Hewan dalam Kisah Natal

Anda mungkin berpikir, apa pula ini? Apa hubungan kelahir­an Yesus dengan hewan? Ah, harap Anda jangan gusar lebih dulu. Baiklah kita lihat apa yang dikatakan Alkitab dari permula­annya.

Dari awal mulanya Allah menghendaki agar manusia mempu­nyai hubungan serasi dengan dunia hewan. Di Kejadian 1:26 ditulis: ”Berfirmanlah Allah, ’Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gam­bar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’”

Itu berarti bahwa manusia ditugaskan menguasai hewan dalam kedudukannya sebagai gambar Allah, sehingga kehendak Allahlah yang harus menjadi kriteria sikap manusia terhadap hewan.

Menguasai hewan mengandung arti menjaga kelangsungan hi­dup hewan sebagai tugas kelanjutan pekerjaan penciptaan Allah. Dalam rangka itulah, manusia dituntut untuk bersikap adil dan “ber­perikebinatangan” terhadap hewan. Silakan Anda membaca sendiri contoh-contoh peraturan terhadap hewan di Ulangan 22; 25 dan Imamat 25.

Allah menghendaki agar manusia sebagai gambar Allah mem­punyai hubungan serasi dengan hewan. Tetapi, hal itu diabaikan ma­nusia. Manusia cenderung hanya memanfaatkan hewan. Bahkan, ki­ni manusia masa bodoh terhadap bahaya punahnya rupa-rupa jenis hewan. Di negara kita dewasa ini, ratusan jenis hewan terancam pu­nah, seperti burung Maleo, burung Cendrawasih, gajah Sumatera, ba­dak Ujung Kulon, dan sebagainya. Manusia meremehkan hubungan dengan dunia hewan, dan dengan demikian manusia telah alpa akan peranannya sebagai gambar Allah.

Sikap itu dipulihkan oleh Yesus yang adalah gambar Allah yang utama. Ketika Yesus akan memulai pekerjaan-Nya, selama 40 hari ia berada di antara binatang-binatang liar (Mrk. 1:13). Bagi umat Israel, binatang liar adalah lambang perseteruan. Keberadaan Yesus di an­tara binatang-binatang liar itu menjadi tanda bahwa zaman perse­teruan diganti dengan zaman perdamaian.

Sebab itu, dampak dari kedatangan Raja Damai menurut nu­buat Yesaya 11:6-8 adalah:

Serigala akan tinggal bersama domba

dan macan tutul akan berbaring di samping kambing.

Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama,

dan seorang anak kecil akan menggiringnya.

Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput

dan anaknya akan sama-sama berbaring,

sedang singa akan makan jerami seperti lembu.

Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung

dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya

ke sarang ular beludak.

Menurut nubuat itu, Raja Damai membuat keserasian hubung­an antara manusia dengan dunia hewan.

Kadang-kadang ada kartu Natal yang secara langsung memper­lihatkan makna itu. Tentunya Anda pernah melihat gambar sema­cam itu. Palungan Yesus, Maria dan Yusuf. Beberapa orang gembala. Seekor keledai sedang mengunyah rumput kering. Beberapa ekor domba. Seolah-olah keledai dan domba-domba itu mewakili seluruh dunia hewan dan menunjukkan bahwa kehidupan Yesus dimulai juga di tengah dunia hewan.

Gambar semacam itu pun melambangkan apa yang Allah ke­hendaki dengan kedatangan Raja Damai, yaitu pulihnya hubungan, bukan hanya hubungan manusia dengan Allah atau hubungan ma­nusia dengan manusia, melainkan juga hubungan manusia dengan dunia hewan dan lingkungan hidupnya.

p

 

Tinggalkan Balasan