Misteri Kelahiran Yesus

Membaca kisah Natal tidaklah semudah yang kita duga. Ka­lau kita membacanya mulai dari Matius 1:18, maka baru saja satu ayat yang kita baca, sudah timbul tanda tanya. Di situ ditulis, “Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.”

Lho, apa itu “mengandung dari Roh Kudus”? Sekarang ini dunia kedokteran mengenal bank sperma, inseminasi buatan homolog, inseminasi buatan heterolog, bayi tabung, dan sebagainya. Tetapi “mengandung dari Roh Kudus”, apa itu?

Barangsiapa yang mau mencari tahu lebih banyak tentang hal ini dari Alkitab, akan kecewa. Sebab, di seluruh Alkitab hal ini hanya ditulis di Matius 1 dan Lukas 1. Apa yang ditulis di situ pun bukan penjelasan. Alkitab tidak memberi uraian biologis tentang bagaimana caranya Maria menjadi hamil. Alkitab pun tidak menyampaikan cerita sensasi sebagaimana biasanya kita baca tentang hamilnya para dewi dalam cerita-cerita rakyat. Misalnya cerita rakyat Minahasa tentang Limimuut atau cerita rakyat Pasundan tentang Dayang Sumbi yang hamil secara sensasional.

Yang terdapat dalam Matius 1 dan Lukas 1 adalah pemberitaan bahwa Allah menjelma menjadi manusia, dan untuk maksud itu, Allah memakai seorang wanita biasa di Nazaret sebagai saluran pro­ses penjelmaan-Nya.

Bagaimana hal itu terlaksana, tidaklah dijelaskan kepada kita. Peristiwa penjelmaan Allah adalah suatu misteri. Mungkin itulah se­babnya Markus dan Yohanes sama sekali tidak menulis tentang kisah Natal dalam Injil mereka.

Kalau begitu, apa yang kita lakukan terhadap misteri ini? Suatu misteri yang tidak terpecahkan biasanya di-peti-es-kan atau ditutup-tutupi. Itukah yang kita perbuat terhadap misteri kelahiran Yesus? Bu­kan. Misteri itu telah dibakukan gereja dalam Pengakuan Iman Rasuli. Tiap hari Minggu Gereja mengikrarkan percayanya kepada Yesus: “… yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria ….”

Ucapan tersebut terdiri dari dua bagian.

Pertama, “yang dikandung daripada Roh Kudus”. Kalimat itu di­ambil dari Matius 1:18. Dengan kalimat itu, kita mengaku – walaupun dengan rasa heran – bahwa Yesus adalah Allah. Ia betul-betul Allah. Dalam diri bayi yang lahir di Betlehem itu, Allah sendiri yang datang.

Kedua, “lahir dari anak dara Maria”. Kalimat itu diambil dari Ma­tius 1:23. Dengan kalimat itu, kita mengaku – walaupun dengan rasa takjub – bahwa Yesus adalah manusia. Ia betul-betul manusia. Dalam bahasa Ibrani, ungkapan ‘lahir dari seorang perempuan’ (bnd. Ayb. 14:1) berarti manusia biasa. Dalam arti itu Galatia 4:4 menyebut Yesus “lahir dari seorang perempuan”.

Jadi, dengan kedua bagian kalimat tadi hendak dikatakan bahwa Yesus adalah benar-benar Allah dan juga benar-benar manu­sia. Apa manfaat pengakuan itu? Karena Yesus adalah Allah dan manusia, maka Ia dapat menjadi Penghubung dan Penyelamat kita.

Untunglah Yesus adalah Allah, sehingga dengan demikian Ia da­pat mengampuni dosa kita. Untunglah Yesus pun adalah manusia, sehingga dengan demikian Ia dapat menggantikan kita di kayu salib dalam menerima hukuman dosa.

Memang kisah ini adalah suatu misteri, namun misteri yang menggembirakan. Memang misteri ini tidak dapat kita pahami dan mengerti, tetapi syukurlah misteri ini dapat kita percayai dan kagumi.

p

Tinggalkan Balasan