Sistim Noken Diminta Dihapus dalam Pemilu

Daud Kogoya. Foto: Korneles Wakaat

JAYAPURA, Politikus Muda asal Papua yang juga selaku Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Tolikara, Daud Kogoya, meminta kepada KPU RI dan KPU Provinsi Papua untuk meniadakan sistim Noken dalam pemilihan umum, baik itu pemilihan kepala daerah (provinsi/kabupaten/kota) , pemilihan legislatif dan pemilihan presiden.

Pasalnya, akibat sistim Noken ini menyebabkan warga pegunungan tengah pada umumnya menjadi korban politik, baik korban harta benda maupun korban nyawa.

Belum lagi akibat sistim Noken ini membuat sesama keluarga misalnya kakak adik atau orang tua dan anaknya saling bermusuhan. Itu disebabkan karena terjadi beda dukungan politik terhadap kandidat bupati atau calon anggota dewan atau presiden.

“Meski satu keluarga tapi karena anak dan orang tuanya bermusuhan karena beda dukungan politik,” ungkapnya kepada Bintang Papua di Kediamannya, Sabtu, (10/2).

Permusuhan keluarga ini terjadi lantaran ketika proses pemilihan berlangsung, masyarakat akan dikumpulkan lalu disampaikan bahwa kelompok yang mendukung kandidat A kumpul pada satu tempat, dan kandidat yang dukung si B juga duduk satu tempat.

Karena sudah saling tahu siapa mendukung kandidat siapa maka permusuhan pun terjadi antara anak dan ayah atau antara sesaudara dalam satu keluarga.

Pihaknya meminta agar pemerintah dan para politikus di negeri ini supaya berpikir kepentingan nyawa masyarakat, jangan berpikir kepentingan pribadi lalu mengorbankan rakyat, yang belum tentu ketika terpilih menjadi kepala daerah dapat memperhatikan dan memberdayakan masyarakat dengan baik.

“Ini yang terjadi selama ini, ketika terpilih menjadi kepala daerah, rakyat dilupakan atau hanya sebagian rakyat saja yang diberdayakan selebihnya tidak,” tegasnya.

Untuk itu, sistim Noken hendaknya dirubah kembali ke sistim pemilihan yang lama, yakni asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasis serta Jujur dan Adil (Luber Jurdil). Karena dengan sistim ini permusuhan antar keluarga bisa dihindari, sebab masing-masing pribadi mencoblos secara rahasia dibilik suara.

“Beda dengan sistim Noken, dimana kepala suku yang mencoblos untuk semua dengan cara duduk berkelompok,” ujarnya.(Nls/aj)

Tinggalkan Balasan