Andaikata Yesus Jadi Gubernur DKI

PAGI TADI sejumlah wartawan ibukota menunggu kedatangan gubernur di tangga Balai Kota. Seturunnya dari mobil Mercy hitam, gubernur segera dikerumuni para wartawan yang mengucap­kan selamat berkenaan dengan ulang tahunnya pada hari ini. Dengan cepat pula para wartawan mengajukan pertanyaan kepada gubernur yang tampaknya sudah tergesa-gesa ingin masuk.

Wartawan kami merekam tanya jawab antara wartawan (W) dengan gubernur (G) sebagai berikut:

W :   Pak Gub, kemarin malam semua Gereja di Jakarta merayakan ulang tahun Bapak. Bagaimana perasaan Bapak?

G  :   Biasa saja.

W :   Gereja-gereja mana saja yang kemarin malam Bapak kunjungi?

G  :   Satu pun tidak saya kunjungi. Kemarin malam saya di rumah saja.

W :   Lho, bukankah Bapak tamu VIP?

G  :   Saya tidak senang melihat mereka yang suka duduk di sofa yang empuk dan bagus di baris terdepan.

W :   Tapi Pak, mereka berdoa.

G  :   Mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang, padahal mereka menelan rumah janda-janda dan menggusur rumah orang lain seenaknya.

W :   Jadi, Bapak tidak setuju orang beribadah?

G  :   Saya tidak mengatakan begitu. Maksud saya, saya membenci segala kumpulan dan perayaan mereka. Jauhkan daripada saya keramaian koor mereka, dan lagu-lagu nyanyian jemaat mereka, tidak mau saya dengar. Yang penting biarlah keadilan bergu­lung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.

W :   Mengapa Bapak berkata begitu?

G  :   Sebab saya tahu, bahwa banyak perbuatan mereka yang ja­hat. Mereka menjadikan orang benar terjepit. Mereka mene­rima uang suap. Mereka mengesampingkan orang miskin di pintu pengadilan negeri. Mereka benci kepada yang memberi teguran di koran. Mereka menginjak-injak orang yang kedu­dukannya lemah dan mengambil pajak dengan cara memeras. Mereka rakus.

W :   Jadi, apa Bapak menganggap iman itu tidak berguna?

G  :   Maksud saya, iman harus disertai perbuatan. Jika iman itu ti­dak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.

W :   Apa Bapak setuju Natal dirayakan dengan pesta?

G  :   Asal saja semua sampah bekas pesta itu dibuang pada tem­patnya. Jakarta harus bersih.

W :   Ada gereja yang ber-Natal dengan anggaran lebih dari satu juta rupiah, padahal ….

G  :   Peduli amat, itu uang mereka, asal saja uang halal, dan asal mereka ingat memberi kepada yang susah.

W :   Tapi itu ’kan mewah, Pak?

G  :   Ah, mengapa Saudara melihat selumbar di puncak Monas se­dangkan bis bertingkat di dalam mata Saudara tidak Saudara ketahui. Jangan Saudara menghakimi orang lain mewah, pada­hal Saudara sendiri sekarang memakai baju safari yang begini bagus.

W :   Apa Bapak setuju orang-orang merayakan ulang tahun Bapak dengan pohon terang?

G  :   Mengapa tidak? Asal saja jangan menebang pohon cemara. Pakai saja pohon plastik. Jakarta perlu dihijaukan, sebab itu janganlah pohon cemara dikorbankan untuk Natal.

W :   Menurut Bapak, kegiatan apa yang paling positif pada hari-hari Natal ini?

G  :   Ibadah yang murni di hadapan Allah ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. Memberi bingkisan Natal kepada yang lapar, yang sakit, yang di dalam penjara.

W :   Tapi itu untuk mereka, bukan untuk Bapak.

G  :   Segala sesuatu yang Saudara lakukan untuk salah seorang dari warga kota yang paling hina ini, Saudara telah melakukannya untuk saya.

W :   Tapi, kami – wartawan – tidak pernah menerima hadiah Natal, Pak.

G  :   Adalah lebih bahagia memberi daripada menerima.

W :   Pak, akhir-akhir ini Jakarta sering banjir. Apa ini tanda akan kiamat?

G  :   Ah, Saudara ini sok beragama. Apa hubungan banjir dengan kiamat? Banjir ini karena kita suka buang sampah sembarang­an, lalu sampah itu masuk ke got dan kali. Nah, got dan kali jadi dangkal. Akibatnya air meluap.

W :   Pak, bagaimana caranya supaya lalu lintas di Jakarta jangan macet?

G  :   Jangan ada yang naik mobil. Naik unta saja.

W :   Apa pendapat Bapak tentang …

G  :   Ah, sudah dulu. Marilah kita pergi ke tempat kerja kita masing-masing. Saya sekarang harus mendatangi beberapa kantor kelurahan, karena untuk itu saya telah datang.

Catatan:

Sebagian dari ucapan-ucapan tersebut di atas diangkat dari ayat-ayat Matius 23:6,7, 14; Amos 5:7-13; Yakobus 2:17; Matius 7:3; Yakobus 1:27; Matius 25:31-40; Kisah Para Rasul 20:36; Markus 1:38.

p

 

Tinggalkan Balasan