H2O Telah Menjadi Air

Kata orang, masyarakat kita dikenal pandai berbasa-basi. Su-dah membudaya bagi kita untuk mengucapkan kata-kata sekadar sebagai formalitas.
Kalau pagi saya lewat di depan rumah tetangga, tak pelak lagi ia akan bertanya, “Ke kantor, Pak?” Jelas itu hanya basa-basi saja, sebab ia sudah tahu betul bahwa tiap pagi saya ke kantor. Petangnya, ia akan bertanya lagi, “Baru pulang, Pak?”
Pernah saya naik kereta api dari Kertosono ke Wonokromo. Di tiap stasiun kecil pun ia berhenti. Penumpang turun naik dari desa yang satu ke desa yang lain. Selama dua jam di kereta api itu puluh-an basa-basi saling diucapkan. Di seberang saya duduk seorang ibu. Ia membeli satu butir telur asin rebus. Telur itu pun lalu dikupasnya. Apa yang kemudian ia perbuat? Ketika telur itu sudah terkupas, ia menyodorkan telur itu kepada penumpang-penumpang lain yang duduk di seberang dan di sebelahnya sambil berkata, “Mari, makan telur, Mas.” Jelas hanya basa-basi, kan? Sebab bagaimana satu telur dapat dibagi antara lima orang penumpang?
Orang kota pun suka berbasa-basi. Ada tamu di depan pintu. Kita sedang sibuk. Pada saat itu kita tidak senang akan kedatangan tamu. Tetapi, ketika ia bertanya apa barangkali kita sedang sibuk, maka dengan senyum yang dibuat-buat kita menjawab, “Ah, tidak, mari silakan duduk.” Tamu itu mengobrol ke kanan ke kiri. Kita gelisah memikirkan kesibukan yang ditinggalkan. Kita ingin tamu itu cepat-cepat pergi. Tetapi, ketika tamu itu akhirnya mau pulang, maka dengan wajah yang pura-pura terkejut kita berkata, “Lho, kok cepat-cepat saja?”
Itulah kebudayaan basa-basi. Demi memaniskan suasana, mulut mengucapkan perkataan, walaupun hati bermaksud lain. Perkataan tidak sama dengan perbuatan. Pernyataan tidak sesuai dengan kenyataan.
Dalam ilmu kimia, air di sebut H2O. Tetapi, jika kita haus, kita tokh tidak akan mengambil sehelai kertas dengan tulisan H2O. Me¬mang H2O adalah air, tetapi ada perbedaan besar antara rumusan untuk air dengan air itu sendiri. Dalam hubungan antar-orang, kita sering ibarat saling memerlukan air. Namun, yang kita berikan ada¬lah H2O. Hanya perkataan kering saja. Hanya basa-basi. Atau, hanya janji.
Kalau manusia begitu, bagaimana halnya dengan Allah? Ternyata, berabad-abad lamanya dalam hal kedatangan Juruselamat, Allah ha¬nya berjanji. Tentang kedatangan Juruselamat, Allah berjanji dan ber¬firman. Dan semua firman adalah abstrak.
Tetapi semua itu tiba-tiba berubah pada peristiwa Natal. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya …” (Yoh. 1:14).
Artinya: segala perkataan Allah yang berabad-abad lamanya itu sekarang berubah menjadi kenyataan. Firman Allah yang abstrak telah menjadi sesosok tubuh yang konkrit.
Itulah yang sebenarnya terjadi pada kelahiran Yesus.
Perkataan telah menjadi sama dengan perbuatan. Yang semula tampak seperti basa-basi, kini telah direalisasi. H2O menjadi air. Janji telah digenapi.
p

Tinggalkan Balasan