Malaikat Pembawa Berita

KALAU Anda mendengar kata malaikat, apa yang terbayang dalam pikiran Anda? Dalam pikiran saya, yang langsung terbayang adalah nona-nona cantik, lemah gemulai, ber-long dress putih. Apa yang mereka perbuat? Menyanyi dan menari. Itulah aso­siasi saya tentang malaikat. Sayang, ternyata itu keliru.

Jika Alkitab berkisah tentang malaikat, sering kali jenis kelaminnya tidak disebutkan. Kalau disebutkan, yang ada adalah nama laki-laki. Misalnya Mikhael (Dan. 10:13; Why. 12:7), atau Gabriel (Dan. 8:16; Luk. 1:19, 26). Kemudian tiga malaikat yang datang kepada Abraham dicatat dengan sebutan “tiga orang lelaki” (Kej. 18:2).

Tugasnya pun ternyata bukan menyanyi dan menari. Alkitab menunjukkan bahwa tugas malaikat adalah menjadi pesuruh Allah. Mereka ibarat kurir yang disuruh Allah memberitahukan sesuatu ke­pada manusia. Itulah yang mereka perbuat ketika mereka diutus menjumpai Abraham, Hagar, Lot, Yakub, dan sebagainya. Dalam rangka kisah Natal, malaikat pun melakukan tugas membawa berita kepada Zakharia, Yusuf, Maria dan para gembala.

Itulah juga yang terjadi ketika malaikat menyanyikan pujian Natal yang tertulis di Lukas 2:14.

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Nyanyian itu sebenarnya merupakan suatu pemberitahuan atau pernyataan. Ketika itu malaikat baru saja menyampaikan berita kela­hiran Yesus. Dengan nyanyian ini malaikat hendak menyatakan bahwa kelahiran Yesus itu menimbulkan dampak.

Ada dua dampaknya.

Dampak pertama adalah bahwa kemuliaan Allah menjadi nyata. Dengan kelahiran Yesus, maka kemuliaan Allah telah ditampakkan. Kemuliaan Allah berarti kuasa dan kasih-Nya. Dengan kedatangan Yesus, dimulailah suatu zaman baru di mana tanda-tanda kuasa dan kasih Allah ditampakkan dalam dunia.

Dampak kedua adalah bahwa damai sejahtera dimungkinkan ada di antara manusia. Dengan kelahiran Yesus, dimulailah suatu zaman baru di mana hubungan antara Allah dan manusia dipulihkan, sehingga manusia dapat berhubungan dengan Allah seperti anak dengan ayah; demikian pula dengan manusia lain sebagai saudara dalam hubungan damai sejahtera.

Rupanya nyanyian pernyataan ini merupakan puncak dari pelak­sanaan tugas malaikat sebagai pembawa berita Allah. Setelah keja­dian ini, Alkitab mencatat bahwa sekali-sekali malaikat masih tampil menyampaikan berita dari Allah. Namun penampilan itu makin lama makin jarang.

Apa sebabnya sekarang malaikat tidak tampil lagi? Karena tugas malaikat – sebagai pembawa berita Allah – dialihkan kepada gereja. Sekarang gerejalah yang bertugas menjadi pesuruh dan pembawa berita Allah.

Gereja bertugas memberitakan dan mewujudkan bahwa de­ngan kelahiran Yesus dimulailah kehidupan di mana kemuliaan Allah dan damai sejahtera manusia ditampakkan.

Kalau sekarang gereja menggantikan fungsi malaikat, sepatut­nya gereja juga tahu diri bahwa perannya tidak lebih dari sekadar pembawa berita. Malaikat tidak mempunyai arti dalam dirinya sen­diri. Malaikat bukan subjek yang bertindak sendiri dan yang menarik perhatian kepada dirinya sendiri.

Itu pula yang terjadi pada peristiwa Natal. Malaikat tidak berdiri di tengah panggung sambil menarik perhatian dan menyita adegan. Pusat adegan bukanlah malaikat, melainkan Yesus.

Karena itu sungguh tidak lucu kalau sekarang ada orang me­ngaku sebagai pembawa berita Allah, namun dalam prakteknya ber­main sebagai pusat adegan dengan terus berdiri di tengah pang­gung dan berteriak-teriak meminta perhatian orang kepada dirinya.

 

Tinggalkan Balasan