Andina Lengka, Pewarta Menjadi Kader Kesehatan

Andina Lengka, tokoh agama di Kampung Yanenggame merangkap sebagai kader kesehatan Puskesmas Asologaima, dan pewarta dalam lingkup gereja Katolik. Foto: Alex

PAPUA, – Gereja Santa Bunda Maria Yanenggame, Jayawijaya, terletak di sisi Sungai Kimbim, sekitar satu jam berjalan kaki dari Wame. Kendaraan belum bisa sampai ke Yanenggame karena berada di dasar lembah. Wame-Yanenggame hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar satu jam. Jalan raya yang melewati Wame adalah jalur yang baru saja dibuka, yang menghubungkan Wamena dan Tiom, ibukota Kabupaten Lanny Jaya.

Beruntung, sebab jalan yang baru dibuka ini membuat warga dari beberapa kampung di sekitar Wame dan kampung-kampung lain yang dilewati jalur  ini tidak perlu turun jauh ke Asologaima untuk menunggu kendaraan bila ingin ke Wamena atau Tiom. Meskipun demikian, mereka mesti menunggu berjam-jam. Masih jarang kendaraan yang lewat di sana.

“Kalau orang malas tunggu di atas, berarti jalan kaki sekitar 3 jam ke Asologaima. Bisa lebih cepat lagi, karena jalan menurun saja,” kata Andina Lengka, tokoh agama di Kampung Yanenggame yang belakangan merangkap menjadi kader kesehatan Puskesmas Asologaima.

Pewarta & Kader Kesehatan

Andina adalah Pewarta  dalam lingkup gereja Katolik. Tugas seorang Pewarta mirip-mirip dengan Guru Injil. Ia memimpin umat di Stasi Santa Bunda Maria Yanenggame, Paroki St. Stefanus Kimbim, Wamena. Stasi ini meliputi enam kampung yakni Yanenggame, Wame, Dumabaga, Dogoname, Wawanca dan Mulelebaga.

Sebagai Pewarta, Andina yang berkhotbah dan memimpin kebaktian setiap hari minggu. “Saya punya umat di sini ada 108 kepala keluarga. Jumlah jiwanya  280 orang dicampur anak-anak dan orang dewasa,” terang Andina.

Sementara menjadi Pewarta, Andina juga adalah kader kesehatan dari Puskesmas Asologaima. Tugasnya menyiapkan Posyandu, mendata jumlah bayi dan ibu hamil di kampung-kampung yang disebutkan di atas. Ia juga bertugas  mendata warga yang terkena HIV-AIDS dan penyakit tuberculosis. Ia sekaligus menjadi Pendamping Minum Obat (PMO) bagi mereka.    

“Yang saya dampingi sekarang ada 5 orang yang positif HIV. Mereka minum HRV. Terus ada 6 orang pasien TB. Tiga orang sudah sembuh, satu orang perlu minum obat dua bulan lagi, satu orang masih empat bulan dan yang satu lagi mulai dari awal karena minum obatnya putus-putus,” kata Andina.

Andina selalu mengontrol semua “pasien”nya. Ia mendatangi mereka satu per satu untuk mengetahui kondisinya. Bila mereka sendiri tidak sempat pergi mengambil obat ke Puskesmas Asologaima, Andina yang akan turun ke sana mengambilkan obat buat mereka.

“Misalnya ada pasien HIV Positif yang sudah tidak kuat jalan lagi, saya yang ambil obat buat dia. Atau pasien TB yang sedang ada keperluan lain, pasti saya turun ambil obat juga buat dia. Terus yang sudah minum obat enam bulan saya damping lagi pergi periksa ulang ke Puskesmas Asologaima,” kata Andina. Agar jadwal pengambilan obat pada bulan berikutnya tidak terlewatkan, Andina membuat catatan tersendiri.

Ada yang dia layani dua bulan sekali. Ada yang sebulan sekali. “Saya harus pergi ke rumahnya. Saya hitung jumlah obatnya. Hari apa dan tanggal berapa obatnya habis,” kata dia.

Pasien terjauh berada di Kampung Mulelebaga. Dari Yanenggame tempat Andina, ia perlu berjalan kaki selama enam jam turun-naik gunung. “Minggu lalu saya sempat jatuh sakit. Terus saya periksa ke dokter. Dia bilang karena saya kelelahan jalan kaki. Saya ingat, sebelumnya saya ke Mulelebaga dua kali dalam satu minggu,” ujar Andina.

