Yesus dan Agustus

Ia adalah orang yang paling berkuasa di kekaisaran yang ter¬besar di dunia pada waktu Yesus dilahirkan. Silakan Anda membuka peta. Ia berkuasa atas wilayah yang sekarang ini meliputi Kaukasus di Rusia Selatan, Turki, Syria, Israel, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, Bulgaria, Yugoslavia, Itali, Spanyol, Perancis, Jerman, Belanda dan Inggris!

Ia disebut Kaisar Agustus. Nama sebenarnya adalah Gaius Julius Caesar Octavianus. Ia diangkat menjadi kaisar karena kakeknya, yakni Julius Caesar, tewas dalam pembunuhan di Roma pada tanggal 15 Maret tahun 44 sM.
Ketika itu umur Kaisar Agustus baru 18 tahun. Keadaan yang agak kacau pada saat itu memberi peluang kepada beberapa pihak untuk merebut kekuasaan. Pertempurannya yang paling hebat adalah melawan armada laut Antonius dan Cleopatra. Dan ia menang. Begi-tulah, mulai tanggal 2 September tahun 31 sM., ia berkuasa penuh. Mulailah ia membenahi kekaisarannya yang luas dan jaya itu.
Sejarah mencatat dia sebagai kaisar Roma yang terbesar. Ia me-mang berprestasi besar. Ia menciptakan administrasi pemerintahan yang tertib hukum. Ia memecat para pejabat yang korup. Ia memba¬ngun perekonomian. Ia membangun jaringan jalan raya dan pos.
Atas prestasinya itu, sidang Senat memberi gelar Agustus kepa-danya. Agustus (dari kata augere) berarti penambah atau pelipat ganda, dalam hal ini penambah kemakmuran.
Kemudian rakyat pun memberi rupa-rupa gelar kepadanya, se¬perti Bapak Tanah Air, Orang Romawi yang Ilahi, dan beberapa yang lainnya. Salah satu gelar yang kemudian diterimanya adalah Juru¬selamat. Gelar itu terdapat pada suatu prasasti di Helicarnassus.
Suatu masalah yang dihadapinya adalah masalah kependudukan. Bukan kebanyakan penduduk, melainkan sebaliknya, yaitu kekurang¬an. Ia menganjurkan orang Romawi untuk mempunyai banyak anak. Ia membuat peraturan bahwa orang Romawi yang mempunyai tiga orang anak atau lebih dibebaskan dari pajak.
Dalam rangka menata masalah kependudukan tersebut, pada suatu hari, dari belakang meja tulisnya di Roma, ia mengeluarkan pe¬rintah mengadakan sensus penduduk di seluruh wilayah, yang menurut istilah Lukas 2:1 adalah “di seluruh dunia”, maksudnya di seluruh kekaisaran Roma.
Karena perintah sensus itulah, maka berangkatlah seorang Yusuf dan seorang Maria dari Nazaret ke Betlehem.
Tanpa disadari, Kaisar Agustus telah menjadi alat rencana Allah, supaya terlaksanalah nubuat di Mikha 5:1, “Tetapi engkau, hai Betle¬hem Efrata, … dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel ….” Ya, di Betlehem-lah lahir Mesias yang dinanti¬kan.
Lukas mengawali kisah Natal dengan kalimat, “Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah …” (2:1). Dengan demiki¬an, Lukas seolah-olah hendak berkata: “Pada zaman dunia diperintah oleh seorang juruselamat yang bernama Agustus, telah lahir Juruse¬lamat yang bernama Yesus, juruselamat yang sesungguhnya.”
Baik Agustus maupun Yesus meninggalkan babak sejarah atau zaman yang berbekas hingga kini. Agustus menyelesaikan sebuah zaman, sedangkan Yesus mengawali sebuah zaman.
Zaman yang diselesaikan oleh Agustus adalah zaman keemasan. Selama 57 tahun (atau 45 tahun jika dihitung dari perang Cleopatra) memerintah, Agustus tidak memperkaya diri, melainkan memperkaya negara. Ia memperkaya ilmu pengetahuan dan perbukuan. Ia mener-bitkan ulang buku-buku berusia ratusan tahun, sehingga sekarang kita bisa membaca buku filsafat pendidikan Sokrates, Plato, dan Aristoteles yang mendasari teori Pendidikan Agama Kristen.
Sebaliknya, Yesus mengawali sebuah zaman, yaitu zaman di mana orang bisa hidup dengan lemah lembut, dengan lapar dan haus akan kebenaran, dengan murah hati, dengan suci hati, dengan membawa damai, dengan bersikap miskin di hadapan Allah, dan tabah ketika dijahati oleh sebab kebenaran. Zaman yang diawali oleh Yesus ini berlangsung terus ”selama bumi didiami dan selama orang berba¬hasa” (lih. KJ no. 298).
p

Tinggalkan Balasan