Transplantasi Jantung

KALAU kita memperhatikan Kamus Ungkapan Bahasa Indo­nesia karangan J.S. Badudu, nyatalah bahwa kata ”hati” sangat menonjol dalam ungkapan bahasa kita. Ada 78 buah ung­kapan yang menggunakan kata ”hati”, misalnya, buah hati, jatuh hati, patah hati, suka hati, sakit hati, panas hati, mengambil hati, makan hati, dan sebagainya.

Tidak heran, karena hati dianggap sebagai pusat perasaan. Da­lam hal ini, sebenarnya ada sedikit kekeliruan. Kata ”hati” dikacaukan orang dengan kata ”jantung”. Yang orang maksudkan sebenarnya adalah jantung. Sebab, jantunglah yang sebenarnya menjadi pusat perasaan. Segala perasaan yang timbul, memberi suatu akibat kepa­da jantung. Orang takut, jantung berkerut. Orang gembira, jantung melega. Orang terkejut, jantung ciut. Orang berpacaran, jantung berdebaran. Dari situlah timbul ungkapan romantis “jantung hati”ku.

Jantung memang adalah pusat hidup. Karena itu pengobatan jantung ditingkatkan. Dahulu jantung tidak dapat dioperasi, seka­rang dapat. Bahkan, jantung dapat dipindahkan, dicangkok, ditrans­plantasi. Penderita jantung dapat diberi jantung baru yang dipindah­kan dari tubuh orang lain.

Transplantasi seperti itu terjadi untuk pertama kalinya di Afrika Selatan pada tahun 60-an. Ada orang yang baru meninggal dunia, tetapi jantungnya masih dapat berfungsi dengan baik. Lalu, jantung­nya itu dicangkokkan kepada seorang pasien jantung yang gawat. Ternyata, transplantasi yang historis itu berhasil baik. Pasien itu bisa hidup terus berkat jantung pemberian orang lain.

Ketika peristiwa itu terjadi, setiap hari saya mengikuti reportase sebuah stasiun televisi di Nederland. Kemajuan kesehatan sang pa­sien dengan jantung baru itu dilaporkan setiap hari. Tentu saja, di­tonjolkan juga sang dokter, yaitu Chris Barnard.

Lalu, pada suatu reportase disiarkan sesuatu yang betul-betul di luar dugaan. Di situ disiarkan wawancara dengan istri dan ibu dari orang meninggal yang jantungnya diambil. Istri dan ibu dari sang donor jantung itu tampak duduk dengan kepala tertunduk dan me­nangis terisak-isak.

Itulah yang terjadi di belakang layar suksesnya transplantasi jan­tung. Di balik kegembiraan pasien yang tertolong, ada pihak yang berkorban.

Sebenarnya, itulah juga yang terjadi di balik layar peristiwa Na­tal. Allah menjadi donor. Allah memberi jantung-Nya kepada manusia. Transplantasi jantung dari Allah ke manusia. Allah memberi jantung hati-Nya, yakni putra-Nya yang tunggal. Untuk apa? Yohanes 3:16 berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Natal adalah transplantasi jantung dari Allah untuk manusia. Jantung Allah ditransplantasikan pada manusia.

Manusia adalah buah hati dan sunting hati Allah. Oleh sebab itu, tak sampai hati Allah melihat manusia binasa. Lalu Allah mem­bulatkan hati-Nya dan membuka hati-Nya pada manusia. Maka Allah memberi jantung hati-Nya. Maka terjadilah Natal.

Di balik Natal itu niat hati Allah adalah agar manusia tidak lagi berhati batu terhadap sesama. Allah menghendaki kehidupan di bumi menjadi bak gajah sama dilapah dan hati tungau sama dicecah. Natal membuka zaman baru di mana manusia bisa terbebas dari makan hati berulam jantung.

Lalu apa yang terjadi sesudah Natal? Masakan kelurusan hati Allah ditanggapi dengan beku hati? Tersayat hati Allah jika itu terjadi. Sampai hatikah kita melihat hati Allah teriris dengan sembilu? Pada­hal terhadap kita Allah begitu lekat hati dan terpaut hati.

p

Tinggalkan Balasan