Raja Damai: Keadilan dan Kepastian Hukum

Hampir tiap hari di surat kabar kita membaca tentang dunia pengadilan di negara kita. Kadang-kadang berita cerah, ka-dang suram.
Sering kali berita-berita itu membuat kita menarik napas panjang. Seorang hakim tertangkap basah menerima uang suap. Kaum buruh pabrik A meminta bantuan LBH. Seorang narapidana ternyata terbukti tidak bersalah padahal ia sudah 6 tahun di penjara. Rakyat desa B yang tanahnya digusur mendatangi DPR. Seorang jaksa kedapatan memeras. Seorang tahanan kaliber kakap sering kelihatan bebas di luar. Seorang penggugat menembak hakim di ruang sidang. Seorang jaksa menembak mati pembela dan kliennya, lalu menembak mati dirinya sendiri.
Kita mengelus dada, quo vadis negara hukum kita. Benarkah KUHP sudah berganti arti dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana menjadi Kasih Uang Habis Perkara?
Di tengah krisis dunia pengadilan ini, baiklah kita membaca gambaran dan pengharapan mesianis tentang keadilan dan kepastian hukum sebagai suatu tanda Kerajaan Allah yang akan mulai ditam¬pakkan dalam diri Yesus Kristus selaku Raja Damai. Gambaran dan pengharapan itu ditulis di Yesaya 11:3-5 sebagai berikut:
Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menja¬tuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran;
Ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tong¬kat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik.
Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.
Bagaimana penjelasan ayat-ayat itu? Ah, ayat-ayat itu sudah sangat jelas. Saya tidak mempunyai penjelasan apa-apa lagi.
Yang ada pada saya hanyalah sebuah permintaan, kiranya tiap orang yang merayakan kelahiran Raja Damai pada hari-hari Natal ini, bersedia membaca apa yang ditulis di dalam Kitab Yesaya di atas sekali lagi.
Tetapi, saya mohon dengan hormat, sudilah Anda membaca dengan hati nurani. Ya, betul, dengan hati nurani.
p

Tinggalkan Balasan