Umat Jangan Dipengaruhi Kampanye Politik Atas Nama Agama

Wakil Keuskupan Agung Merauke Drs, Johanes Wob, Ph.B, M.Si dan Sektretaris Pokja Agama Utusan GKI anggota MRP, Robert Wanggai. Foto: Tor

JAYAPURA,Majelis Rakyat Papua (MRP) dari Pokja Agama mengimbau kepada umat Kristen, khususnya umat Katholik di empat wilayah Keuskupan Papua, untuk memilih pemimpin pada Pilkada Serentak 2018 dengan menggunakan hati dan iman.

Keempat wilayah Keuskupan Papua masing-masing, Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Timika, Keuskupan Jayapura dan Keuskupan Jayapura Wilayah Adat Meepago.

”Saya minta umat Katholik untuk memilih pemimpin yang membawa perubahan di tanah Papua bukan dipengaruhi oleh kaampanye politik mengatasnamakan Agama,” kata Wakil Keuskupan Agung Merauke Drs, Johanes Wob, Ph.B, M.Si kepada Bintang Papua di ruang kerjanya kantor MRP Papua di Kotaraja, Rabu (14/2/2018) pagi.

Menurut Johanes Wob yang juga duduk sebagai anggota MRP Pokja Agama, iman kepercayaan merupakan suara Allah yang tidak dapat dipisahkan dari suara hati dengan kehidupan sesaat.

Untuk itu kepada calon pemimpin di tanah Papua, baik itu bupati/wakil bupati maupun gubernur dan wakil gubernur yang akan maju pada Pilkada serentak 2018 nanti, tidak mencampuri urusan Tuhan dengan politik untuk mengajak dan meyakinkan umat Tuhan.

“Ingat bahwa suara hati itu ada dua, yaitu, suara hati deseles dan suara hati kolektiif yang termasuk dari marga dan klen. Disitulah Allah  hadir,” tuturnya.

Meski dalam dunia politik itu selalu berhubungan dengan kepentingan, baik birokrasi, hukum, undang-undang termasuk undang-undang pilkada, seperti di Papua ada undang-undang OTSUS dan MRP punya kewenangan untuk mengatur kriteria Orang Asli Papua (OAP), namun disitu akan kelihatan perbedaan soal etika moral.  

“Jadi jangan dicampurkan dengan etika, moral dan demokrasi pada pilkada serentak yang akan berlangsung di tahun 2018 ini,” kata Johanes Wob mengingatkan setiap pasangan calon.

Johanes Wob berharap, dari keempat keuskupan di Papua membuat pembedaan dalam Pilkada ini, para kandidat jangan mengatas namakan agama, Tuhan dan Adat untuk menarik simpati Umat Khatolik.

“Ingat politik itu beda dengan Agama,” tegasnya lagi.

Ditempat yang sama, Sektretaris Pokja Agama Utusan GKI anggota MRP, Robert Wanggai mengatakan, menjelang pilkada biasanya ada pesan-pesan pengembalaan dari Gereja Kristen Injili di Tanah Papua kepada semua jemat GKI di Tanah Papua untuk menyikapi Pilkada ini.

“Normatif saja, yang intinya mengajak semua umat harus independen dalam memposisikan diri menjelang pemilukada nanti. Kandidat adalah juga umat kita dan berharap yang terpilih adalah mereka yang benar-benar umat dan rakyat tetapi juga yang ditunjuk oleh yang Maha Kuasa,” kata Robert Wanggai.

Sebagai utusan agama, tambah Robert, akan tetap menjunjung tinggi dan netralistas sebagai anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) membidangi Pokja agama akan tetap memposisikan lembaga agama sebagai wadah yang tidak ikut berpolitik praktis.(tor/aj)

Tinggalkan Balasan