Program ToGa-KIA

Sekitar tahun 2015 Andina bertemu dengan staf WVI. Sebenarnya ini bukan pertemuan pertama. Dalam beberapa kegiatan WVI di Wame dan Dogoname, Andina kerap mendengar nama lembaga ini. Bahkan beberapa kali berjumpa degan para staf. “Tapi dulu belum akrab. Jadi kalau ketemu di jalan hanya kasih selamat saja, terus pergi lagi,” kata dia.

Andina terkait WVI dalam program ToGa-KIA (Tokoh Agama untuk Kesehatan Ibu dan Anak) pada tahun 2014. Tokoh agama dilatih untuk dapat memasukkan isu Kesehatan Ibu dan Anak pada khotbah-khotbah mereka  di gereja.

“Ibu Andina bagus. Dia suka membantu dan sangat terbuka dengan kita. Selain khotbah di gereja, dia juga bikin kebun gizi dan kasih makan anak-anak dua atau tiga kali dalam sebulan,” kata Sonya Tadoe, Koordinator Program Kesehatan WVI clutser Jayawijaya.

 Soal kebun gizi Andina memiliki lahan yang luas di sekeliling gereja. Selain ia menanam bunga-bunga, dia juga menanam sayur dan buah-buahan.

“Saya tanam buncis, wortel, ubi, labu, sebagai percontohan kebun gizi. Itu yang kami petik setiap minggu untuk memberi makan kepada anak-anak balita,” kata Andina Lengka.

 

Sekarang mereka memasak setiap hari minggu. Biasanya kata Andina ada tiga orang ibu yang datang membantunya. Karena jarak yang jauh, mereka datang pada hari Sabtu dan menginap di rumah Andina.

 

 “Pagi-pagi, hari minggu kami sudah bangun. Kupas wortel, ipere, keladi, bersihkan sayur-sayuran, terus kami  masak. Biasanya anak-anak SEKAMI (Serikat Kepausan Anak Remaja Misioner-semacam Anak Sekolah Minggu) keluar gereja duluan. Mereka kami kasih makan, lalu orang tuanya ikut kebaktian minggu,” kata Andina. Dalam beberapa kesempatan para biarawati dari Kimbim memberinya susu untuk anak-anak Sekami.

 

Tidak Hanya Khotbah

Tidak hanya berkhotbah dari mimbar gereja tentang kesehatan ibu dan anak. Andina juga bergerak ke lapangan. Sejak terkait dengan WVI, ia telah memiliki daftar jumlah balita dan ibu hamil di Yanenggame dan 5 kampung lainnya. Setiap kali berkunjung ke kampung-kampung tersebut, ia menyampaikan pesan kesehatan seperti yang dilatihkan WVI kepadanya.

 

“Kalau hanya di gereja tidak cukup. Karena ada yang tidak datang ke gereja. Saya juga kasih informasi ke gereja-gereja yang lain. Kalau ada acara orang meninggal, musyawarah di distrik atau ketemu warga  di mana saja, pasti saya kasih informasi tentang kesehatan,” kata Andina yang sore itu, ketika akan diwawancarai, kami perlu menunggu  tiga jam. Andina sedang menghadiri acara kremasi di Wame.

Tidak segan pula Andina turun berjalan kaki ke Puskesmas Asologaima mendampingi ibu hamil atau balita yang  sakit. “Ibu Andina salah satu tokoh agama yang rajin menemani pasien ke sini,” kata Regina Tabuni, bidan di Puskesmas Asologaima.

Menjadi Contoh

Mengapa Andina mau melakukan semua pekerjaan di atas padahal ia tidak dibayar? Alasan Andina sederhana: sebagai Pewarta ia harus memberi contoh kepada masyarakat.

“Saya sering juga merasa lelah. Kepanasan, kedinginan, merasa lapar, tetapi kalau saya diam saja siapa yang menolong mereka? Bahkan kalau ada penderita HIV yang kondisinya sudah kurus sekali dan susah bergerak, saya pakai uang pribadi untuk antar dia ke shelter di Wamena,” kata Andina.

 Pada akhirnya Andina merasa, kalau semua yang ia khotbahkan pada hari minggu jika tidak terwujud dalam perbuatannya, ia merasa semua itu sia-sia belaka.

“Yesus dulu keliling mengajar jalan kaki. Dia juga tidak punya uang ,” kata Andina tertawa. (Lex)

2 thoughts on “Andina Lengka, Pewarta Menjadi Kader Kesehatan

Tinggalkan Balasan ke Veronika Batalkan balasan