‘Perang Bintang di DPRP’ Siapa Bersinar di Dok Dua?

SUARA menggelagar dan gemuruh tepuk tangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua menjadi saksi, di DPRP, Selasa (6/3) lalu. Aksi itu sebuah sinyal, anggota DPRP menerima  visi, misi dan program Dua Pasangan Calon (Paslon) Gubernur Papua, Lukas Enembe-Klemen Tinal (Lukmen) dan John Wempi Wetipo-Habel Melkias Suwae (Joshua). Soal  visi, misi dan program menjawab kesejahteraan rakyat dan menyentuh sisi-sisi kemanusiaan warga Papua, itu soal lain.

Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua, JOSUA dan LUKMEN ketika bersalaman dengan para wakil rakyat DPRP

Setidaknya, penyampaian visi, misi dan program di DPRP dari rekaman Harian Umum Bintang Papua layak disebut ‘perang  bintang’. Bagaimana tidak! Dua Paslon sama-sama brilian. Piawai membentangkan program yang dibutuhkan warga Papua. Pesta demokrasi memperebutkan kursi Papua satu dan dua kali ini memang layak dicatat dalam lembaran sejarah tersendiri. Soal siapa yang kemudian bersinar sampai di kursi Papua satu dan dua di Dok II, hanya warga Papua dan Tuhan yang tahu pada saat hari pemungutan suara nanti. Meski mata batin,seorang nara sumber yang diwawancarai media ini, Philipus D  mengatakan: “ Saya mau katakan tidak mendahului kehendak Tuhan sinyal dari visi, misi dan program sebenarnya Paslon yang layak menjadi Gubernur Papua sudah ketahuan. Hanya saya tidak mau menjadi peramal,” akunya.

Menurutnya kedua Paslon sama-sama memiliki  intuisi dan mata batin membaca harapan rakyat Papua, terutama warga Asli Orang Papua (OAP). Ia menyebutkan, Lukmen yang bermodalkan segudang pengalaman dan sudah menorehkan berbagai kerja nyata melanjutkan  visi, misi dan program Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera yang berkeadilan sangat realistis.

“Hanya saya tidak bisa mengetahui secara persis apakah warga Papua bisa diyakini dengan visi, misi dan program seperti yang disampaikan dihadapan dewan. Karena bagi warga Papua simpel saja. Mereka butuh pendidikan yang layak. Kesehatan yang terjamin dan bisa makan tiga kali sehari,” katanya.

Demikianpun dengan Paslon Joshua sama-sama menarik visi, misi dan program yang dipaparkan hanya dengan tiga kata “Program Papua Cerdas” menuju kemandirian. “Sangat menarik. Meski, saya harus jujur menilai bagaimana strategi mereka dengan visi, misi dan program yang  bagus itu meyakinkan warga Papua bisa menghantar mereka ke Dok II. Tetapi satu hal, saya mau mengatakan kehadiran dua Paslon ini ibarat bintang. Jadi Pilkada kali ini di Papua sedang mempertontonkan ‘perang bintang’,” katanya.

Dari rekaman media ini, suasana sidang Paripurna Istimewa dipadati masyarakat, sehingga Pansus Pilkada DPRP menyediakan tenda dan layar TV di halaman Kantor DPRP. Masyarakat cukup banyak karena kendaraan roda dua dan roda empat dialihkan untuk diparkir di Kantor Sinode Jayapura, Taman Imbi, Halaman Gereja Harapan Jayapura, Kantor Bawaslu Provinsi Papua, dan khusus kendaraan roda dua dijejerkan parkirannya diatas trotoar depan Kantor DPRP.

LUKMEN diberikan kesempatan pertama untuk menyampaikan visi misinya dan spontan pendukungnya bertepuk tangan, demikian juga hal yang sama terjadi ketika JOSHUA memaparkan visi misinya.

Meski demikian masyarakat yang hadir, dan para peserta sidang Paripurna sesekali bertepuk tangan dengan wajah tersenyum dan tertawa atas penyampaian visi misi LUKMEN yang disampaikan dengan tegas.

Demikian juga halnya dengan Paslon JOSUA yang tentunya terbilang usia masih jauh lebih muda  dari Paslon LUKMEN, sehingga Jhon Wempi Wetipo dalam penyampaian visi misinya dengan lantang dan tegas. Hak itu sepertinya sebuah energy magnet yang luar biasa karena mendapat sambutan tepuk tangan yang rius dari para peserta sidang baik pendukung, simpatisan, para wakil rakyat, sedangkan para anggota MRP dengan ekpresi yang serius mendengarkan setiap visi misi yang disampaikan.

Calon Gubernur Provinsi Papua, Jhon Wempi Wetipo, mengatakan, konsep Papua cerdas itu sebenarnya konsep yang lahir dari pikiran kita bersama bahwa harus ada perubahan di negeri ini. Karena semua itu berangkat dari pengalaman selama ini.

“Apa yang kami sampaikan, itu realitas yang ingin kami wujudkan kedepannya,” ujarnya kepada wartawan di DPRP, Selasa, (6/3).

Ditegaskannya, konsep Papua cerdas yang berdikari ini adalah bagaimana membangun kebahagiaan rakyat Papua. Sebab kita ketahui indikator-indikator yang mebuat orang tidak bahagia itu banyak, salah satunya orang tidak nyaman.

Menurutnya, dari sejumlah indikator yang ada, terdapat 10 indikator yang membuat rakyat Papua tidak bahagia, yakni dari sisi pelayanan kesehatan, pendidikan,  masalah pengangguran, dimana coba dibahayangkan saja Uncen Jayapura dalam setahun meluluskan sarjana sebanyak 3 kali wisuda, namun para lulusan tersebut lebih banyak menganggur karena tidak tersedia lapangan pekerjaan.

Indikator berikutnya ialah pendapatan rumah tangga yang tidak jelas, ketidakharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang bagi keluarga, masalah hubungan sosial, kondisi rumah dan asset, keadaan lingkungan dan keamanan.

“Inilah 10 indikator yang membuat rakyat Papua tidak bahagia di seluruh Indonesia. Kami sangat yakin dengan konsep Papua Cerdas ini rakyat Papua pasti bahagia, sebab dalam Papua Cerdas disitu ada kenayaman, keamanan, pendidikan yang bermutu, kesehatan yang berkualitas, dan lain sebagainya,” tandasnya.

Markus D, Kamin mengaku kalau dirinya sangat klop dengan apa yang diperjuangkan Lukmen. Dia menegaskan, warga Papua tidak bisa dibangun dengan ide dan hanya sekedar wacana dan bicara. Warga Papua membutuhkan sosok yang mampu menghantar dan mengeluarkan mereka dari berbagai belitan masalah selama ini. Dan Paslon yang mampu menjawab harapan warga Papua itu Paslon nomor urut I (satu). “Saya mau memberikan contoh. Lukme sudah membuat beberapa karya monumental yang terpajang di Istana Negara Presiden dan yang tidak bisa dipandang sebelah mata keberhasilan memperjuangkan saham PT. Freeport Indonesia, papua bisa mendapat 10 persen. Itu pendapat saya pribadi . Dan warga membutuhkan yang kongkrit,” katanya. (Fidel/Nls/Karl)

Tinggalkan Balasan