Allah Menyertai Kita! Kita yang Mana?

Imanuel! Allah menyertai kita! Ah, warga gereja mana yang ti­dak mengetahuinya. Imanuel digunakan sebagai nama gereja, nama kelompok koor, nama sekolah, nama rumah sakit, nama toko buku, dan sebagainya. Bagus, ’kan?

Tetapi, di samping itu, Imanuel pun banyak disalahgunakan. Orang mengucapkan ‘Allah menyertai kita’, seolah-olah dengan ucap­an itu secara otomatis Allah akan menyertainya. Tidak banyak bedanya seperti tukang sulap yang mengucapkan ‘sim sim salabim’, lalu dari dalam topinya melompatlah sang kelinci.

Orang pun menyalahgunakan Imanuel sebagai semboyan untuk meyakinkan diri bahwa Allah berada di pihaknya. Atau untuk mem­benarkan perbuatannya. Para imam dan orang Farisi menghukum Yesus karena menganggap bahwa Yesus menghujat Allah, dan me­reka merasa Allah berada di pihak mereka. Para serdadu Perang Salib menyebutkan perang itu ‘Perang Suci’, karena menganggap bahwa Allah berada di pihak mereka. Pasukan Hitler juga beranggapan de­mikian. Mereka meneror orang Yahudi, padahal pada ikat pinggang pasukan tersebut tertulis ‘Gott mit Uns’, Allah menyertai kita. Apakah menurut Anda Allah berada di pihak yang meneror? Saya kira Allah lebih suka berada di pihak sang korban.

Ada bahaya bahwa ucapan ‘Allah menyertai kita’ digunakan hanya untuk memperlakukan Allah sebagai konco, alat atau sekutu. Dengan semboyan itu Allah diharapkan memihak, dan tentu saja diharap untuk berpihak kepada mereka.

Orang lupa bahwa Imanuel adalah sebuah nama. Nama sese­orang. Nama Yesus. Nama itu dikutip dalam Matius 1:23 dari nubuat Yesaya, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan mela­hirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel, – yang berarti: Allah menyertai kita.” Artinya, dengan kela­hiran Yesus, Allah sendiri yang datang kepada manusia, dan Allah datang untuk menyertai manusia.

Dalam pengertian itulah kita dapat mengatakan Allah menyertai kita. Hanya karena Yesus Kristus-lah Allah menyertai kita. Jadi, Allah menyertai kita, bukan karena kita berada di pihak yang benar. Nota bene, siapa sih yang benar? Melainkan, sekali lagi, Allah menyertai kita karena dan melalui diri Yesus. Sebab itu, dapatkah kita mengucap­kan ‘Allah menyertai kita’ bila dalam prakteknya kita hidup di luar jalan dan jejak Yesus Kristus?

Nama Imanuel itu pun mengandung suatu pernyataan. Dengan kedatangan Yesus, berakhirlah sudah zaman murka Allah, yaitu zaman Allah melawan kita dan zaman Allah tanpa kita. Dimulailah sebuah zaman baru di mana Allah menyertai kita dan Allah bersama kita.

Selanjutnya, nama Imanuel pun mengandung suatu janji ten­tang mutu penyertaan atau kebersamaan Allah. Dalam kehidupan manusia, kebersamaan sering sangat terbatas waktu dan mutunya. Orang hanya mau kebersamaan, sejauh itu masih berguna bagi ke­pentingannya. Kemarin gambarnya dipajang, hari ini ia diganyang. Hari ini kawan, besok menjadi lawan. Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang. Tidak ada kawan abadi, demikian pula ti­dak ada lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Begitu, bukan? Akan tetapi, nama Imanuel mengandung janji bahwa Allah selama-lamanya akan menyertai kita.

Imanuel! Allah beserta kita! O ya, tetapi siapakah yang dimak­sudkan dengan ‘kita’? Saya harap Anda tidak berkata bahwa ‘kita’ hanya berarti gereja kita, atau suku kita, atau bangsa kita, ataupun agama kita.

p

Tinggalkan Balasan