Kunjungan Incognito Allah

ADA BANYAK kisah tentang Raja Harun Al Rasid. Syahdan, raja itu terkenal karena sering menyamar sebagai rakyat jelata. Kadang-kadang baginda menyamar sebagai penjual martabak. Per­nah pula sebagai seorang pengemis tua di pinggir jalan.

Itulah yang disebut incognito. Menanggalkan segala keagungan, lalu menyamar sebagai orang yang tidak dikenal. Ber-incognito atau secara diam-diam menempatkan diri di tempat orang lain adalah cara yang paling kena untuk menyelami dan merasakan kenyataan yang sesungguhnya.

Natal adalah suatu perbuatan incognito. Allah menyamar men­jadi manusia. Allah lahir sebagai seorang bayi, tinggal, dan bekerja selama kira-kira 33 tahun sebagai seorang manusia biasa. Selama 33 tahun itu Allah merasakan kenyataan hidup manusia. Allah merasa­kan apa itu yang namanya lapar, sedih, dihina, disingkirkan, difitnah, dikambinghitamkan, dikhianati, ditahan, disakiti dan akhirnya disalib­kan. Di Filipi 2:5-7 ditulis:

“… Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah,

tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu

sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan

telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil

rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

 

Natal adalah Allah ber-incognito menjadi manusia, sebagai iti­kad solidaritas Allah dengan penderitaan dan pengharapan manusia.

Mengapa Allah datang secara incognito dalam bentuk seorang bayi di Betlehem? Mengapa Allah tidak langsung saja datang seba­gai Allah dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya?

Ah, Anda tahu sendiri. Kalau pembesar datang sebagai pembe­sar, segala sesuatu disulap oleh protokol. Jalan berlubang cepat-cepat diaspal mulus, halaman kotor mendadak jadi bersih, gubuk-gubuk reyot disingkirkan dan murid-murid sekolah dibariskan di sepanjang jalan untuk melambai-lambai. Pendeknya, semua bisa diatur, bukan?

Tetapi, Allah sengaja datang secara incognito sebagai manusia untuk melihat dan merasakan sendiri kenyataan hidup yang sesung­guhnya.

Yesus yang adalah raja dan pemegang kuasa mau merendah menjadi manusia biasa. Aneh juga kalau kita yang adalah manusia biasa malah bertindak sebaliknya: mau jadi raja dan sok kuasa.

p

Tinggalkan Balasan