Palungan sebagai Tanda Tiada Tempat

A. Versi Tradisi Kita

Kalau boleh saya bertanya, di mana Anda dilahirkan dulu? Mak­sud saya, bukan di kota apa. Melainkan, di tempat apa? Apakah di suatu rumah sakit bersalin? Kebanyakan anak di Indonesia dilahirkan bukan di rumah sakit bersalin, tetapi di rumah tinggalnya sendiri. Ke­banyakan penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan dan me­nurut kelaziman masyarakat desa, kelahiran terjadi di rumah tinggal sendiri.

Tetapi baiklah, bukan itu persoalan kita. Baik Anda dilahirkan di rumah sakit bersalin ataupun di rumah tinggal sendiri, Anda tokh lahir di atas ranjang, bukan? Agaknya semua orang dilahirkan di atas ranjang. Ranjang adalah tempat pertama yang didarati manusia seti­banya di dunia. Itu memang tempat yang sewajarnya.

Namun, tidak semua kelahiran terjadi di tempat yang wajar. Ada kelahiran yang terjadi di kereta api dalam perjalanan dari Semarang ke Surabaya. Ada pula kelahiran yang terjadi di atas perahu pengungsi yang sedang dipermainkan ombak laut. Ada pula kelahiran yang ter­jadi dalam lubang persembunyian di tengah dentuman meriam.

Kelahiran Yesus pun terjadi di tempat yang tidak begitu wajar. Ia dilahirkan di sebuah rumah persinggahan. Di Israel pada zaman itu, sebuah rumah persinggahan terdiri dari dua bagian, yaitu bagian un­tuk para tamu dan bagian untuk hewan, alat transportasi mereka. Nah, di bagian tempat hewan itulah Yesus dilahirkan. Lalu Ia diba­ringkan di dalam sebuah palungan.

Pernahkah Anda berada di dekat suatu palungan? Bukan palung­an yang ada di panggung sandiwara Natal atau di depan mimbar gereja. Bukan, sebab palungan itu cuma tiruan, dan palungan itu belum pernah digunakan. Yang saya tanyakan adalah palungan yang sesungguhnya. Yakni tempat makanan lembu.

Kalau Anda pernah berada di dekat sebuah palungan, barulah Anda mengetahui kenyataannya. Palungan adalah tempat makanan lembu. Yang terdapat di dalamnya adalah sisa-sisa dedak bercampur rumput. Becek. Kotor. Bau. Berlalat. Maklumlah, lembu tidak menge­nal WC. Di situ ia makan, di situ pula ia membuang kotoran.

Sekarang, silakan Anda membayangkan sendiri. Siapa yang ingin berbaring di tempat semacam itu? Ibu mana pula yang ingin mela­hirkan di tempat itu dan ingin meletakkan bayi kesayangannya di tem­pat seperti itu, kalau bukan karena sangat terpaksa? Yusuf dan Maria melakukan hal itu pun karena terpaksa. Alkitab mengatakan, “… ka­rena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk. 2:7). Di tempat yang wajar, tidak tersedia tempat bagi Yesus.

Malaikat mengabarkan kepada para gembala bahwa Yesus sudah dilahirkan di kota Daud. Tetapi, di manakah bayi itu dapat ditemukan? Karena itu malaikat itu pun memberi sebuah tanda. Mereka berkata, “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk. 2:12).

Itulah tanda atau cirinya: terbaring di dalam palungan. Sebuah tanda yang aneh. Tanda ketidakwajaran. Tanda ketersisihan dari tem­pat yang wajar.

Rupanya, palungan sebagai tanda ketersisihan itu mengisyaratkan solidaritas Yesus dengan mereka yang terpaksa lahir atau bertempat tinggal di tempat-tempat yang tidak wajar, di gubuk-gubuk perkam­pungan kota yang miskin atau di pondok-pondok reyot di desa-desa.

Palungan sebagai tanda ketersisihan itu pun menunjukkan soli­daritas Yesus dengan mereka yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat. Sepanjang hidup-Nya Yesus menunjukkan hal itu. Ia solider dengan orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, misalnya karena faktor status sosialnya (pemungut cukai, perempuan pelacur), atau karena faktor kedudukan ekonominya (nelayan), atau karena faktor jasmaninya (orang lumpuh, orang buta, orang kusta), atau karena faktor suku bangsa dan keturunannya (orang-orang Samaria).

Tanda yang diberikan para malaikat untuk menemukan Yesus adalah “… terbaring di dalam palungan”. Suatu tanda ketersisihan. Tanda bahwa Ia tidak mendapat tempat.

B. Versi Tradisi Timur Tengah

Menurut cerita di atas, Yesus dilahirkan di sebuah kandang ”ka­rena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk. 2:7). Itulah tradisi cerita yang kita peroleh dari gereja di Eropa. Bahkan ada buku, sandiwara, atau film yang mendramatisasi cerita itu secara sentimental. Di situ diperlihatkan bahwa Yusuf dan Maria ditolak dan diusir dari rumah penginapan, sehingga mereka terhuyung-huyung berjalan terus. Akhirnya mereka menemukan sebuah kandang. Di situlah Bunda Maria melahirkan tanpa pertolongan dari siapa pun, kecuali Yusuf.

