Pembangunan Jalan Trans di Papua Jangan Mengejar Target

Jayapura, bintangpapua.coDosen Program Studi Geografi Universitas Cendrawasih (Uncen) Papua, Eka Kristina Yeimo, S.Pd, M.Si menyatakan, pembangunan jalan trans -Papua jangan sekadar mengejar target dan mengabaikan kualitas.

Eka khawatir, pembangunan yang dikebut supaya cepat selesai telah mengabaikan kondisi topografi dan iklim di Papua yang tanahnya berada di kemiringan dan mudah runtuh. Sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal atau di bawah standar.

“Pembangunan jalan  harus ditimbang bagaiman iklim, topografi, air dan tanah di suatu daerah. Faktor-faktor  ini sangat menentukan kualitas pembangunan jalan. Karena Papua ini daerah pegunungan, tebing, lereng dan rawa-rawa. Perlu dilakukan analisis Amdal dan studi kelayakan yang bagus,” kata Yeimo, Kamis, (21/12/) di  Abepura.

Studi kelayakan yang tidak memadai inilah menurut dia yang telah menghambat pembangunan di lapangan. “Saya kasih contoh jalan trans  di daerah Puncak Jaya menuju Ilaga. Semenjak saya masih kelas lima SD 20 tahun lalu sampai sekarangm belum layak pakai. Karena sudah rusak di mana-mana akibat digerus air atau longsor. Jadi mereka asal bangun saja. Asal kejar target saja.”

Dia memberi contoh jalan-jalan yang dibangun Belanda zaman dahulu, yang masih tetap bisa dipakai saat ini. “Karena mereka betul-betul pelajari kondisi topografi dan tanahnya. Teknik orang Belanda ini yang harus ditiru karena bisa bertahan sampai sekarang,” ujarnya.

Marta Dogomo yang selalu melewati jalan trans antara Nabire-Dogiyai, mengatakan di kilometer 100 sampai kilometer 340 yang terletak antara  Distrik Siriwo dan  Kabupaten Dogiyai ada beberapa ruas jalan yang rusak total,  padahal baru saja dibangun. Menurutnya, jalan itu longsor akibat digerus banjir. (Alexander Gobai)

Tinggalkan Balasan