan tenaga kerja perempuan sebanyak 2 orang. Tenaga kerja yang diambil pada masa itu berasal dari warga jemaat GKII setempat. Mereka hanya dipekerjakan selama 3 (tiga) bulan per musim kakao yakni bulan Juli – Sepetember untuk musim panen kakao yang pertama, dan bulan Januari  – Maret tahun berikutnya untuk musim panen kedua. Mereka diberi upah bulanan Rp.200,000.00 per bulan per orang sesuai dengan upah bulanan yang berlaku di Suna. Itu berarti upah tenaga kerja yang dibayarkan Anton Wouw selama 3 (tiga) bulan sebesar : 18 orang x Rp 200.000,00 per orang per bulan x 3 bulan = Rp 10.800.000,00.

Di luar dari biaya tersebut, masih ditambah dengan biaya makan siang yang besarnya Rp.25,000.00 per orang per hari. Itu berarti dalam sehari, Anton Wouw mengeluarkan uang makan sebesar : 18 orang x Rp 25.000,00 = Rp. 450.000,00; dan dalam seminggu ia mengeluarkan biaya konsumsi tenaga kerja sebesar: 6 hari kerja x Rp.450.000,00 per hari = Rp. 2.700.000,00. Dan dalam satu bulan, Anton Wouw mengeluarkan biaya konsumsi untuk 18 orang tenaga kerja : 4 minggu x Rp.2.700.000,00 per minggu = Rp. 10.800.000,00. Karena tenaga kerja yang dipekerjakan selama 3 (tiga) bulan, maka uang makan yang disediakan oleh Wouw sebesar = 3 bulan x Rp 10.800.000,00 per bulan = Rp. 32.400.000,00. Bila biaya konsumsi ini ditambahkan dengan upah tenaga kerja selama 3 (tiga) bulan yang jumlahnya Rp 10.800.000,00; maka total biaya yang dikeluarkan Anton Wouw untuk 1 kali musim panen sebesar: Rp 10.800.000,00 (upah kerja selama 3 bulan) + biaya konsumsi selama 3 bulan yang nilainya sebesar Rp 32.400.000,00 maka total adalah Rp 43.200.000,00.

Masih menurut Anton Wouw, harga biji kakao pada saat itu mencapai puncaknya dimana bcb dihargai dengan Rp 19.000,00 per kg dan biji cacao kering (bck) dihargai sebesar Rp 23.000,00 per kg.Saya menjualnya dalam bentuk bck. Dari 8.055 kg bck yang saya dapatkan x Rp 23.000,00 per kg maka mendapatkan uang tunai sebanyak Rp 185.265.000,00. Jumlah ini belum ditambahkan dengan hasil penjualan dari buah kakao yang pada saat panen masih setengah matang. Sehingga jumlah hasil penjualan dalam satu musim panen itu, saya mendapatkan kurang lebih Rp 200.000.000,00 jelas Wouw. “Tetapi kalau dikurangi dengan biaya tenaga kerja dalam 1 musim panen Rp 43.200.000,00 maka pendapatan bersih yang saya peroleh sebesar Rp 156.800.000.00” imbuhnya. (Yan Hambur) Bersambung

Tinggalkan Balasan