Noken Kulit Kayu Jadi Buruan Wisatwan

                      Mama Thresya Ohee dan kakaknya Jefry Nere saat mengerjakan pesanan lukisan diatas kulit kayu. Foto: Jainuri

JAYAPURA, – Tas yang berbentuk khas dan dibawa secara khas masyarakat Papua, yakni digantungkan di kepala yang diberi nama Noken, sejak 4 Desember 2012 telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak berbenda oleh UNESCO (salah satu badan dunia dibawah PBB).

Hingga saat ini noken masih banyak diproduksi dan dipakai oleh warga Papua, juga paling dicari oleh wisatawan ataupun cenderamata untuk dijadikan kenangan atau oleh-oleh khas Papua.

Noken kulit kayu adalah noken asli yang dibuat dari kulit kayu yang banyak tumbuh di Papua, yang diambil seratnya dan dipintal secara manual, yakni tanpa alat.

Dengan dipilin-pilin hingga berbentuk benang, selanjutnya dianyam hingga berbentuk noken (tas), yang belakangan juga ada yang dibentuk macam-macam, seperti dompet, sepatu kantong handphone, dan lain-lain.

Bahannya pun banyak yang telah membuatnya menggunakan benang pintalan pabrik berbahan sitentis.

Seperti di salah satu rumah produksi noken di Sentani milik Mama Tresya Ohee di Kampung Asei Kecil, tepatnya sekitar 150 meter sebelum sampai di pantai wisata Khalkote yang setiap tahun menjadi lokasi digelarnya vestifal budaya Danau Sentani oleh pemerintah Kabupaten Jayapura.

Mama Tresya Ohee saat ditemui Bintang Papua, Senin (29/1/2017) di stand yang dibangun di depan rumahnya mengungkapkan bahwa noken asli buatannya bersama 20 anggota keluarga yang semua kakak beradik, sering kosong karena banyak pengunjung yang datang dan yang dicari adalah noken asli dari kulit kayu.

“Kalau yang dari kulit kayu kosong, karena banyak yang cari. Membuatnya butuh waktu lama karena tidak pakai alat. Jadi dibuat manual,” ungkapnya.

Diceritakan, untuk menghasilkan benang yang siap dianyam menjadi noken, kulit kayu yang dipilih, diambil seratnya dengan cara dipukul-pukul.

Mama Thresya Ohee saat memperlihatkan hasil kerajinan yang dipajangnya di stan miliknya. Foto: Jainuri

Setelah berbentuk serabut, diambil seratnya dan dipilin-pilin diatas paha dengan menggunakan tangan, disambung-sambung hingga menghasilkan benang yang siap dianyam menjadi noken dan aneka kerajinan.

Bersama kerabatnya yang membentuk sebuah kelompok usaha bersama yang diberi nama KUB Fansowaye, Mama Thresya tidak saja menghasilkan noken dengan beraneka motif dan ukuran, tapi juga lukisan diatas kanvas kulit kayu.

Saat disambangi Bintang Papua, Mama Thresya pun menunjukkan kakaknya, Jefry Nere yang sedang mengerjakan pesanan berbentuk lambang milik salah satu kesatuan TNI, yang dilukis diatas kulit kayu yang telah jadi lembaran selebar 1×1 meter.

Dari lembaran kulit, juga dibuat baju tradisional, aneka topi, dompet, dan berbagai kerajianan lain.

Selain itu, Mama Thresya dan keluarga juga menghasilkan ukiran pada buah kelapa yang kering, kayu yang dibentuk sendok pengaduk sagu dan beraneka kerajinan lainnya.

Khusus soal stand, Mama Thresya menceritakan bahwa awalnya sebelum dibuat lokasi vestifal, ia dan keluarga sudah membuat aneka kerajinan yang dipasarkan di tempat yang sama, namun sebatas para-para untuk jualan pinang.

“Dulunya sebelum ada vestifal di sini, sata jual di atas para-para sambil jual pinang,” ceritanya yang kini lebih focus menjual aneka kerajinan dan tidak lagi berjualan pinang.

Untuk harga noken, baik yang terbuat dari kulit kayu maupun dari benang tekstil, dihargai mulai Rp 50 ribu untuk ukuran kantong handphone. Sednagkan untuk noken dihargai Rp 250 ribu untuk noken ukuran kecil hingga Rp 500 ribu untuk noken ukuran besar.

Sedangkan untuk yang berbahan dasar lembaran kulit kayu, dijualnya seharga Rp 30 ribu untuk aneka dompet, topi dan lain-lain yang ukuran kecil, hingga seharga Rp 1,5 juta untuk ukuran 1X1 meter.(aj/aj)

Tinggalkan Balasan