Umat Kristen di Palestina, Siria, Lebanon, Mesir, Irak dan bebera­pa negara Timur Tengah lain akan merasa heran mendengar cerita itu. Mereka bertanya ”Rumah penginapan? Rumah penginapan apa? Dari mana asal cerita itu?”

Persoalannya terletak pada terjemahan Lukas 2:7. Mengikuti kela­ziman tradisi, Alkitab kita menggunakan istilah rumah penginapan sebagai terjemahan kataluma dalam Alkitab Yunani.

Apakah kataluma berarti rumah penginapan? Sebenarnya bukan. Kata Yunani untuk rumah penginapan adalah pandocheion. Lukas menggunakan istilah itu dalam cerita tentang Orang Samaria yang Baik Hati, yakni ”… egagen auton eis pandocheion” (Luk. 10:34).

Kalau begitu, apa arti kataluma? Dalam kitab Injil yang sama, Lukas memakai kata itu ketika bercerita tentang Perjamuan Malam, yaitu, ”… mou estin to kataluma” (Luk. 22:11). Kataluma berarti ruangan tamu dalam sebuah rumah. Dalam arti yang serupa, Markus memakai kataluma (lih. Mrk. 14:14).

Untuk memahami duduk persoalan, perlu diketahui bahwa ru­mah di pedalaman Palestina pada zaman itu terdiri dari ruangan de­pan tempat tamu dan ruangan tengah yang serbaguna, yaitu untuk masak, makan, duduk, dan tidur. Ruangan tengah ini biasanya terbagi atas dua lantai dengan perbedaan ketinggian lantai sekitar satu meter. Pada malam hari, lantai bawah digunakan sebagai kandang ternak. Di situ ada beberapa palungan. Penduduk desa Timur Tengah pada zaman itu sama sekali tidak merasa jijik untuk tidur dalam satu ruangan dengan ternak mereka.

Agaknya Lukas bermaksud bahwa ruangan depan dan ruangan tengah sudah penuh dengan tamu lain yang menginap, sehingga Maria dan Yusuf tidur di lantai bawah bersebelahan dengan sejumlah ternak.

Versi tradisi Timur Tengah ini membuat kita lebih cermat mem­baca cerita Lukas.

Menurut Lukas 2:4, Yusuf ”berasal dari keluarga dan keturunan Daud” yang banyak tinggal di Betlehem. Oleh sebab itu, agaknya Yusuf mempunyai kerabat atau keluarga jauh di situ. Mengikuti kela­ziman adat, Yusuf dan Maria tentunya menginap di rumah keluarga itu.

Menurut kalimat ”Enegeto de en to einai autous ekei …” (Luk. 2:6), agaknya Yusuf dan Maria sudah beberapa hari berada di rumah itu, namun sejumlah tamu lain sudah terlebih dulu tiba sehingga kataluma, yaitu ruangan tamu atau lantai atas, sudah penuh.

Pada waktu Bunda Maria melahirkan, agaknya semua orang di ruangan depan dan ruangan tengah itu terbangun. Pastilah sejumlah ibu yang ada di situ menolong proses kelahiran Yesus.

Mungkin versi tradisi Timur Tengah yang bukan mengartikan kataluma sebagai rumah penginapan melainkan sebagai lantai atas ruangan depan dan tengah, lebih mendekati kebenaran, sebab susah dibayangkan bahwa kota sekecil Betlehem mempunyai rumah peng­inapan. Pada zaman itu rumah penginapan terdapat di kota yang le­bih besar seperti Kapernaum atau Yerikho. Padahal Betlehem hanya sebuah desa berpenduduk beberapa ratus orang saja.

Lagi pula, jika memang Lukas memaksudkan rumah penginapan, tentunya ia akan memakai istilah pandocheion sebagaimana diguna­kannya dalam Lukas 10:34.

Mungkin kita bertanya, mengapa tradisi kita menerjemahkan kataluma menjadi rumah penginapan? Mungkin karena sejak abad ke-4 Alkitab bahasa Latin terjemahan Jerome memakai istilah diversario, yang berarti tempat menginap. Lalu lambat-laun orang mengartikan­nya sebagai rumah penginapan.

Jadi, ada dua versi cerita Natal yang berbeda akibat perbedaan terjemahan istilah kataluma dalam Lukas 2:7.

Walaupun berbeda, namun kedua versi itu sama dalam hal tem­pat kelahiran Yesus, yaitu di kandang ternak. Kedua versi itu juga sama-sama menceritakan bahwa bayi Yesus dibaringkan di dalam palungan. Kedua versi itu sama-sama memperlihatkan bahwa kelahiran Yesus bukan saja merupakan simbol kesahajaan, melainkan juga simbol ketersisihan dan ketiadaan tempat.

p

Tinggalkan Balasan