Dua Orang Maria

Nama                       : Carolina Maria

Umur                        : 30 tahun

Warganegara          : Brasil

Alamat                     : Tidak tetap

Agama                      : Kristen

Pekerjaan                 : Tidak tetap

Status                        : Sudah ditinggalkan suami

 

Begitulah yang akan tertulis di KTP-nya. Tetapi, mungkin ia tidak mempunyai KTP. Sebab Carolina Maria adalah seorang gelandangan.

Kedengarannya sedikit janggal. Seorang gelandangan miskin di tengah kemewahan pusat-pusat perbelanjaan ibukota Brasil.

Kalau tadi ditulis bahwa Carolina Maria tidak mempunyai peker­jaan, sebetulnya itu kurang tepat. Ia mempunyai pekerjaan, yaitu mengumpulkan kertas bekas. Tidak semua kertas itu dijualnya, yang masih bersih dan polos disimpannya.

Inilah keistimewaan Carolina Maria. Kertas itu dipakainya un­tuk menulis. Tiap hari ia menulis. Ia membuat semacam catatan harian. Ternyata ia mempunyai bakat mengarang.

Pada tahun 1962 ada sebuah penerbit yang mengumpulkan tulisan-tulisan itu dan menerbitkannya sebagai buku dengan judul Child of the Darkness.

Dalam buku itu ia menulis: “… Alangkah bagusnya. Aku menge­nakan rok satin putih sekali dengan perhiasan berkilauan di kepalaku. Tiba-tiba tikus got lari menyentuh kakiku. Aku terbangun. Ternyata aku sedang bermimpi. Pakaianku bukan satin putih, tetapi rok tambalan yang kotor. Dan di kepalaku bukan perhiasan, tetapi telur kutu ….”

Di bagian lain ia menulis: “… yang dibutuhkan Brasil adalah orang-orang yang pernah merasa lapar. Sekarang ini Brasil diperintah oleh orang-orang yang tidak pernah tahu apa artinya lapar ….”

Menurut Anda, apa yang menarik tentang Carolina Maria? Yang pasti namanya hampir sama dengan Maria di Betlehem.

Tetapi, bukan hanya itu. Di antara kedua orang Maria itu sedikit banyak terdapat persamaan keadaan dan persamaan pengharapan.

Maria Brasil hidup dalam masyarakat yang dikuasai tuan-tuan tanah. Maria Betlehem hidup dalam masyarakat yang dikuasai raja-raja boneka yang diangkat pemerintah Roma.

Maria Brasil terhisab dalam agama yang dominan di negerinya, tetapi yang sudah mapan, sehingga agama tidak menghasilkan per­ubahan apa-apa terhadap ketimpangan masyarakat. Maria Betlehem pun hidup dalam suasana beragama, tetapi agama hanya meng­hasilkan orang-orang saleh, namun mengabaikan keadilan dan belas kasihan (lih. Mat. 23:14, 23).

Oleh sebab itu, kedua orang Maria ini mempunyai kerinduan yang sama, yakni perombakan.

Dalam hal Maria Betlehem, kerinduan itu tampak dalam pujian-nya yang dimuat di Lukas 2:46-55. Dalam pujian itu Maria meng­agungkan Allah karena tindakan-Nya yang mau merombak keadaan hidup umat-Nya. Perombakan apa?

Perombakan sosial, sebab Allah memperhatikan orang yang ren­dah, dan melawan orang yang tinggi hati (ay. 48, 51).

Perombakan politik, sebab Allah menurunkan orang-orang yang memegang kekuasaan, dan meninggikan mereka yang menjadi kor­ban penyalahgunaan kekuasaan (ay. 52).

Perombakan ekonomi, sebab Allah melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan mengusir orang-orang yang kaya dengan tangan kosong (ay. 53).

Maria Carolina dan Maria Betlehem memimpikan suatu masya­rakat yang manusiawi, sebuah impian yang memandang jauh ke depan.

Ataukah Anda anggap bahwa impian mereka itu hanyalah impi­an muluk orang idealis saja?

p

Tinggalkan Balasan