Yesus Tanpa Koper

Dewasa ini di dunia ada puluhan juta orang berstatus peng­ungsi, dan jumlahnya bertambah terus. Ketika pada tahun 1971 perang India – Pakistan berkecamuk, 10 juta orang mengungsi dari daerah-daerah tempat ajang pertempuran itu. Lebih dari 1,5 juta orang mengungsi dari Vietnam, Laos, dan Kamboja sejak tahun 1975. Sementara itu, menurut perhitungan kasar, ratusan ribu dari peng­ungsi-pengungsi itu tewas di laut dalam usaha nekad mereka untuk meninggalkan bahaya yang mengancam.

Itulah nasib pengungsi. Lari dari ancaman bahaya, tetapi tidak tahu pasti harus lari ke mana. Berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Kalau tanaman saja memerlukan tempat berakar, apalagi manusia. Manusia memerlukan tempat untuk berpijak. Apa jadinya jika tanaman sebentar-sebentar dipindahkan, baru saja ia mulai berakar, ia sudah disodok dan dicabut kembali.

Rasa ketidakpastian adalah penderitaan utama para pengungsi. Seolah-olah bumi ini tidak memberi tempat berpijak dan kesempatan berakar. Yang mereka butuhkan adalah perasaan diterima dan me­nerima, dimiliki dan memiliki sebuah negeri.

Ketika Yesus belum lagi berumur satu tahun, Ia pun sudah men­jadi pengungsi. Malaikat memerintahkan Yusuf, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia” (Mat. 2:13).

Sama seperti semua pengungsi, Yesus pun dipindahkan dalam suasana diburu-buru. Ayat 14 mencatat bahwa “… pada malam itu juga …” mereka mengungsi. Mereka menempuh jarak sejauh kira-kira dari Jakarta ke Yogyakarta – agaknya di atas keledai – melalui bukit-bukit Hebron, lalu berhari-hari melewati tepi Gurun Sinai.

Alkitab tidak memberikan keterangan di mana mereka tinggal selama di Mesir. Kemungkinan besar mereka tinggal di Alexandria, di mana banyak terdapat orang Yahudi. Bagaimana keadaan Yusuf dan Maria selama itu, tidak pula kita ketahui. Tetapi agaknya mereka dapat memanfaatkan emas, kemenyan, dan mur dari orang-orang majus sebagai modal hidup. Alkitab menunjukkan bahwa mereka tinggal tidak terlalu lama di Mesir. Mungkin tidak lebih dari satu tahun. Sebab seorang malaikat memberitahukan bahwa Herodes sudah mati.

Mereka pun pulang kembali dengan harapan-harapan yang baru. Tetapi, ketika mereka mendekati Betlehem, di sana sedang ter­jadi huru-hara. Rakyat sedang memberontak kepada Arkhelaus, pu­tra Herodes yang menjadi penggantinya. Kembali keselamatan Yesus terancam. Lalu kembali malaikat menyuruh mereka berangkat lagi ke tempat lain. Mereka berangkat ke arah utara, ke daerah Galilea, lalu menetap di kota Nazaret.

Namun, sebetulnya Yesus tidak menetap. Karena dalam melaku­kan pekerjaan-Nya di kemudian hari, Yesus selalu berpindah-pindah. Tidak pernah Ia tinggal lama di suatu tempat. Ketika Ia tinggal bebe­rapa hari di Kapernaum, Ia diminta untuk tinggal lebih lama dan me­nyembuhkan orang-orang. Tetapi Yesus menjawab, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (Mrk. 1:38).

Begitulah Yesus hampir tidak pernah menetap. Ia tidak pernah mengontrak sebuah rumah atau mencicil dari Perumnas, apalagi me­milikinya.

Ia berjalan terus. Ia berjalan seperti seorang pengungsi yang ha­nya berbekalkan pakaian di badan. Ia berjalan tanpa koper. Di Matius 8:20 Ia berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk mele­takkan kepala-Nya.”

p

Tinggalkan Balasan