12 Maret Jadi Hari Kerja Bakti Kabupaten Jayapura

Koordinator Seksi Kebersihan Panitia Hari Air Sedunia yang juga sebagai Kepala Distrik Sentani Timur, Steven Ohee, S.Sos. Foto: Yanpiet

SENTANI, BINPAHari Jumat, Tanggal 2 Maret medatang di tetapkan sebagai Hari Kerja Bakti Massal bagi semua komponen baik, Pemerintah, TNI/Polri, Sekolah-Sekolah dan kampus-kampus di wilayah Pemerintahan Kabupaten Jayapura.

Demikain disebutkan, Koordinator Seksi Kebersihan Panitia Hari Air Sedunia yang juga sebagai Kepala Distrik Sentani Timur, Steven Ohee, S.Sos kepada Bintang Papua saat mengikuti tinjauan Bupati Jayapura ke lokasi perayaan Hari Air Sedunia di Kampung Yokiwa, Sabtu (17/02).

Menurutnya, penetapan hari dan tanggal kerja bakti massal tersebut didetapkan melalui sebuah hasil pertemuan bersama antara panitia perayaan hari air sedunia dan Pemerintah Kabupaten Jayapura dengan disetujui oleh Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si

“Pada tanggal tersebut, semua orang yang bermukim di Kota Sentani, tua muda, kecil besar, laki-laki perempuan semuanya akan digerakan oleh masing-masing pimpinan dan juga berdasarkan kesadaran sendiri untuk turun ke kali-kali yang ada di sepanjang kaki Gunung Cycloop yang mengalir ke Danau Sentani untuk membersihakan dari sampah,” ujarnya.

Demikian juga, semua orang yang bermukim di kampung-kampung yang berada di sepanjang Danau Sentani, mulai dari Sentani Timur (Dari Bu), Sentani Tengah (Noro Bu) dan Sentani Barat (Waibu) untuk bergerak turun ke danau guna bersihkan sampah-samaph di danau.

Ohee menjelaskan, kerja bakti massal tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan-persiapan menuju pelaksanaan Hari Air Sedunia, 23 Maret mendatang. Gerakan kebersihan merupakan hal utama yang dilakukan sebagai wujud pertanggungjawaban sebagai warga dalam menjaga serta melestarikan keindahan alam Ccicloop dan Danau Sentani.

“Kami mengajak semua masyarakat untuk ikut dalam kerja bakti massal. Mari kita bersama-sama menjaga kebersihan danau dan sungai untuk keberlangsungan ekosistem di danau sebagai warisan leluhur,” pungkas salah satu Alumni Sekolah Demokrasi Papua. (yft/aj)

Tinggalkan Balasan