Makna di Balik Nama

Di banyak kebudayaan Asia dan Afrika, orang memberi perha¬tian yang besar kepada penamaan anak. Dalam kebudayaan-kebudayaan itu, pemberian nama kepada anak adalah perbuatan yang sangat penting. Orang tua memilih nama yang mengandung arti yang baik untuk anaknya dan juga untuk mereka. Dalam memberi nama, orang tua mencurahkan segala pengharapan dan kerinduan mereka.

Itulah sebabnya banyak nama orang Asia dan Afrika mengan¬dung arti atau lambang yang dalam. Ini contoh dari beberapa negara. Dari Afrika Selatan: Xholisane = Pembawa Damai. Dari Nigeria: Lumba = Pujilah Tuhan. Dari Mesir: Syarif = Damai dan Bijak. Dari Korea: Dong Hi = Sinar Timur. Dari Tiongkok: Fung An = Angin yang men-datangkan kebaikan. Dari Tapanuli: Hasintongan = Kebenaran. Dari Nias: Sarofati = Keteguhan Iman. Dari Jawa Barat: Atikah = Didikan yang Baik. Dari Jawa Tengah: Sri Rejeki = Yang Mendatangkan Banyak Berkat.
Apakah latar belakang dari kebiasaan memberi nama yang mengandung arti? Latar belakangnya adalah keyakinan bahwa nama mengandung kuasa yang dapat mempengaruhi orang yang menyan¬dang nama itu. Memberi nama dianggap sebagai perbuatan magis yang menunjukkan kekuasaan dan kewibawaan pemberi nama itu. Sebab itu biasanya nama yang akan diberikan dimusyawarahkan dulu kepada para sesepuh dalam keluarga itu.
Pemikiran ini ada hubungannya dengan tata kehidupan masya¬rakat agraris yang memandang kehidupan manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari peristiwa-peristiwa alam, seperti hujan, banjir, paceklik, letusan gunung, dan sebagainya.
Dalam masyarakat agraris zaman dulu, kelahiran bukan terjadi di tengah peralatan medis, melainkan di tengah keluarga di rumah sendiri. Seluruh keluarga berhadapan dengan keajaiban kelahiran dan misteri kehidupan. Sang ibu bergumul dalam kesakitan bersalin di satu pihak dan harapan akan bergembira di lain pihak. Sang ayah berdiri terpaku sambil menahan napas. Sementara itu kaum kerabat lain berkomat-kamit mengucapkan doa.
Lalu tiba-tiba teriakan keras tangis bayi memecah kesunyian. Se¬mua orang terpesona, “Ya Allah, inilah keajaiban hidup. Ini adalah rahasia alam.”
Kemudian menyusullah upacara pemberian nama. Orang tua dan keluarga memilih nama yang melambangkan perasaan mereka pada saat itu atau yang melambangkan pengharapan serta doa restu mereka untuk hari depan anak itu. Dengan khidmat mereka meng¬ucapkan nama itu.
Ada suatu kisah dari abad I tentang sepasang suami-istri Yahudi di suatu kota kecil di Timur Tengah yang juga mengalami segala ke¬tegangan dan kegembiraan di sekitar kelahiran bayi mereka. Mereka pun memberi nama bayi mereka dengan khidmat sesuai dengan apa yang dipesan oleh seorang malaikat, “… hendaklah engkau menamai Dia Yesus” (Luk. 1:31).
Nama Yesus adalah bentuk Yunani dari nama Ibrani Yehoshua yang disingkat menjadi Yoshua atau Yeshua. Arti akar kata itu adalah “Yahwe menyelamatkan”.
Bayi itu diberi nama Yesus karena arti yang terdapat dalam na¬ma itu. Ada janji Allah yang terkandung dalam nama itu: Allah akan menyelamatkan. Nama bayi itu menjadi tumpuan harapan dan keya¬kinan kedua orang tua, bahwa Sang Bayi kelak akan menjadi pelak¬sana janji Allah. Ia akan menyelamatkan umat manusia.
Orang yang menyandang nama inilah yang menjadi pusat kabar gembira pada hari Natal: Yesus – Allah menyelamatkan.
p

Tinggalkan Balasan