Schizofreni dalam Beragama?

SUBURNYA kehidupan beragama di negara kita tampak sangat mencolok pada hari-hari raya agama. Sungguh mengharukan dan menggetarkan kalbu melihat rumah-rumah ibadah dipenuhi oleh umat yang datang berduyun-duyun untuk menjalankan ibadah. Sering kali umat yang datang begitu melimpah sehingga mereka menjalankan ibadah di luar gedung, bahkan kadang-kadang di luar halaman.

Yang lebih menggetarkan hati adalah melihat kekhusyukan me­reka dalam beribadah. Mereka begitu bersungguh-sungguh. Mereka begitu khidmat. Mereka begitu saleh.

Pada hari-hari raya agama seperti itu kehidupan di negara kita terasa sangat tenteram dan baik.

Tetapi apa yang terjadi kalau hari-hari raya agama itu telah selesai? Apa yang terjadi ketika orang-orang yang khusyuk beribadah itu kembali ke tengah dunia pekerjaan dan kehidupan yang nyata? Dampak apa yang dibawa oleh mereka dari tempat ibadahnya ke tempat kerja dan hidupnya?

Itulah yang justru sering menimbulkan seribu tanda tanya besar. Orang-orang yang kemarin beribadah dengan begitu khidmat, pada hari ini ternyata telah kembali lagi kepada cara hidup yang kurang terpuji. Di jalan raya terjadi lagi serobotan dan kebut-kebutan. Di kantor terjadi lagi gaya kerja yang bermalas-malasan atau kolusi serta korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Di tempat niaga terjadi lagi penipuan dan pemerasan atau sikut-sikutan.

Kehidupan beragama memang berkembang subur, namun rupanya keberagamaan itu hanya berkembang dalam hal ritual, yaitu dalam hal melakukan upacara dan peraturan agama. Sementara itu dunia kerja dan hidup yang nyata belum tersentuh dan belum me­nikmati manfaat adanya agama.

Rupanya orang masih berorientasi vertikal, yaitu menganggap bahwa agama hanya mengurus perkara-perkara rohani antara se­orang pribadi manusia dengan Allah. Padahal, bukankah hubungan vertikal itu mempunyai bentuk nyatanya dalam hubungan horizontal, yaitu dalam hubungan antar-manusia?

Di dalam ilmu kedokteran jiwa dikenal gejala schizofreni, yaitu gejala keterpisahan otak di mana orang tidak mempunyai kesatuan berpikir, sehingga pikiran-pikiran yang saling berlawanan secara se­rentak menguasai pikiran orang itu. Apa yang diperbuatnya bukanlah apa yang diyakininya. Sungguh memprihatinkan bila keberagamaan kita menunjukkan gejala seperti itu. Dalam berhubungan dengan Tuhan kita bersikap suci, dalam berhubungan dengan orang lain kita mencuri atau mencaci.

Mana sebenarnya sumbangsih yang lebih utama dari agama untuk manusia: bila kita sibuk menjaga kemurnian ajaran agama ataukah bila kita sibuk menolong orang yang menderita? Mana yang lebih berkenan di hadapan Tuhan bila kita menyeru-nyerukan ke­agungan Tuhan ataukah bila kita memelihara alam ciptaan Tuhan?

Sekali lagi, kita patut bersyukur bahwa di mana-mana tampak kebangkitan kehidupan beragama. Namun kita semua akan lebih bersyukur jika tiap umat beragama dapat menerjemahkan keagama­annya dalam sikap dan perbuatan yang mendatangkan manfaat bagi umat manusia.

Sebab apa gunanya orang beragama kalau keberagamaan itu ternyata tidak membawa manfaat bagi kesejahteraan sesama ma­nusia? Lebih tajam lagi, apa gunanya beragama kalau ternyata justru karena beragama, orang malah jadi membenci pemeluk agama yang lain? Apa faedahnya agama-agama, kalau justru gara-gara agama timbul bencana?

p

Tinggalkan Balasan